Tampilkan postingan dengan label Mahabharata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahabharata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2019

BHISMA PEMIMPIN PASUKAN MELAWAN KHRISNA

Putra Gangga, Bhisma yang agung, demikian dia diberi gelar. Dia juga biasa disebut Dewabrata yang bermakna keturunan Bharata yang agung. Demi kebahagiaan ayahnya dia telah bersumpah tiga hal. Pertama, tidak akan menjadi Raja Hastina. Kedua, tidak akan menikah. Ketiga, akan selalu menjaga Kerajaan Hastina hingga akhir hayatnya. Karena pengorbanannya ini, Bhisma mendapatkan anugerah untuk menentukan kematiannya.

Dari sisi kesaktian, Arjuna yang memiliki banyak senjata sacral dan dipandu Khrisna sebagai kusirnya tidak mampu mengalahkannya, bahkan gurunya sendiri, Parasurama tidak mampu mengalahkannya. Dari sisi pemahaman agama, Yudistira yang dikenal sebagai Raja Dharma yang memiliki ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang menguraikan kewajiban-kewajiban pemerintah atau pemimpin, sering mengajukan pertanyaan kepada Bhisma.

Demi menepati sumpahnya, dia bahkan harus melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal. Dia membiarkan saat Drupadi mendapatkan penghinaan di arena judi Pandawa dan Kurawa. Dia melawan Dharma karena membela Kerajaan Hastina melawan pasukan yang didalamnya ada Khrisna.

Kebesarannya adalah dia bersedia meminta maaf kepada Drupadi karena mendiamkan penghinaannya. Seorang pejuang besar, Putra Gangga, keturunan Bharata yang agung, meminta maaf kepada cucunya. Bhisma sangat mencintai Pandawa hingga setengah hati bertarung, namun juga tidak membiarkan Pandawa menang.

Selama dia memegang senjata di tangannya, dia tidak terkalahkan, sehingga Khrisna membuatnya menurunkan busurnya dengan Srikandi. Ide untuk menampilkan Srikandi banyak membuat Pandawa kecewa, mereka lupa bahwa mereka sendiri menyembah Durga, dewi perang dan kemenangan.

Sabtu, 02 Maret 2019

BAMBANG EKALAYA LEBIH TANGGUH DARI ARJUNA?

Bambang Ekalaya terkenal dengan kisah yang dipotong sebagai pemberian kepada Druna yang dianggap sebagai gurunya. Guru Druna banyak diceritakan sebagai sosok yang sadis karena meminta ibu jari Ekalaya.

Ekalaya sering digambarkan sebagai korban kecintaan Guru Druna kepada murid kesayangannya, Arjuna. Ekalaya seharusnya belajar sendiri dan tidak perlu menganggap Druna sebagai gurunya. Dia seringkali dianggap sebagai korban ketidakadilan dari Druna karena dia memiliki kasta yang rendah sebagaimana perlakuan Druna terhadap Karna.

Sebenarnya Druna adalah sosok lelaki yang terbebas dari keinginan. Ia punya prinsip untuk hidup berpantang meminta sesuatu dari siapapun. Dia diajari astra Vidya oleh Resi Parashurama. Dia sangat berbakti kepada Tuhan dan gurunya. Dia setia pada profesinya dalam mengajar dan pada negaranya serta selalu menjaga kata-katanya. Drona adalah sosok yang memiliki kekeramatan, berkahnya akan membuat siapa pun menjadi hebat.

Sesungguhnya Ekalaya bukan berasal dari kasta yang lebih rendah, Dia adalah pangeran Nishada. Ekalaya pergi menghadap ke Drona untuk belajar Vidya. Ekalaya memiliki kebencian yang mendalam pada Krishna. Ekalaya adalah penjelmaan iblis Mamimanta. Demi mengalahkan Khrisna dia menghadap Druna agar bisa mempelajari astra yang sakti.

Drona tahu bahwa Ekalaya sangat membenci Krishna, sementara Druna bagaimanapun termasuk seorang yang menganggap Khrisna sebagai seorang suci meski tidak mengikutinya. Dismaping alasan tersebut, Drona menolak menerima Ekalaya sebagai murid karena pada saat itu Druna sedang melaksanakan tugas mengajar Pangeran dari Hastinapura, Kurawa dan Pandawa. Sekolah tempat belajar Pangeran tidak dibuka untuk warga biasa, hanya Pangeran dan kaum Brahmana yang diperenankan untuk mengikuti pelajaran guru Druna, begitulah peraturannya. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Karna juga ditolak untuk memasuki sekolah tersebut. Ketentuan yang berlaku pada saat itu memang mendasarkan pada kasta, karenanya tidak mungkin bagi seorang Brahmana seperti Druna untuk melanggar aturan. Ekalaya bukan dari kasta rendah namun sekolah yang dipimpin DRuna dikhususkan bagi kasta yang lebih tinggi.

Ekalaya yang kecewa karena tidak diijinkan mengikuti sekolah Druna kemudian pergi ke hutan. Dia membuat patung Druna dan dengan tekun belajar memanah hingga memiliki kemampuan yang luar biasa. Hal ini bukan semata-mata kehebatan Bambang Ekalaya namun merupakan suatu keagungan Druna dimana dengan perwujudan yang mirip dengannya bisa memberikan kekuatan kepada Ekalaya. Jika tanpa perwujudan Druna, Ekalaya bisa memperoleh kemampuan itu maka tentunya dia tidak perlu membuat perwujudan Sang Guru. Namun tentu juga Ekalaya berhasil mendapatkan kesaktian karena tekad yang membara dalam diri untuk membunuh Khrisna.

Ketika Bambang Ekalaya memberikan satu jarinya kepada Druna sebagai pemberian kepada gurunya, juga bukan semata-mata karena kepatuhan dan wujud baktinya kepada Sang Guru, namun dia menyadari bahwa dengan menolak permintaan Sang Guru akan menghilangkan kesaktiannya dan juga akan beresiko mendapatkan kutukan sebagaimana diterima Karna.

Senin, 18 Februari 2019

PERCAKAPAN KHRISNA DAN BALARAMA

Balarama : Kau sudah tau semua yang terjadi di Dwaraka?

Khrisna : Iya Kak, ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Aku sudah mencoba untuk menghentikannya. Tapi rakyat Dwaraka selalu mengulangi tindakan tidak bermoral ini. Ketika sungai bertemu dengan air terjun, riaknya terasa lebih bergemuruh. Begitupun ketika masyarakat manapak jalan tidak bermoral, Negara seakan tercemar dengan ketidakadilan.

Balarama : Yudhistira memang pantas disalahkan atas semua ini. Dia telah mempertaruhkan istrinya sendiri dalam permainan dadu itu. Sekarang apakah seluruh bangsa Arya harus mengikuti cara yang tercela seperti itu.

Khrisna : Tidak kak Balarama, tidak. Apakah Yudistira yang harus disalahkan, atau Duryudana yang disalahkan. Tindakanlah yang harus disalahkan. Seseorang yang dipengaruhi kedengkian senantiasa selalu melahirkan bibit kejahatan. Pada dasarnya ini adalah kebutaaan dari tradisi dan tidak seorangpun membenarkan akan hal itu. Ketika seorang manusia memegang teguh sumpah dan janjinya, itu bukan hal yang mudah. Tapi bila berpegang teguh pada prinsipnya sendiri, apakah bijaksana? Hal yang sama terjadi di ruang perjudian itu, Bhisma yang agung, guru Durna, Perdana Menteri Widura, Saudara tertua Pandawa Yudistira, semuanya terikat oleh kata-kata mereka dan tetap buta oleh karena adanya tradisi. Demi untuk memegang teguh sumpah dan janji-janji mereka, demi untuk memegang prinsip mereka. Andai saja ada salah satu dari mereka bersedia melanggar sumpah mereka waktu itu, Drupadi pasti tidak akan menghadapi peristiwa memalukan seperti itu.

Balarama : Apa maksudmu mengatakan itu Khrisna . Apa kita harus melangar sumpah yang kita ikrarkan.

