Kamis, 11 Juni 2026

Yang Harus Diurus Negara

Ada orang yang kalau datang ke hajatan langsung ikut ngatur parkiran, menu prasmanan, posisi kursi, sampai cara pengantin tersenyum. Niatnya baik, tapi kadang yang punya hajatan malah bingung: "Ini yang punya acara saya atau sampeyan?"

Begitu juga negara.

Kadang kita membayangkan negara harus hadir di semua urusan. Dari bangun sekolah, jual beras, urus sepak bola, bikin bank, buka toko, sampai mungkin kalau bisa sekalian ngatur berapa cabai yang harus dipakai untuk sambal.

Padahal, tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.

Kebijaksanaan bukan terletak pada melakukan banyak hal, melainkan mengetahui apa yang perlu dilakukan dan apa yang perlu ditinggalkan.

Kalau masyarakat sudah bisa mengurus sesuatu dengan baik, ya biarkan mereka mengurusnya.

Sepak bola bisa jalan? Silakan jalan.

Sekolah swasta tumbuh subur? Alhamdulillah.

Komunitas seni hidup? Bagus.

Negara tidak harus duduk di kursi sopir setiap kendaraan yang sudah bisa berjalan sendiri.

Kalau mau membantu, cukup bantu jalannya tetap mulus. Misalnya menyediakan sarana dan prasarana, memastikan ada sekolah negeri gratis yang layak sehingga warga yang kantongnya pas-pasan tetap punya pilihan. Negara menjadi pagar pengaman, bukan pemilik semua permainan.

Sebaliknya, ada urusan yang memang sulit diurus masyarakat karena tidak menguntungkan secara bisnis.

Bandara di daerah terpencil.

Pelabuhan di pulau kecil.

Jalan yang menghubungkan desa dengan kota.

Jembatan yang menyambung kehidupan.

Kalau disuruh menghitung laba rugi murni, mungkin swasta akan menggeleng pelan. Tetapi manfaatnya untuk masyarakat sangat besar. Di situlah negara memang layak hadir.

Negara bukan penjaga warung yang sibuk menghitung recehan. Negara seharusnya menjadi pembangun jalan menuju warung itu.

Begitu pula urusan haji. Jika masyarakat sudah mampu mengurus banyak hal sendiri, negara cukup menjadi fasilitator yang memastikan aturan jelas, pelayanan tertib, dan tidak ada yang dirugikan. Tidak semua urusan harus dipegang erat sampai jari-jari pegal.

Negara juga tidak perlu terlalu sibuk mengurus perkara-perkara yang sebenarnya bisa diselesaikan pasar dan masyarakat.

Warung makan?

Toko kelontong?

Usaha kecil?

Biarkan tumbuh seperti rumput yang menemukan jalannya sendiri ke arah matahari.

Kalau negara terlalu gemar ikut berjualan, lama-lama ia bukan lagi wasit, melainkan ikut turun menjadi pemain.

Akibatnya lucu.

Di satu sisi negara membuat aturan pertandingan.

Di sisi lain negara ikut bertanding.

Bank-bank swasta seperti Bank Central Asia, Bank Sinarmas, dan Permata Bank harus bersaing dengan bank milik negara seperti Bank Rakyat Indonesia dan Bank Negara Indonesia. Persaingan tentu boleh, tetapi negara perlu berhati-hati agar tidak berubah dari pengatur lapangan menjadi pemain yang sekaligus memegang peluit.

Negara jangan menjadi pesaing toko kelontong. Jangan menjadi pesaing warung makan. Tugas negara lebih besar daripada sekadar ikut mencari pelanggan.

Konon, Konfusius pernah mengajarkan bahwa pemerintahan terbaik adalah yang kehadirannya nyaris tidak dirasakan rakyat. Bukan karena tidak bekerja, tetapi karena segala sesuatu berjalan begitu baik sehingga orang tidak merasa sedang diatur setiap saat.

Seperti udara.

Kita tidak memuji udara setiap pagi.

Tetapi ketika udara hilang, barulah kita panik.

Mungkin negara yang baik juga seperti itu. Tidak sibuk tampil di panggung. Tidak tergoda mengurusi setiap sendok dan garpu milik rakyat. Ia hadir ketika dibutuhkan, membantu ketika diperlukan, lalu mundur selangkah agar masyarakat bisa tumbuh dua langkah.

Karena tugas negara bukan mengurus semuanya.

Melainkan memastikan semuanya bisa terurus.

Selasa, 16 Desember 2025

Bab 81. Kebenaran dan Kebajikan

Kata-kata yang benar tidaklah indah, 

kata-kata yang indah tidak selalu benar. 

Orang bijak tidak menimbun, 

semakin ia memberi, semakin ia berkelimpahan. 

Jalan Tao memberi manfaat bagi segala sesuatu tanpa menimbulkan pertentangan.

Bab 80. Negara Kecil, Rakyat Sedikit

Negara kecil dengan rakyat sedikit membuat kehidupan tenteram. 

Walau memiliki berbagai alat, mereka tidak bergantung padanya. 

Orang merasa cukup dengan makanannya, 

puas dengan tempat tinggalnya, 

dan tenteram dengan adat kebiasaannya.

Bab 79. Penyelesaian Tanpa Dendam

Setelah perselisihan diselesaikan, sisa kebencian tetap tinggal. 

Orang bijak memegang bagian yang menjadi tanggung jawabnya dan tidak menuntut dari orang lain. 

Tao Surgawi tidak memihak, namun selalu berpihak pada yang berbudi.

Bab 78. Kelembutan Mengalahkan Kekerasan

Di dunia ini tidak ada yang lebih lembut dan lemah daripada air, 

namun dalam menghadapi yang keras dan kuat, tidak ada yang mampu mengalahkannya. 

Yang lemah menaklukkan yang kuat, yang lembut menundukkan yang keras. 

Semua orang mengetahuinya, tetapi tidak ada yang mampu mempraktikkannya.

Bab 77. Jalan Tao dan Jalan Manusia

Jalan Tao mengurangi yang berlebih dan menambah yang kurang. 

Jalan manusia justru mengurangi yang kurang dan menambah yang berlebih. 

Orang bijak memberi tanpa menyimpan, bekerja tanpa memiliki, dan menyelesaikan tanpa menguasai.

Bab 76. Kelembutan dan Kehidupan

Ketika hidup, manusia lembut dan lentur. 

Ketika mati, ia kaku dan keras. 

Yang keras dan kaku adalah pengikut kematian, 

yang lembut dan lentur adalah pengikut kehidupan.

Yang Harus Diurus Negara

Ada orang yang kalau datang ke hajatan langsung ikut ngatur parkiran, menu prasmanan, posisi kursi, sampai cara pengantin tersenyum. Niatnya...