Senin, 22 Juni 2026

Surat untuk Indonesia di Tahun 2045

Indonesia tercinta,

Kalau surat ini benar-benar sampai kepadamu di tahun 2045, pertama-tama saya ingin bertanya: apakah macet sudah tinggal cerita? Atau justru mobil sudah bisa terbang, tapi yang macet pindah ke langit?

Saya menulis surat ini dari masa ketika orang-orang lebih sering berdebat di kolom komentar daripada di balai desa. Masa ketika berita palsu berlari lebih cepat daripada klarifikasi, dan ketika secangkir kopi kadang lebih mahal daripada sebsayal beras. Tapi begitulah, negeri ini selalu punya cara unik untuk bertahan hidup, kadang dengan kerja keras, kadang dengan doa, dan tidak jarang dengan humor.

Saya membayangkan Indonesia tahun 2045 sebagai negeri yang semakin maju, namun tidak kehilangan kemampuan untuk tertawa. Sebab bangsa yang terlalu serius bisa cepat marah, sedangkan bangsa yang masih bisa tertawa biasanya masih punya harapan.

Jalaluddin Rumi pernah berkata, "Di balik benar dan salah, ada sebuah taman. Saya akan menemuimu di sana." Saya berharap taman itu bernama Indonesia, tempat orang boleh berbeda pendapat, tetapi tidak saling memutus persaudaraan. Tempat orang boleh berbeda pilihan, tetapi tetap duduk semeja ketika hajatan tetangga.

Saya berharap anak-anak Indonesia tahun 2045 tidak lagi bertanya, "Kalau besar saya harus merantau ke mana?" melainkan, "Di kota mana saya bisa membangun negeri?" Karena negeri yang baik bukanlah negeri yang membuat rakyatnya pergi jauh, melainkan yang membuat mereka ingin pulang.

Saya juga berharap para pemimpin di tahun 2045 tetap ingat bahwa kursi jabatan bukanlah singgasana. Kata Rumi, "Kemarin saya pandai, maka saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, maka saya mengubah diriku sendiri." Maka semoga para pemimpin lebih sibuk memperbaiki diri daripada memperbesar foto diri.

Dan untuk rakyat Indonesia, semoga kita tidak kehilangan kebiasaan paling ajaib yang dimiliki negeri ini, gotong royong. Sebab kadang yang membuat hidup terasa ringan bukan karena masalahnya kecil, melainkan karena banyak tangan yang ikut memikul.

Kalau pada tahun 2045 harga cabai masih naik turun, ya tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai moral ikut fluktuatif. Kalau pertandingan sepak bola masih membuat satu kampung tidak tidur, ya tidak apa-apa. Yang penting persatuan jangan ikut cedera.

Rumi juga berbisik dari abad yang jauh, "Mengapa engkau tinggal di penjara, padahal pintunya terbuka?" Maka, Indonesia, jangan takut bermimpi besar. Jangan merasa kecil hanya karena pernah jatuh. Bukankah padi semakin berisi semakin merunduk? Kecuali sinyal internet, semakin penuh justru semakin lemot.

Saya percaya, kemajuan bukan hanya soal gedung yang tinggi atau teknologi yang canggih. Kemajuan adalah ketika orang kecil tidak merasa kecil. Ketika keadilan tidak hanya tertulis di dinding pengadilan. Ketika guru tersenyum karena dihormati, petani tersenyum karena hasil panennya dihargai, dan pejabat tersenyum karena laporan kekayaannya tidak membuat KPK ikut tersenyum.

Pada akhirnya, seperti kata Rumi, "Biarkan keindahan yang kau cintai menjadi apa yang kau lakukan." Maka biarlah kecintaan kepada Indonesia tidak berhenti pada upacara dan lagu kebangsaan, melainkan menjelma menjadi kejujuran, kerja keras, dan kepedulian.

Jika kelak Indonesia tahun 2045 membaca surat ini, jangan tertawakan kami yang hidup di tahun-tahun penuh kebingungan ini. Kami memang sering salah arah, kadang ribut sendiri, sesekali tersandung, tetapi kami tetap berjalan. Sebab cinta kepada negeri ini seperti cinta ibu kepada anaknya, kadang mengeluh, kadang marah, tetapi tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan.

Salam hangat dari masa lalu.

Dari generasi yang masih sering lupa password, tetapi tidak ingin lupa pada cita-cita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Surat untuk Indonesia di Tahun 2045

Indonesia tercinta, Kalau surat ini benar-benar sampai kepadamu di tahun 2045, pertama-tama saya ingin bertanya: apakah macet sudah tingga...