Khrisna : Kebenaran itu seperti pohon Kak. Sumpah dan janji-janji adalah cabangnya dan akar pohon adalah kasih sayangnya. Cabangnya tidak perlu terlalu kuat tetapi akarnya yang harus diperkuat. Bila demi menolong dan membebaskan penderitaan orang lain seseorang rela melanggar sumpahnya, maka itu pilihan yang tepat. Tapi disini, pada saat ini nilai kasih sayang telah hilang di hati bangsa Arya, bahkan diseluruh negeri. Penderitaan lahir karena adanya kasih sayang yang hilang. Dan penderitaan orang-orang tidak bersalah seperti yang kita saksikan tadi adalah satu bentuk pengakuan dari masyarakat kita. Ketika tidak ada lagi kasih sayang di masyarakat, mereka merasa tidak ada ikatan satu sama lain Kak. Mereka hanya akan mementingkan diri mereka sendiri. Penderitaan yang sedang dialamai rakyat Dwaraka, itu sama halnya dengan penderitaan seluruh bangsa Arya. Cabang-cabang pohonnya mulai rapuh, berlobang kering dan menjadi layu. Begitupun halnya dengan kebenaraan saat ini yang telah lunglai tidak bernyawa. Inilah saatnya untuk menghidupkan kembali kebenaran Kakak. Sekali lagi seluruh masyarakat harus dibuat sadar akan kebenaran.

https://www.hotstar.com/

Jumat, 08 Februari 2019

KSATRIA PEMUSNAH ADHARMA DI MEDAN KURUSETRA

Sebelum perang di Kurusetra pecah, Khrisna menanyakan kepada para ksatria berapa hari waktu yang mereka butuhkan untuk memenangkan peperangan jika bertempur sendirian. Jawaban dari para ksatria beragam, Drona menjawab bahwa dia membutuhkan waktu 25 hari, Karna mengatakan dia butuh waktu 24 hari, Arjuna meyakini dia bisa menyelesaikan perang dalam 28 hari, dan setiap ksatria yang ditanya Khrisna memiliki jawaban yang berbeda-beda.

Namun ada satu ksatria yang memiliki kesaktian luar biasa bernama Barbarika. Dia adalah putra Gatotkaca, cucu Bhima. Barbarika ketika ditanya oleh Khrisna, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perang, dia menjawab bahwa dia hanya perlu waktu satu menit untuk menyelesaikan peperangan. Khrisna kagum dengan kesaktian Barbarika, kemudian dia bertanya bagaimana dia bisa menyelesaikan perang dalam satu menit.

Barbarika memiliki senjata panah yang super canggih dengan tiga anak panah, Anak panah pertama dapat menandai barang atau benda atau wujud apapun yang dituju, anak panah kedua dapat menandai barang atau benda atau wujud apapun yang ingin diselamatkan dan anak panah ketiga dapat menghancurkan barang atau benda atau wujud apapun yang telah ditandai dengan anak panah pertama dan menyelamatkan barang atau benda atau wujud apapun yang telah ditandai dengan anak panah kedua.

Khrisna menantang Barbarika untuk mengumpulkan semua daun pohon yang ada diatasnya dengan anak panahnya dan Barbarika menerima tantangan. Ketika Barbarika berkonsentrasi dengan panahnya, Krisna memetik sebuah daun dan menginjaknya agar Barbarika gagal mengumpulkan semua daun dengan anak panahnya. Ketika anak panah Barbarika dilepaskan langsung menandai seluruh daun pohon dan kemudian melayang berputar diatas kaki Khrisna yang menginjak daun. Barbarika meminta Khrisna mengangkat kakinya karena jika tidak maka anak panahnya akan menembus kakinya untuk menandai daun yang diinjaknya. Khrisna mengangkat kakinya dan selanjutnya panah ketiga Barbarika mengumpulkan dan mengikat seluruh daun pohon.

Pesan yang diterima Khrisna dari tantangan ini adalah bahwa Khrisna tidak akan dapat menyembunyikan siapapun termasuk Pandawa jika ingin menyelamatkannya dari panah Barbarika.

Khrisna kemudian menanyakan kepada Barbarika kepada siapa dia akan berpihak jika perang terjadi. Barbarika mendapatkan amanat dari ibunya agar dia senantiasa membela pihak yang lemah, dalam hal ini Barbarika menilai bahwa kekuatan perang Pandawa lebih kecil daripada kekuatan perang Kurawa sehingga dia mengatakan akan berpihak kepada Pandawa.

Khrisna memberikan wejangan Bagwad Gita kepada Barbarika sebagaimana yang disampaikan kepada Arjuna dan Sanjaya. Barbarika adalah seorang pengagum Khrisna, dia menganggap Khrisna sebagai gurunya. Khrisna mengatakan bahwa jika dia menganggapnya sebagai gurunya, maka Khrisna meminta gurudaksina (pemberian seorang murid kepada gurunya). Barbarika setuju untuk memberikan apapun kepada Khrisna, dan sesuai perkataan Barbarika maka Khrisna meminta kepala Barbarika.

Barbarika memotong kepalanya dan memberikannya kepada Khrisna. Khrisna sangat kagum akan bakti yang ditunjukkan kepadanya dan menanyakan kepada Barbarika apa yang diinginkan sebagai anugerah. Barbarika meminta agar dia diberikan kesempatan untuk menyaksikan perang yang akan terjadi dan Khrisna mengabulkan keinginan tersebut. Khrisna menempatkan kepala Barbarika diatas bukit menghadap ke medan perang yang akan terjadi.

Setelah perang di Kurusetra berakhir, para ksatria berdebat tentang siapa yang paling berperan dalam kemenangan Pandawa. Karena tidak ada kesepakatan maka Khrisna menyampaikan bahwa ada mata yang menyaksikan peristiwa peperangan dari awal hingga akhir dari atas bukit. Mereka semua pergi keatas bukit dan menemukan Barbarika, kemudian menanyakan tentang ksatria yang paling berperan dalam perang di Kurusetra. Barbarika menjawab bahwa hanya Khrisnalah yang dilihatnya dalam pertempuran. Barbarika hanya melihat cakra berputar-putar menghancurkan pihak yang tidak mendukung dharma. Para Pandawa menyadari bahwa Khrisnalah yang telah mengahncurkan adharma, para Pandawa hanyalah alat.

Minggu, 03 Februari 2019

ARJUNA BERPERANG HANYA KARENA DHARMA

Sebelum perang di Kurusetra terjadi, kedua belah pihak baik Kurawa maupun Pandawa mencari sebanyak mungkin pendukung untuk berperang. Salah satu pihak yang penting karena memiliki kekuatan angkatan perang tangguh adalah Khrisna dengan pasukan Yadawanya.

Kurawa diwakili oleh Duryudana dan Pandawa diwakili Arjuna bersegera untuk menghadap Khrisna. Duryudana dapat hadir mendahuli Arjuna,namun pada saat itu Khrisna sedang tidur, kemudian dia duduk disisi kepala Khrisna. Selanjutnya Arjuna datang dan duduk di kaki Khrisna. Ketika Khrisna bangun, dia pertama kali melihat Arjuna kemudian baru melihat Duryudana sehingga Khrisna memberikan kesempatan pertama kepada Arjuna untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Duryudana memprotes keputusan Khrisna karena dia merasa datang terlebih dahulu namun Khrisna berargumen bahwa yang dilihat pertama kali adalah Arjuna.

Seandainya saja Duryudana yang duduk dikaki Khrisna dan Arjuna duduk didekat kepala Khrisna pastinya Khrisna juga akan berguling kepalanya sehingga yang dilihat pertama kali adalah Arjuna (sok kenal Khrisna, angan-angan kosong dan khayalan sia-sia

Khrisna memberikan dua pilihan, pilihan pertama adalah seluruh kekuatan perang Yadawa dan pilihan kedua adalah dirinya sendiri yang akan menjadi kusir kereta perang yang tidak akan mengangkat senjata. Karena Arjuna yang dilihat pertama kali oleh Khrisna maka dia yang diberi kesempatan untuk memilih. Arjuna memilih Khrisna untuk menjadi kusir kereta perang dalam pasukan Pandawa. Pilihan Arjuna membuat Duryudana gembira karena dia memang menghendaki pasukan Yadawa bergabung dalam pasukan perangnya.

Dalam perang di medan Kurusetra akhirnya Khrisna menjadi kusir kereta perang Arjuna. Mengapa Arjuna,bukan Yudhistira, Bhima, Nakula atau Sadewa. Arjuna adalah prajurit yang paling tangguh meskipun dalam sinetron Karna ditampilkan seolah lebih tangguh. Arjuna sendirian pernah pernah mengalahkan pasukan Kurawa dimana didalamnya terdapat Durna, Karna dan yang lainnya dalam perang Wirata.

Meskipun Arjuna merupakan prajurit paling tangguh, namun dia juga satu-satunya prajurit Pandawa yang tidak memiliki alasan lain kecuali melaksanakan dharma internalnya. Yudhistira berjuang  untuk kerajaan,Bhima ingin membalas dendam memenuhi sumpahnya menghancurkan paha Duryudana, Nakula dan Sadewa dendam terhadap Sengkuni, namun Arjuna tidak ada motif lain selain melaksanakan dharmanya.

