“Ibu, restuilah aku gugur sebagai seorang ksatria.”
Begitulah permohonan terakhir Gatotkaca sebelum berpisah dengan ibunya.
Bukan sekadar mati di medan perang, melainkan mati sebagai ksatria. Sebab gugur sebagai ksatria hanya dapat diraih oleh jiwa yang benar-benar ksatria. Mungkin karena itulah Gatotkaca memohon restu itu kepada ibunya—restu untuk menjaga kehormatan hingga hembusan napas terakhir.
Ia tidak meminta restu untuk menjadi kaya, sebab kekayaan pun dapat dimiliki oleh para koruptor.
Ia tidak meminta restu untuk meraih pangkat tinggi, sebab para penjilat, penyuap, dan orang licik pun mampu duduk di singgasana kekuasaan.
Ia juga tidak meminta restu agar selamat dari Perang Kurusetra, sebab seorang pengecut sering kali justru pulang dengan nyawa utuh.
Yang diminta Gatotkaca hanyalah satu:
agar ketika ajal menjemputnya, ia tetap berdiri di pihak kehormatan.
Karena bagi seorang ksatria sejati, kemuliaan bukan terletak pada panjangnya usia, melainkan pada cara ia mempertahankan harga dirinya.