Ada orang yang kalau datang ke hajatan langsung ikut ngatur parkiran, menu prasmanan, posisi kursi, sampai cara pengantin tersenyum. Niatnya baik, tapi kadang yang punya hajatan malah bingung: "Ini yang punya acara saya atau sampeyan?"
Begitu juga negara.
Kadang kita membayangkan negara
harus hadir di semua urusan. Dari bangun sekolah, jual beras, urus sepak bola,
bikin bank, buka toko, sampai mungkin kalau bisa sekalian ngatur berapa cabai
yang harus dipakai untuk sambal.
Padahal, tidak semua yang bisa
dilakukan harus dilakukan.
Kebijaksanaan bukan terletak pada
melakukan banyak hal, melainkan mengetahui apa yang perlu dilakukan dan apa
yang perlu ditinggalkan.
Kalau masyarakat sudah bisa mengurus
sesuatu dengan baik, ya biarkan mereka mengurusnya.
Sepak bola bisa jalan? Silakan
jalan.
Sekolah swasta tumbuh subur?
Alhamdulillah.
Komunitas seni hidup? Bagus.
Negara tidak harus duduk di kursi
sopir setiap kendaraan yang sudah bisa berjalan sendiri.
Kalau mau membantu, cukup bantu
jalannya tetap mulus. Misalnya menyediakan sarana dan prasarana, memastikan ada
sekolah negeri gratis yang layak sehingga warga yang kantongnya pas-pasan tetap
punya pilihan. Negara menjadi pagar pengaman, bukan pemilik semua permainan.
Sebaliknya, ada urusan yang memang
sulit diurus masyarakat karena tidak menguntungkan secara bisnis.
Bandara di daerah terpencil.
Pelabuhan di pulau kecil.
Jalan yang menghubungkan desa dengan
kota.
Jembatan yang menyambung kehidupan.
Kalau disuruh menghitung laba rugi
murni, mungkin swasta akan menggeleng pelan. Tetapi manfaatnya untuk masyarakat
sangat besar. Di situlah negara memang layak hadir.
Negara bukan penjaga warung yang
sibuk menghitung recehan. Negara seharusnya menjadi pembangun jalan menuju
warung itu.
Begitu pula urusan haji. Jika
masyarakat sudah mampu mengurus banyak hal sendiri, negara cukup menjadi
fasilitator yang memastikan aturan jelas, pelayanan tertib, dan tidak ada yang
dirugikan. Tidak semua urusan harus dipegang erat sampai jari-jari pegal.
Negara juga tidak perlu terlalu
sibuk mengurus perkara-perkara yang sebenarnya bisa diselesaikan pasar dan
masyarakat.
Warung makan?
Toko kelontong?
Usaha kecil?
Biarkan tumbuh seperti rumput yang
menemukan jalannya sendiri ke arah matahari.
Kalau negara terlalu gemar ikut
berjualan, lama-lama ia bukan lagi wasit, melainkan ikut turun menjadi pemain.
Akibatnya lucu.
Di satu sisi negara membuat aturan
pertandingan.
Di sisi lain negara ikut bertanding.
Bank-bank swasta seperti Bank
Central Asia, Bank Sinarmas, dan Permata Bank harus bersaing dengan bank milik
negara seperti Bank Rakyat Indonesia dan Bank Negara Indonesia. Persaingan
tentu boleh, tetapi negara perlu berhati-hati agar tidak berubah dari pengatur
lapangan menjadi pemain yang sekaligus memegang peluit.
Negara jangan menjadi pesaing toko
kelontong. Jangan menjadi pesaing warung makan. Tugas negara lebih besar daripada
sekadar ikut mencari pelanggan.
Konon, Konfusius pernah mengajarkan
bahwa pemerintahan terbaik adalah yang kehadirannya nyaris tidak dirasakan
rakyat. Bukan karena tidak bekerja, tetapi karena segala sesuatu berjalan
begitu baik sehingga orang tidak merasa sedang diatur setiap saat.
Seperti udara.
Kita tidak memuji udara setiap pagi.
Tetapi ketika udara hilang, barulah
kita panik.
Mungkin negara yang baik juga
seperti itu. Tidak sibuk tampil di panggung. Tidak tergoda mengurusi setiap
sendok dan garpu milik rakyat. Ia hadir ketika dibutuhkan, membantu ketika
diperlukan, lalu mundur selangkah agar masyarakat bisa tumbuh dua langkah.
Karena tugas negara bukan mengurus
semuanya.