MELANGGAR SUMPAH

Dalam pertempuran di Kurusetra, Bhisma mengamuk membabibuta menghancurkan pasukan Pandawa. Tidak ada yang bisa menghentikannya, Arjuna sekalipun. Khrisna yang menjadi kusir kereta perang Arjuna terus menyemangati Arjuna untuk melawan Bhisma, namun Arjuna nampak setengah hati melawan Bhisma yang merupakan kakeknya sendiri.

Khrisna kecewa dengan Arjuna yang tidak menggunakan kekuatan penuh, hanya karena kasih sayangnya kepada kakeknya sehingga mengakibatkan pasukannya hancur. Khrisna memegang senjata Cakranya dan mengatakan kepada Arjuna bahwa dia akan melanggar sumpahnya untuk tidak menggunakan senjata dalam perang ini, jika Arjuna tidak mau bertarung sepenuhnya dengan Bhisma. Sikap Khrisna seperti ini sering terjadi dan sesungguhnya hanya sandiwara belaka.

Sebelum peristiwa itu terjadi, pada hari-hari sebelumnya, Duryudana terus menerus menghina Bhisma. Duryudana menilai Bhisma setengah hati dalam perang, Bhisma berpihak pada Pandawa, Bhisma menginginkan kemenangan justru untuk Pandawa meskipun dia berperang di pihak Kurawa. Begitu banyaknya hinaan diterima Bhisma hingga akhirnya Bhisma marah dan bersumpah bahwa besok akan membunuh seluruh Pandawa dan menjadikan Dropadi janda. Duryudana sangat
berbahagia degan sumpah Bhisma ini.

Khrisna mengetahui sumpah Bhisma dan seperti biasanya dia memainkan drama dengan menyuruh Drupadi untuk menyentuh kaki Bhisma saat dia masih tertidur di pagi hari sehingga dia tidak menyadarinya. Bhisma memiliki kebiasaan jika ada wanita yang menyentuh kakinya untuk meminta berkah, dia selalu mengatakan “hidup langgeng bersama suamimu”.

Dropadi melakukan apa yang diperintah Khrisna, dan Bhisma yang saat itu baru terbangun tidak menyadari siapa wanita yang menyentuh kakinya, langsung mengatakan, “hidup langgeng bersama suamimu”. Ketika Bhisma sadar bahwa wanita didepannya adalah Drupadi, dia begitu marah karena sumpahnya untuk membunuh Pandawa bertentangan dengan berkah yang diberikan kepada Drupadi.

Bhisma sadar bahwa hal ini pastilah permainan Khrisna. Dia bertanya kepada Khrisna, mengapa dia mempermainkannya, apa yang harus dilakukan,apakah harus menarik sumpah ataukah menarik berkah yang diberikan. Khrisna menjawab, “sumpahmu untuk adharma sedangkan berkahmu adalah dharma, aku memahami betapa sulitnya untuk menarik sumpah bagi orang seperti dirimu, namun aku juga akan melanggar sumpahku dalam perang ini, aku akan menggunakan senjataku untuk membunuhmu”.

Sabtu, 02 Februari 2019

KEKASIH MEMBERI LEBIH DARI YANG DIMINTA

Setelah perang antara Pandawa dan Kurawa di Kurusetra berakhir, Khrisna kembali ke negerinya Dwaraka. Dalam perjalanan, Khrisna bertemu dengan seorang sahabat lamanya yang seorang Brahmana bernama Utanga.

Pada saat bertegur sapa dan berbasa basi saling menanyakan kabar, Astanga menanyakan kabar Pandawa dan Kurawa yang masih keluarga Khrisna. Astanga sebelumnya tidak tahu sama sekali perihal perselisihan Pandawa dan Kurawa.

Khrisna agak terkejut namun kemudian dengan lembut menceritakan semua perselisihan Pandawa dan Kurawa hingga terjadi pertumpahan darah dalam perang besar yang akhirnya hampir memusnahkan seluruh keluarga Kurawa.

Mendengar cerita Khrisna, Astanga sangat marah dan mengecam Khrisna, menyatakan dia gagal menjalankan misi pembawa kedamaian dan hendak mengutuk Khrisna.

Khrisna dengan lembut mengatakan agar Utanga tidak menyia-nyiakan hasil pertapaannya bertahun-tahun hanya untuk mengutuknya. Khrisna menunjukkan kepada Astanga Visparupanya dan juga menceritakan semua Gita sebagaimana diceritakan kepada Arjuna sebelum perang Kurusetra.

Mendengar penjelasan Khrisna akhirnya Utanga menjadi tenang, kemarahannya reda dan dia berterima kasih banyak kepada Khrisna.

Khrisna sangat senang hingga dia bermaksud untuk memberikan kepada Astanga sebuah anugerah. Khrisna meminta agar Astanga mengatakan sendiri anugerah yang diinginkan namun Astanga menolak anugerah karena baginya dapat melihat wujud Visparupa Khrisna sudah merupakan anugerah terbesar. Khrisna memaksa agar Astanga meminta anugerah hingga akhirnya Astanga meminta agar dia selalu mendapatkan air segar ketika sedang kehausan, dan Khrisnapun memberikan anugerah tersebut. Astanga mendapatkan anugerah dari Khrisna bahwa dia akan selalu mendapatkan air segar tatkala sedang kehausan.

Setelah mendapatkan anugerah, akhirnya mereka berpisah. Astanga melanjutkan perjalanan hingga melewati sebuah gurun. Astanga kehabisan perbekalan air dan merasa kehausan. Teringat akan anugerah yang dimilikinya, dia bermaksud memanfaatkan anugerahnya. Tiba-tiba datang seorang sudra berpakaian lusuh dan membawa lima ekor anjing. Sudra yang berpakaian lusuh menawarkan air yang dibawanya dibambu yang diikat dibahunya, namun Astanga memandang sang sudra dengan jijik.

Sudra tersebut berkali-kali menawarkan air yang dibawanya dan Astanga selalu menolaknya hingga merasa lebih jijik karena sang sudra seakan memaksa agar dia menerima air yang ditawarkannya. Astanga mengatakan bahwa dia tidak haus dan meminta sang sudra untuk segera pergi meninggalkannya.

Utanga mencela Khrisna dengan anugerah yang telah diberikan kepadanya. Dia semakin haus, tubuhnya butuh air untuk menghilangkan dahaganya. Rasa dahaga yang kian mencekik leher semakin membuatnya marah dan mencela anugerahnya, hingga dia menyadari sang sudra telah menghilang.

Udanga mulai berpikir bahwa sang sudra yang hadir merupakan ujian baginya. Dia merasa gagal, penolakannya hanya membuktikan bahwa dia seorang yang sombong. Dia merasa sangat sedih hingga kemudian dilihatnya Khrisna dihadapannya.

“Wahai Khrisna, benarkah engkau telah mengirimkan air yang kotor kepadaku, kepada seorang Brahmana, air apakah itu?” Tanya Utanga dengan nada getir.

“Demi dirimu, aku telah meminta Indra untuk mengambil air keabadian dan memberikannya kepadamu untuk menghilangkan dahagamu, namun Indra mengatakan bahwa air keabadian bukan untuk manusia dan dia tidak akan memberikan kepada manusia. Aku telah berhasil membujuknya namun dia meminta syarat bahwa dia akan menguji dirimu dengan cara memberikan air tersebut melalui seorang sudra. Aku menerima tantangan itu karena meyakini bahwa engkau telah mencapai tahap pemahaman itu. Kau telah kalah dan kau telah membuat aku kalah dengan Indra”.

Jumat, 01 Februari 2019

KESETIAAN SEJATI : DIALOG KHRISNA DAN ARJUNA

Khrisna : Aku bukan siapa-siapa tapi aku adalah segalanya. Itu sudah terjadi dalam setiap masa dan itu akan terus sampai selamanya. Ketika kau merenungkan keberadaanmu, kau akan menemukan dirimu sendiri terhubung denganku. Dan kemudian sepertiku juga kau akan menemukan dirimu dalam bentuk Yang Maha Kuasa. Tetapi untuk bisa mencapai posisi itu sangat penting agar kau mendedikasikan dirimu sepenuhnya padaku.

Arjuna: Apa yang kau maksud dedikasi Wadawa.

Khrisna : Itu adalah keadaan dimana pikiran manusia menyerah pada semua keinginan hingga tidak membuat dedikasi untuk diri sendiri. Dan tidak juga mengambil sumpah orang dengan cara kerja yang diberikan kepadanya. Pada kenyataannya kalau kau mulai mendedikasikan dirimu untuk seseorang, dan kau melakukannya sendiri. Pikiranmu, akalmu, pengetahuanmu, keinginanmu, emosimu dan segala sesuatu yang kau miliki kepada seseorang, maka komitmen tersebut disebut sebagai sebuah pengabdian.

