Ada manusia yang hidup puluhan tahun, namun tak pernah benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri. Ia makan tanpa merasakan, tidur tanpa beristirahat, mencinta hanya karena dorongan naluri, dan menghadapi kematian seolah sesuatu yang tak ada hubungannya dengan dirinya. Ia bergerak, bekerja, berbicara, bahkan berpikir, tetapi lebih mirip daun yang diterbangkan angin daripada nahkoda yang mengemudikan kapal.
Para
bijak berkata, hidup manusia sesungguhnya berputar pada empat gerbang yang
paling mendasar: makan, tidur, hubungan biologis, dan kematian. Hewan mengenal
keempatnya. Manusia pun demikian. Namun yang membedakan manusia bukanlah
aktivitasnya, melainkan kesadarannya.
Ketika
engkau makan dengan sadar, engkau belajar bersyukur. Ketika engkau tidur dengan
sadar, engkau belajar melepaskan. Ketika engkau menjalani hasrat dengan sadar,
engkau belajar bertanggung jawab. Ketika engkau mengingat kematian dengan
sadar, engkau belajar menghargai kehidupan.
Di
situlah kemanusiaan bertumbuh.
Menjadi
manusia bukanlah prestasi yang kita raih atas usaha sendiri. Kita tidak pernah
memilih lahir sebagai manusia, sebagaimana ulat tidak memilih menjadi
kupu-kupu. Evolusi telah mengantarkan kita ke sini. Namun setelah sampai di
titik ini, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: manusia seperti apakah
yang hendak kita jadikan diri kita?
Sering
kali kita berkata, "Aku tidak punya pilihan." Padahal yang sebenarnya
terjadi adalah kita belum terlatih menggunakan pilihan itu. Kita begitu
terbiasa mengikuti dorongan, kebiasaan, amarah, ketakutan, dan keinginan sesaat
hingga mengira semuanya adalah takdir.
Padahal
di antara rangsangan dan tindakan selalu ada ruang kecil yang bernama
kesadaran. Di ruang itulah kebebasan tinggal.
Melatih
kesadaran bukan berarti menjadi sempurna. Ia hanya mengajak kita berhenti
sejenak sebelum bereaksi, melihat sebelum menilai, dan memilih sebelum
bertindak. Sedikit demi sedikit, hidup yang semula dijalani secara otomatis
berubah menjadi hidup yang dijalani dengan sengaja.