Arjuna : Seorang istri berkomitmen untuk suaminya, prajurit berkomitmen pada panglima pasukannya, sementara murid berbakti pada gurunya. Semua bentuk pengabdian itu apakah sama, bukankah semua itu untuk mencapai Yang Maha Kuasa.

Khrisna: Tidak Partha, ketika seseorang berbakti untuk sesuatu ataupun untuk seseorang, itu tergantung acuannya.

Dia tidak meninggalkan ruang untuk keraguan. Atau pertanyaan pengabdian terhadap seseorang yang jahat bisa membuat orang menjadi memfitnah. Raja Angga Karna meskipun tahu apa yang benar tapi dia berkata salah kepada Pancali di permainan dadu. Dan alasan untuk itu adalah pengabdian Raja Angga terhadap saudara Duryudana. Hukumannya adalah dengan mendapatkan perang ini, apakah begitu menurutmu. Itu semua adalah karena kesetiannya kepada orang yang jahat. Karena itulah perlu untuk mendedikasikan diri pada apa yang benar, yang membuat manusia menjadi benar. Hanya penjahat yang dibelenggu dengan rantai yang terbuat dari besi. Rantai candi diikat oleh rantai yang terbuat dari kuningan. Kemudian juga ada rantai emas yang melingkar dileher kita sebagai sebuah hiasan. Kesetiaan terhadap suami, terhadap guru dan teman itu hanya beberapa bentuk kesetiaan, Partha. Tapi yang disebut kesetiaan sejati adalah kesetiaanmu tehadap Yang Kuasa.

-Dialog
Khrisna dan Arjuna dalam serial Mahabharata, www.startv.in

Minggu, 27 Januari 2019

PENCULIKAN DALAM MAHABHARATA

Beberapa cerita yang tidak nyaman dihati dalam kisah Mahabharata adalah adanya kisah penculikan dalam pernikahan.

Putra Khrisna dan Jambawanti yang bernama Samba menculik Lesmanawati yang merupakan putri Duryodana dan Bhanowati.

Penculikan terjadi saat pernikahan Abimanyu dan Utara. Keputusan Samba menculik kekasihnya pasti karena melihat kondisi pada saat itu dimana dia sadar bahwa cintanya tidak akan direstui oleh Duryodana yang sudah pasti tidak menyukai ayahnya (Khrisna). Keberuntungan akhirnya berpihak pada Samba karena Balarama yang merupakan guru Duryudana memaksa Duryodana menyetujui pernikahan tersebut.

Apa yang membuat Samba nekad melakukan penculikan sepertinya bisa dipahami karena sebelumnya beberapa pendahulunya juga telah melakukan hal yang sama.

Kita bisa ingat kembali pernikahan Drestarasta. Sebelumnya, Bhisma telah menculik Amba,Ambika dan Ambalika untuk menikah dengan adik lelakinya. Kemudian Bhisma kembali memaksa Gandhari untuk menikah dengan Drestarasta.

Kisah penculikan telah berulang kali dalam kisah Mahabharata. Khrisna sendiri untuk menikah dengan Rukmini juga harus melarikan Rukmini dan menghadapi perlawanan kuat dari saudara lelaki Rukmini.

Arjuna telah menculik Subadra yang merupakan saudara perempuan dari Khrisna untuk menikahinya.

Duryodana juga menculik Banowati dan memaksanya untuk menikah dengannya.

Meski ada perbedaan besar dari kisah-kisah penculikan diatas, dimana penculikan oleh Bhisma dan Duryudana disatu kasus dengan penculikan yang dilakukan Khrisna dan Arjuna pada kasus yang lain.

Penculikan oleh Bhisma dan Duryodana terjadi karena kehendak mereka sendiri dan memaksa wanita-wanita yang diculiknya sedangkan Khrisna dan Arjuna menculik wanita karena mereka saling mencintai. Rukmini mencintai Khrisna dan Subadra mencintai Arjuna.

Rabu, 16 Agustus 2017

KUTIPAN BAGHAVAD GITA

Bhagavad Gita merupakan bagian penting dalam kisah Mahabharata yang merupakan percakapan Arjuna dan Krishna. Dalam Bhagavad Gita banyak nasehat yang bisa kita jadikan pelajaran dalam kehidupan ini.

Berikut adalah beberapa kutipan dari Bahgawad Gita :

"Apapun yang kau ambil, engkau mengambilnya dari Tuhan, apapun yang kau berikan, engkau memberikannya kepadaNya, jika kau datang dengan tangan kosong, engkau akan meninggalkan dengan tangan kosong pula".

"Apapun yang telah terjadi, terjadi demi kebaikan. Apapun yang sedang terjadi, sedang terjadi demi kebaikan. Apapun yang akan terjadi, juga akan terjadi demi kebaikan".

"Perubahan adalah hukum alam semesta. Kau bisa menjadi jutawan atau gelandangan dalam sekejap".

"Engkau memunyai hak untuk bekerja, namun tidak pada hasil kerja".

"Seseorang bisa berjaya melalui usaha pikirannya sendiri atau menghinakan dirinya sendiri, dengan cara yang sama. Karena setiap orang adalah temannya sekaligus musuhnya sendiri".

"Mengapa kamu khawatir tanpa alasan? Siapa yang kamu takuti tanpa alasan? Siapa yang bisa membunuhmu? Jiwa tidak dilahirkan, juga tidak mati".

"Saat meditasi dikuasai, pikiran tak tergoyahkan seperti nyala lampu ditempat yang tidak berangin".

"Kita harus terus menjaga tujuan kita bukan karena rintangan, tapi dari jalan yang jelas menuju ke tujuan yang lebih rendah".

Meski diucapkan 5000 tahun yang lalu, nasehat-nasehat yang disampaikan masih relevan sampai sekarang.

Selasa, 14 Maret 2017

KELELAHAN EGO

Hari itu adalah hari ketujuh belas pertarungan besar di medan Kurukshetra. Sebuah peristiwa berdarah yang telah menguras energi dan emosi pihak yang terlibat. Meski para jagoan Korawa telah jatuh, termasuk Bisma pada hari kesepuluh dan Drona pada hari kelima belas, Karna masih tegak berdiri.

Karna sekarang adalah komandan tentara Korawa dan kesaktiannya tak terbendung. Tentara Pandawa berhamburan seperti kapas tertiup angin kencang. Karena kondisi yang menbayakan, maka Yudhistira diamankan ke kamp dimana ia menunggu berita kematian Karna ini. Yudhistira sangat yakin Arjuna akan melaksanakan sumpahnya untuk membunuh Karna, apalagi dengan kusir kereta Khrisna sendiri, bagaimana mungkin dia akan gagal?


Sementara Arjuna yang tengah berada dalam pertempuran merasa cemas karena tidak melihat Yudhistira dalam pertempuran. Arjuna meminta Khrisna untuk mencari Yudhistira di kamp.

Ketika Yudhistira melihat Krishna dan Arjuna masuk tendanya, ia berpikir bahwa "anak adirata telah tewas dalam pertempuran," dan berseru, "Dengan membunuh Karna dalam pertempuran, kau telah membawa mengakhiri pertempuran ini."

"Aku telah mencemaskan dia selama tiga belas tahun. Aku tidak bisa tidur di malam hari. Aku tidak bisa bahagia sepanjang hari. ... Ketika aku terjaga dari tidur, Karna selalu didepan mata. Lebih dari Bisma atau Drona, Karna seperti duri bagi Pandawa. Ceritakan padaku bagaimana kau membunuhnya”.
Arjuna mengatakan bahwa ia datang untuk mengundang Yudhistira menyaksikan kematian Karna di tangannya. “Jika engkau ingin melihatnya, akan ada pertempuran sengit saat antara aku dan Karna".

Yudhistira sangat kecewa mendengar perkataan Arjuna. Dia sangat marah Karena Arjuna meninggalkan arena pertempuran sebelum berhasil mengalahkan Karna.

Kekecewaan Yudhishithira ini telah membuatnya mencerca Arjuna, kemarahan dan frustrasi hingga menyebut Arjuna "tidak berguna", menuduhnya menyayangi Duryudana, menjadi takut Karna, dan berakhir dengan ungkapan "ini akan lebih baik jika engkau belum lahir dari dalam rahim Pritha".

Tidak ada prajurit yang mampu menahan rentetan penghinaan, begitu juga Arjuna. Dia marah menggenggam pedang, siap untuk membunuh Yudhistira….

Mengapa Arjuna, sosok paling ideal dari Pandawa, yang baru dua minggu lalu menerima kebijaksanaan abadi Gita dari Krishna, kehilangan kontrol? Bagaimana dua bersaudara ini, lambang cinta bakti, saling melakukan pelanggaran berat?

Mungkin ini yang disebut ego depletion (kelelahan ego), kita lebih cenderung kehilangan kendali saat lelah dan letih.

“Kelelahan ego adalah keadaan yang terjadi karena melemahnya willpower sehingga menyebabkan menurunnya kontrol diri dan kegagalan melakukan regulasi diri pada individu, sehingga diperlukan upaya untuk mengisi kembali energy psikis supaya perilaku individu dapat kembali efektif”. (Baumeister, Vohs, & Tice, 2007)



Senin, 02 Januari 2017

JIKA BUDHA YANG MENJADI KUSIR KERETA PERANG ARJUNA

Saat sudah berada dimedan peperangan, munculah krisis mental Arjuna tepat sebelum dimulainya laga besar di Kurusetra. Arjuna berseru kepada kusir keretanya, Budha.

“Wahai Buddha, saya melihat keluarga saya sendiri dihadapan saya, anggota badan saya menjadi lemah, mulut kering, tubuh saya bergetar dan bulu kuduk merinding, kulit seperti terbakar hingga busur Gandiva rasanya hendak lepas dari tangan saya, pikiran saya sangat kacau".


Buddha menjawab, “Kebenaran pertama adalah bahwa tidak ada yang hilang di alam semesta. Materi berubah menjadi energi, energi berubah menjadi materi. Sebuah daun jatuh berubah menjadi tanah. Sebuah benih menjadi kecambah dan tumbuh pohon baru. Sistem dalam alam semesta sama seperti tanaman, seperti pohon, seperti orang lain, seperti hujan yang jatuh. Kita terdiri dari apa yang ada di sekitar kita, kita adalah sama seperti segala sesuatu. Jika kita menghancurkan sesuatu di sekitar kita sama dengan kita menghancurkan diri kita sendiri. Jika kita menipu orang lain, kita menipu diri kita sendiri.

Arjuna: Bagaimana saya bisa bertarung dengan keluarga sendiri.

Buddha: Hukum sebab dan akibat dikenal sebagai karma. Tidak pernah terjadi kepada kita kecuali kita layak untuk mendapatkannya. Kita menerima apa yang kita peroleh, apakah itu baik atau buruk. Kita sekarang ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Pikiran dan tindakan kita menentukan jenis kehidupan yang akan kita miliki. Jika kita melakukan hal-hal yang baik, di masa depan hal-hal baik akan terjadi pada kita. Jika kita melakukan hal-hal yang buruk, di masa depan hal-hal buruk akan terjadi pada kita. Setiap saat kita membuat karma baru dengan apa yang kita katakan, lakukan, dan pikirkan.

Arjuna: Keraguan saya adalah apakah saya harus berperang .....

Buddha: Arjuna, apakah Anda tahu delapan jari pada roda tersebut merupakan delapan bagian dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Sama seperti setiap jeruji diperlukan roda untuk menjaga keseimbangan, kita perlu mengikuti setiap langkah dari jalan berikut:

1. Pandangan Benar.
2. Pikiran Benar.
3. Ucapan Benar.
4. Melakukan Kebaikan.
5. Penghidupan Benar. Ini berarti memilih pekerjaan yang tidak menyakiti orang lain. Jangan mencari nafkah dengan merugikan orang lain. Jangan mencari kebahagiaan dengan mengorbankan orang lain.
6. Usaha Benar. Sebuah kehidupan yang berharga berarti melakukan yang terbaik setiap saat dan memiliki niat baik terhadap orang lain. Ini juga berarti tidak menyia-nyiakan upaya pada hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
7. Perhatian Benar. Ini berarti menyadari pikiran kita, kata-kata, dan perbuatan.
8. Pikiran Benar.

Arjuna: Mereka adalah keluarga saya ... keraguan saya…. apakah saya harus bertarung dengan mereka atau tidak, O Buddha...

Pengajaran Bhuddha dan Krishna memiliki akar yang sama. Jadi tidak peduli siapa yang menjadi kusir Arjuna, Mereka akan memberikan pencerahanya. Inilah yang dilakukan Khrisna dan ini pula yang pasti dilakukan Bhuddha.

PENGETAHUAN ATMA : MENGAPA DIPILIH ARJUNA DAN BUKAN BHISMA ATAUYUDISTIRA

Krishna mengajarkan Gita hanya untuk Arjuna dan tidak diberikan kepada Bisma atau Yudistira karena alasan berikut:

Bisma tahu bahwa keadilan ada di sisi Pandawa dan bahkan telah menyatakan hal ini kepada publik, akan tetapi ia memilih berada di sisi Kurawa dan menjadi pemimpin tentara Kurawa. Tidak ada keselarasan antara pemikiran, kata dan perbuatan. Keselarasan antara pemikiran, ucapan dan perbuatan adalah kebajikan terbesar, dan ketiadaannya adalah kemunafikan.


Adapun Yudistira sebagai pertapa, meskipun memiliki jiwa yang mulia namun lebih banyak menyesali masa lalunya. Dia tidak memiliki pandangan ke depan dan merasa bersalah atas tindakannya dimasa lalu.

Arjuna sendiri adalah orang yang paling siap menerima pengetahuan tentang roh karena ia memiliki perhatian untuk kesejahteraan rakyat. Di tengah medan perang bahkan ketika ia datang siap untuk perang, ia masih memikirkan masa depan "apa yang akan terjadi setelah perang"? Dia sekaligus meminta saran dari Krishna dan bertindak sesuai dengan kata hatinya.

Selain itu, Arjuna memiliki kualifikasi sebagai spiritualis: pasrah, menghilangkan nafsu dan keterikatan sebagaimana terungkap dalam kata-katanya: "Aku tidak peduli bahkan untuk kekuasaan tiga dunia".




Selasa, 27 Desember 2016

KARNA : KARAKTER YANG BERNASIB PALING TRAGIS DALAM KISAH MAHABHARATA?

Saya tidak berpikir untuk menempatkan Karna sebagai tokoh yang memiliki nasib tragis dalam kisah Mahabarata. Pahlawan dengan nasib tragis atau “Tragic Hero" sering dilabelkan untuk memuliakan Karna.

Benar bahwa kehidupan Karna dimulai dengan sebuah tragedi. Masa kecilnya sulit, nasib tidak selalu ada bersamanya. Akan tetapi mengenai hal ini, adakah karakter dalam Mahabharata yang tidak pernah menghadapi tragedi signifikan dalam hidup atau yang sepanjang hidupnya mendapatkan keberuntungan?

Setelah Karna berada di usia remaja, ia mulai mengambil kendali hidupnya. Dia memahami potensinya sebagai prajurit dan berjuang mewujudkannya. Jadi ia membuat pilihan-pilihan, memilih teman-teman dan musuh-musuhnya, bertindak sesuatu yang telah diketahui konsekuensinya. Dia melakukan banyak peristiwa heroik dalam perang maupun Karena kedermawanannya. Pada saat yang sama ia juga terlibat dalam banyak kospirasi jahat.

Karna adalah seorang manusia dengan kualitas, potensi, kepekaan, ambisi dan ego. Seperti semua manusia, dia adalah seorang "abu-abu". Jika Anda setuju dengan pilihan dan keputusannya, maka Anda akan melihatnya dalam warna yang lebih putih dan menyebutnya pahlawan. Jika Anda tidak setuju, maka Anda akan menemukan dia abu-abu gelap atau penjahat. Tapi tidak ada hal yang menjadikannya layak diberi label Karakter Tragis dalam Mahabharata.

Sebagai bahan perbandingan, mari kita lihat nasib tokoh-tokoh lain dalam Mahabharata:

1. Gandari. Dipaksa menikah dengan raja buta, menjadikan dunianya gelap dengan membutakan matanya, dikhianati suaminya yang memiliki anak haram dengan pembantunya, komplikasi kehamilan yang tidak biasa selama 2 tahun, kehilangan 100 putranya dalam perang.

2. Ekalaya. Saat ingin belajar memanah dari Guru Dorna dia ditolak dengan alasan bahwa ia bukan ksatria, dia berasal dari suku hutan. Ia rajin berlatih memanah di depan patung Dorna hingga memiliki kemampuan “melebihi” kemampuan Arjuna. Dorna meminta jempol Ekalaya sebagai imbalannya karena patung dirinya yang dianggap guru oleh Ekalaya.

3. Uttara. Dia adalah istri Abimanyu. Menikah di usia yang sangat muda ketika perang didepan mata. Kehilangan kakaknya pada hari pertama perang, kehilangan suaminya beberapa hari kemudian. Kehilangan ayahnya setelah beberapa hari lagi. Setelah kehilangan hampir semua keluarganya, anaknya ditembak dengan Brahmastra oleh Aswatama. Anak lahir mati meski akhirnya diselamatkan oleh Khrisna. Setelah semua ini, dia tidak akan pernah menjadi ratu. Adakah yang lebih tragis daripada ini?

4. Bhisma. Mengikuti sumpah yang berujung bencana. Menyerahkan hak takhta untuk menyenangkan ayahnya. Menyesali penculikan Amba hingga menjadi penyebab kematiannya. Menyaksikan Drupadi dipermalukan didepan umum oleh cucu-cucunya sendiri. Harus bertarung dengan cucu-cucu kesayanganya.

5. Sadewa. Bagaimana rasanya mengetahui segala sesuatu tentang masa depan, namun tidak dapat berbuat apa-apa? Dia tahu bahwa Lak istananya akan dibakar. Dia tahu Pandawa akan kehilangan semua harta benda mereka dalam permainan dadu. Dia tahu Dropadi akan dihina. Dia tahu anaknya akan dibunuh dalam perang. Dia bahkan tahu Karna adalah saudaranya. Tapi, ia harus tetap tenang dan membiarkan semua terjadi.

6. Kunti. Dia harus meninggalkan anak pertamanya, Karna. Suaminya punya istri kedua dimana beberapa orang mengatakan lebih cantik dari Kunti. Dia harus menemani suaminya menjalani kutukan ke hutan dan meninggalkan semua kenyamanan istana. Setelah suami meninggal, dia harus merawat 5 anak laki-laki. Saat kembali ke Hastinapura, anak-anaknya sering dianiaya. Duryodana pernah mencoba untuk membakar semua lima Pandawa bersama dengan Kunti di Rumah Lak. Menyaksikan putranya saling bunuh di Kurusetra.

7. Srikandi. Dia adalah kelahiran kembali Dewi Amba. Diculik oleh Bisma kemudian ditelantarkan. Amba memohon Bhisma untuk menikahinya, dan memberinya status sosial yang pantas. Meskipun Srikandi lahir sebagai laki-laki dia disebut seorang kasim di masyarakat. Terlepas dari ini, Srikandi akhirnya dipaksa menikah dengan putri dari Darshana. Seumur hidup dipenuhi dendam dan satu-satunya yang dicita-citakannya adalah membunuh Bisma.

8. Abimanyu. Memasuki medan pertempuran saat masih belia, baru menikah, tidak mengetahui istrinya hamil. Saat perang hari ke 13 harus memasuki jebakan formasi cakrawayu, dikeroyok para tokoh senior seperti Dorna, Karna dan Salya. Fakta memilukan hati adalah bahwa pamannya, Krishna tahu tentang pembantaian keponakannya secara brutal namun ia tidak melakukan intervensi.

9. Dorna. Miskin, ketika menagih janji Drupada justru dilecehkan. Menjadi guru, mengajari murid-muridnya, akhirnya harus bertarung dengan murid-murid kesayangannya.

10. Drestarata. Meskipun dia sangat kuat dan putra sulung namun dia tidak bisa menjadi raja karena kebutaannya. Meskipun istrinya hamil lebih dulu dibanding istri saudaranya namun janin yang dikandung istrinya tidak juga lahir sehingga putranya tidak menjadi putra tertua yang berhak atas tahta. Pada perang kurusetra dia harus kehilangan 100 putranya.

11. Drupadi. Dia harus mempermalukan Karna dan mendapatkan murkanya untuk memastikan Arjuna mendapat kesempatan membuktikan kemampuan luar biasanya. Setelah serangkaian panjang drama, Kunti justru memerintahkan untuk menikahi kelima bersaudara. Dipertaruhkan dalam judi, dipermalukan. Arjuna yang diidolakan justru menikahi Subadra. Harus menemani suami di hutan pengasingan. Dalam perang kurusetra semua anak-anaknya tewas.

12. Arjuna. Dipaksa hidup dalam pengasingan di hutan, sering diolok-olok karena gurunya yang meminta jempol Ekalaya, harus berabgi istri dengan 4 saudaranya. Pernah dikutuk menjadi seorang kasim selama satu tahun hanya karena ia menyebut bidadari Urwasi sebagai Ibu. Harus hidup dengan rasa bersalah melakukan pembunuhan saudaranya (Karna) dan juga membunuh keponakannya dengan sadar. Terhina Karena dipertaruhkan Yudistira dalam judi. Putra kesayangannya (Abimanyu) gugur secara brutal dalam perang, cucunya yang dalam kandungan dibunuh Aswatama (meski akhirnya diselamatkan oleh Khrisna). Harus menghadapi guru sendiri (Dronacharya, Kripacharya) dan kakeknya Bisma dalam perang. Kehilangan anak dan keponakan (baca pancawala) yang dibunuh Aswattama.

Bagaimana pula Widura, Subadra dan bahkan Khrisna sendiri?

Senin, 26 Desember 2016

WIDURA : PENGIKUT SUARA HATI

Widura memiliki busur sakti yang bernama Govarthan. Senjata Dewa Wisnu yang pada saat perang tidak bisa dihancurkan oleh senjata apapun, bahkan tidak oleh Gandiva Arjuna.

Widura berbeda dengan tokoh sakti lain yang berada di pihak Kurawa, karena Widura tidak memiliki kutukan seperti Karna atau Bisma atau Dorna dan satu-satunya cara untuk menghentikanya adalah dengan mencegah berpartisipasi dalam perang.


Pejuang sejati akan selalu menjadi orang pertama yang menunjukkan kemampuannya di waktu perang.

Insiden inilah yang membuat Widura tidak untuk berperang di perang...

Ketika Krishna datang ke Hastinapura atas nama Pandawa untuk negosiasi perdamaian, Khrisna menolak permintaannya untuk tinggal di rumah yang telah disediakan. Khrisna lebih memilih untuk tetap tinggal bersama dengan keluarga Widura selama masa kunjungan.

Khrisna sudah tahu bahwa Duryodana telah mengatur beberapa orang untuk memantau aktivitasnya jika Krishna tinggal di istana sehingga lebih memilih tinggal di rumah Widura.

Keesokan harinya selama masa negosiasi perdamaian, Duryodana mengungkapkan kekesalannya terhadap Widura yang telah menyediakan tempat untuk Khrisna. Duryodana menuduh Widura telah memihak Pandawa dan mengungkapkan kata-kata kasar. Duryodana melupakan bahwa Widura adalah pamannya, Dia mengatakan bahwa Widura adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dengan pikiran busuk.

Destarasta, Bisma dan semua orang tua hadir ada tertegun. Mereka mencoba untuk menenangkan Duryodana, tapi ia Duryodana begitu kasar dan agresif. Dia menggunakan kata-kata yang paling kasar terhadap Widura, mengungkit masa kelahirannya dan mengatakan bahwa sementara perutnya itu tergantung pada makanan kerajaan Duryodana, hatinya berdebar dengan cinta untuk Pandawa.

Pada puncak kemarahan Widura Karena mendengar Duryodana menghinanya dan juga menghina ibunya juga, dia mengambil busur dan panahnya didepan Duryodana.

Tapi Krishna turun tangan dan berkata kepada Duryodana, "Wahai Duryodana, janganlah engkau memprovokasi Widura seperti ini. Jika Anda melanjutkannya, mungkin Widura akan mematahkan busur dan menyatakan bahwa ia tidak akan bertempur di sisi Anda dan akan menjadi netral".

Duryodana, dalam keadaan masih marah, dengan kesombongannya mengatakan bahwa tidak masalah jika Widura tidak turut serta dalam pertempuran. "Tanpa dia, saya dapat memenangkan perang".

Widura yang marah tidak mampu menerima penghinaan, dia menyatakan, "Krishna, Anda membimbing saya di jalan yang benar, saya tidak akan bertarung lagi".

Setelah berkata demikian, ia menjatuhkan busur dan pecah dengan suara menggelegar disertai kilatan petir. Widura mengucapkan terima kasih kepada Krishna dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Dengan demikian, Krishna membuka jalan bagi kemenangan Pandawa dan Widura membuktikan dirinya telah mengikuti suara hatinya.

Disaat orang-orang besar sekelas Bisma, Dronacharya dan Karna gagal mengikuti doktrin mereka sendiri di kasus-kasus tertentu.


Usia tua menghancurkan keindahan,
Godaan menghancurkan kesabaran,
Keserakahan merusak orang jahat,
Sifat baik seseorang menjadi asam sebagai akibat dari melayani orang fasik,
Nafsu menghancurkan rasa malu dan
EGO menghancurkan SETIAP HAL.





Minggu, 25 Desember 2016

UDDHAVA GITA : JAWABAN PERTANYAAN MENGAPA KHRISNA MEMBIARKAN PANDAWA BERMAIN JUDI DENGAN KURAWA

Sejak masa kecilnya, Uddhava telah mengikuti Krishna, melayaninya dalam banyak hal. Dia tidak pernah meminta apapun kepada Khrisna bahkan tidak pernah meminta anugerah. Menjelang akhir kehidupannya, Krishna berkata, “Uddhava, banyak orang telah meminta dan menerima anugerah dariku, tapi engkau tidak pernah meminta apa-apa. Mengapa tidak menanyakan sesuatu sekarang? Aku akan memberikannya, biarlah aku puas dapat menyelesaikan tugasku dengan memberikan engkau kepuasan juga”.

Meskipun Uddhava tidak meminta apa-apa untuk dirinya sendiri, ia telah mengamati Krishna dari masa kecilnya. Dia selalu bertanya-tanya tentang keputusan dan tindakan Krishna yang sulit dipahami. Dia bertanya, “Krishna, Anda mengajarkan kita untuk hidup dalam suatu cara, tetapi Anda hidup dengan cara yang berbeda. Dalam drama Mahabharata, dalam peran Anda bermain, dalam tindakan Anda, saya tidak mengerti banyak hal. Saya penasaran untuk memahami alasan tindakan Anda. Apakah Anda memenuhi keinginan saya untuk mengetahui?”.


Krishna mengatakan, “Uddhava, penjelasanku kepada Arjuna selama perang Kurukshetra adalah Bhagavad Gita. Hari ini, penjelasanku kepadamu akan dikenal sebagai 'Uddhava Gita'. Itulah sebabnya aku berikan kesempatan ini untukmu. Bertanyalah tanpa ragu-ragu".

Uddhava mulai bertanya, “Krishna, pertama jelaskanlah kepadaku apa makna teman sejati”.

Krishna menjawab, “Teman sejati adalah orang yang datang membantu temannya yang membutuhkan bahkan tanpa diminta".

Uddhava: “Krishna, engkau adalah teman sejati Pandawa. Mereka sangat percaya terhadap engkau sepenuhnya, mereka menganggap engkau adalah pelindungnya dari kesulitan. Krishna, engkau tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi kau tahu apa yang akan terjadi. Engkau baru saja menjelaskan kepadaku apa makna teman sejati, lalu mengapa engkau tidak bertindak sesuai yang engkau jelaskan tadi. Mengapa engkau tidak menghentikan Yudistira dari permainan judi? Baiklah, engkau tidak melakukannya, tapi mengapa engkau tidak mengubah keberuntungan Yudistira, dimana engkau dapat menjadikan dharma menang. Engkau tidak melakukan itu juga. Engkau setidaknya bisa menahan Yudistira setelah ia kehilangan kekayaan, negara dan dirinya sendiri. Engkau bisa membebaskannya dari hukuman karena berjudi. Atau, Engkau bisa memasuki aula ketika ia mulai mempertaruhkan saudara-saudaranya. Engkau tidak melakukan itu. Setidaknya ketika Duryodana menawarkan mengembalikan semua yang telah hilang jika dia bersedia mempertaruhkan Dropadi yang selalu membawa nasib baik untuk Pandawa. Engkau dapat turun tangan dan dengan kekuatanmu, Engkau dapat membuat dadu bergulir untuk kemenangan Yudistira. Namun sebaliknya, Engkau campur tangan hanya ketika Dropadi hampir kehilangan harga diri dan sekarang engkau mengklaim bahwa engkau memberi pakaian dan menjaga harga diri Dropadi. Bagaimana bisa engkau mengklaim hal ini, setelah keberadaannya diseret ke aula oleh seorang pria dan dilepas jubahnya di depan begitu banyak orang, harga diri apa yang masih tersisa bagi seorang wanita? Apa yang telah engkau lakukan? Hanya ketika engkau membantu seseorang pada saat krisis, engkau dapat disebut penyelamat. Jika engkau tidak membantu dalam masa krisis, apa gunanya? Apakah Dharma?"
Pada saat Uddhava mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, air mata mulai menetes dari matanya.

Ini bukan pertanyaan dari Uddhava saja. Kita semua yang telah mengikuti kisah Mahabharata memiliki pertanyaan ini. Atas nama kita, Uddhava sudah meminta penjelasan Krishna.

Krishna tertawa, “Uddhava, hukum dunia ini: hanya orang yang memiliki Viveka (kecerdasan melalui diskriminasi) yang menang . Sementara Duryodana memiliki Viveka, Yudistira kekurangan hal itu. Itulah sebabnya Yudistira kalah”.

Uddhava semakin bingung. Krishna melanjutkan, “Sementara Duryodana memiliki banyak uang dan kekayaan untuk berjudi, dia tidak tahu bagaimana memainkan permainan dadu. Itulah sebabnya ia menggunakan Sangkuni untuk bermain judi. Itulah Viveka. Yudistira juga bisa berpikir sama dan menawarkan bahwa aku, sepupunya, akan bermain atas namanya. Jika Sangkuni dan aku bermain dadu, siapa yang kau pikir akan menang? Bisakah dia memanipulasi daduku dan memenangkan dadunya. Lupakan ini. Aku bisa memaafkan fakta bahwa Yudistira lupa untuk menyertakan aku dalam permainan. Tapi, tanpa Viveka, ia melakukan blunder lain. Dia “berdoa” bahwa agar aku tidak datang ke aula karena ia tidak ingin aku tahu bahwa dia dipaksa untuk memainkan permainan ini. Dia mengikat aku dengan doa-doanya dan tidak memungkinkan bagiku untuk masuk ke aula. Aku hanya di luar aula menunggu seseorang untuk memanggilku melalui doa-doa mereka. Bahkan ketika Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa kalah jadi taruhan, mereka hanya mengutuk Duryodhana dan merenung atas nasib mereka, mereka lupa untuk memanggilku. Bahkan Dropadi tidak memanggilku ketika Dursasana melepas ikatan rambutnya dan menyeretnya dihadapan saudaranya. Dia juga berdebat di aula, berdasarkan kemampuannya sendiri. Dia tidak pernah memanggilku. Akhirnya akal menang, ketika Dursasana mulai menelanjangnyai, dia menyerah tergantung pada kekuatan sendiri, dan mulai berteriak 'Krishna', dia baru berteriak memanggilku. Kemudian aku mendapat kesempatan untuk menjaga kehormatannya. Aku segera datang setelah dipanggil. Aku menyelamatkan kehormatannya. Apa kesalahanku dalam situasi ini?”

“Penjelasan yang indah, Kanha, saya terkesan. Namun, saya tidak tertipu. Dapatkah saya mengajukan pertanyaan lain”, kata Uddhava. Krishna memberinya izin untuk melanjutkan.


“Apakah ini berarti bahwa engkau akan datang hanya ketika engkau dipanggil! Apakah engkau tidak datang sendiri untuk membantu orang dalam krisis, untuk mewujudkan keadilan?", tanya Udhava.

Krishna tersenyum, “Udhava, di kehidupan ini setiap orang menjalani nasib berdasarkan karma mereka sendiri. Aku tidak menjalankannya. Aku tidak ikut campur di dalamnya. Aku hanya 'saksi'. Aku berdiri dekat denganmu, menjaga dan mengamati apa pun yang terjadi. Ini adalah Dharma”.

“Wow, sangat baik Krishna. Dalam hal ini, engkau akan berdiri dekat dengan kami, mengamati semua tindakan jahat kami, kami terus melakukan lebih dan lebih banyak lagi dosa, engkau akan tetap menonton kami. Engkau ingin kami melakukan lebih banyak kesalahan, menumpuk dosa dan menderita”, kata Udhava.

Krishna mengatakan, 'Udhava, sadarilah lebih dalam ucapanmu. Ketika kau memahami dan menyadari bahwa aku berdiri sebagai saksi di sebelahmu, bagaimana kau bisa melakukan sesuatu yang salah atau buruk. Kau pasti tidak bisa melakukan sesuatu yang buruk. Kau lupa ini dan berpikir bahwa kau dapat melakukan hal-hal tanpa sepengetahuanku. Itu adalah ketika kau mendapat masalah. Ketidaktahuan Yudistira adalah bahwa dia pikir dia bisa bermain judi tanpa sepengetahuanku. Jika Yudistira menyadari bahwa aku selalu hadir dengan semua orang dalam bentuk 'Sakshi' (saksi), maka tidak akan ada permainan yang akan diselesaikan dengan hasil berbeda?”.

Uddhava terpesona dengan jawaban Khrisna. Dia mengatakan, "Ini adalah filosofi yang mendalam, kebenaran besar! Bahkan ketika berdoa dan melakukan pujian kepada Tuhan dan memanggil-Nya untuk bantuan sesungguhnya hanyalah sekedar perasaan/kepercayaan. Ketika kita mulai percaya bahwa tidak ada yang bergerak tanpa Dia, bagaimana bisa kita tidak merasa kehadirannya sebagai Saksi? Bagaimana kita bisa melupakan ini dan bertindak?”

Sepanjang Bhagavad Gita, ini adalah filosofi Krishna yang disampaikan ke Arjuna. Dia adalah kusir serta pemandu bagi Arjuna, namun ia tidak berjuang sendiri. Sadarilah bahwa Saksi Yang Maha Agung ada didalam diri.

Sabtu, 24 Desember 2016

MENGAPA KHRISNA HANYA MEMINTA 5 DESA UNTUK PANDAWA?

Penawaran 5 desa diajukan untuk tiga alasan :

1. Menghindari pembantaian yang seharusnya dapat dihindari. Semua orang kecuali Yudistira ingin berperang. Yudistira adalah raja pertapa yang hanya memiliki sedikit keterikatan duniawi dan akan melakukan apa saja untuk menghindari dosa pembunuhan. Meski ada niat tulus untuk menghindari perang, tetapi bahkan saat ia membuat tawaran ini, Krishna tahu bahwa itu akan ditolak sehingga tetap harus dilakukan.

2. Untuk menampakkan kekonyolan Duryodana yang benar-benar tidak masuk akal menolak tawaran yang sangat menguntungkan pihaknya. Dengan demikian Pandawa memperoleh landasan moral yang tinggi menghadapi perang Kurusetra.

3. Seandainya penawaran diterima, maka 5 Desa dapat menjadi titik awal bagi suatu pembentukan negara yang besar. Pandawa sebelumnya pernah diberikan hutan dan berhasil mengkonversinya menjadi Kerajaan Indraprastha yang megah.

Duryodana menolak tawaran ini karena :

1. Dia merasa yakin bahwa timnya lebih tangguh, dimana dalam barisannya terdapat banyak tokoh sakti seperti Bisma, Drona, Kripa, Karna dan lain-lain.

2. Dia merasa bahwa penawaran Pandawa menunjukkan kelemahan posisi Pandawa. Dia merasa bahwa Pandawa mengemis karena mereka berpikir Kurawa sangat kuat. Dia tidak dapat melihat bahwa penawaran ini sangat baik untuk kedua belah pihak.

Jumat, 23 Desember 2016

BENARKAH KARNA LEBIH UNGGUL DIBANDING ARJUNA?

Kita lihat peristiwa-peristiwa yang melibatkan 2 tokoh besar dalam Mahabharata, Arjuna dan Karna.

1. Dalam masa pendidikan dibawah pengajaran Guru Dorna, diadakan pertunjukan ketrampilan untuk murid-muridnya, Pandawa VS Kurawa untuk hiburan para pemimpin dan warga Hastinapura. Dalam pertunjukan itu Arjuna menggungguli semua murid Dorna hingga akhirnya Karna meminta kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Karna mengklaim bahwa dia lebih jago dibandingkan Arjuna. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Karna diberi kesempatan untuk berduel dengan Arjuna. Pertarungan berjalan seimbang hingga matahari terbenam dan duel tidak bisa dilanjutkan. Skor 0-0

2. Dorna meminta dakshina atau upah kepada murid-muridnya untuk menangkap Drupada yang telah mempermalukannya. Korawa dengan dibantu Karna menyerang Drupada namun Drupada dapat memukul mundur mereka. Kemudian Pandawa yang dipimpin oleh Arjuna menyerang Drupada dan berhasil menangkapnya. Arjuna melakukan apa yang tidak bisa dilakukan Karna. Skor 1-0 untuk Arjuna.

3. Dalam sayembara Drupadi, Arjuna yang menyamar sebagai Brahmana memenangkan sayembara tersebut. Raja-Raja yang hadir merasa bahwa Drupada telah menghina mereka dengan menyerahkan putrinya kepada seorang Brahmana bukan kepada Ksatria. Para Raja menyerang Drupada. Arjuna berhadapan dengan Karna, namun Karna memutuskan untuk menghentikan pertarungan karena enggan melawan seorang Brahmana. Hasil draw, skor tetap 1-0 untuk Arjuna.

4. Sewaktu di hutan, terjadi pertikaian Gandarva dengan Kurawa dan Karna. Gandarva mengalahkan pasukan Kurawa dan melukai Karna hingga dia melarikan diri. Gandarva yang sama dipukul mundur oleh Arjuna. Skor 2-0 untuk Arjuna.

5. Pada pertempuran Wirata, Arjuna berjuang seorang diri melawan seluruh pasukan Kurawa dan mengalahkan semua jenderal Kurawa termasuk Karna. Penampilan solo yang memukau. Pertempuran ini dianggap tidak akurat mencerminkan keterampilan Karna karena tidak membawa senjata saktinya. Tetapi salah siapa prajurit tidak membawa senjatanya? Seperti petani ke sawah tidak membawa cangkul, atau batman yang lupa membawa sayapnya sehingga tidak bisa terbang. Hasil nyata 3-0 untuk Arjuna.

6. Dalam pertarungan besar di palagan Kurusetra, Arjuna mengalahkan Karna. Skor akhir 4-0 untuk Arjuna.

7. Arjuna di jalan yang benar, dibelakangnya ada Khrisna. Khrisna sendiri adalah Kebenaran. Bonus skor menjadi 5-0 untuk Arjuna.

Senin, 05 Desember 2016

KARNA, BUAH MANIS YANG MENJADI BUSUK

Karna adalah seorang pahlawan hitam. Dia adalah buah manis yang menjadi busuk. Dia adalah seorang manusia yang begitu indah tetapi diinvestasikan dalam keburukan. Kepahitan membawanya ke dalam kisah hidup bencana. Dia adalah seorang pria fenomenal yang memiliki integritas dan kemurahan hati tapi semunya sirna. Dia meninggal dalam pertempuran dengan cara yang buruk.

Dia marah karena dia tidak tahu asal usulnya, dia tidak tahu orang tua yang sesungguhnya. Tetapi orang-orang yang merawatnya, begitu mencintainya, memperlakukannya dengan kasih sayang. Orang tua angkatnya menyayanginya seperti anak sendiri.

Kompetisi hidup dan kehendak nasib membawanya menjadi seorang raja. Faktanya, “anak” seorang kusir ini menjadi raja, dia seharusnya benar-benar bahagia. Seorang anak yang ditemukan hanyut di air tumbuh menjadi seorang raja. Apakah bukan hal yang indah? Tapi tidak, dia tidak pernah menghilangkan kebenciannya. Dia selalu sengsara karena dia tidak bisa berdamai dengan cap nya sebagai putra kusir. Sepanjang hidupnya ia mengeluh tentang hal ini. Sepanjang waktu, ia pelihara kepahitan dalam dirinya hanya karena dianggap memiliki kasta rendah.

Kepahitan ini membuat manusia yang indah menjadi karakter jahat dan jelek dalam Mahabharata. Dia adalah seorang manusia yang besar dan menunjukkan kebesarannya dalam situasi yang berbeda, tetapi karena kepahitan ini, dalam banyak hal melakukan kesalahan.

Karena rasa terimakasihnya kepada Duryodhana, ia harus membenci Pandawa meskipun tidak ada kebencian di dalam hatinya. Dengan kebencian, ia berusaha membuktikan kesetiaannya dan bersyukur atas apa yang telah dilakukan Duryodana baginya.

Karna menemui ajalnya dengan panah Arjuna. Keberadaannya tidak membuat penilaian tentang yang baik atau buruk. Hanya situasi sosial yang mencoba untuk menilai orang baik dan buruk. Hanya manusia individu yang mencoba untuk menilai kita dengan baik dan buruk. Keberadaan tidak pernah menghakimi karena tidak ditulis bahwa satu hal baik dan beberapa hal lain yang buruk. Hanya saja jika kita melakukan hal yang benar, hasil yang tepat terjadi pada kita. Jika kita tidak melakukan hal yang benar, hal yang benar tidak terjadi pada kita. Ini sangat adil…

PENGAMPUNAN

Salah satu pelajaran terbesar yang bisa dipelajari dari Mahabharata adalah pengampunan, memaafkan orang lain dan memaafkan diri kita sendiri! Jika Pandu mengampuni dirinya untuk membunuh orang suci, jika Karna mengampuni Drupadi yang melecehkannya dan Kunti yang telah membuangnya, jika Duryodana mengampuni Drupadi yang menertawakannya, jika Drupadi mengampuni Kurawa ... dan seterusnya dan seterusnya. Jika pengampunan itu diberikan dalam kasus ini dan banyak kasus lainnya, kisah Mahabharata tidak akan berputar begitu banyak di sekitar rasa sakit dan penderitaan.

Pengampunan selalu membantu kita untuk lebih berbahagia.

KARMA

Karma bukanlah hukuman. Bukan pula takdir yang dijatuhkan oleh kekuatan di luar diri kita. Karma adalah kesadaran bahwa setiap tindakan yang...