Indonesia tercinta,
Kalau surat ini benar-benar sampai
kepadamu di tahun 2045, pertama-tama saya ingin bertanya: apakah macet sudah
tinggal cerita? Atau justru mobil sudah bisa terbang, tapi yang macet pindah ke
langit?
Saya menulis surat ini dari masa
ketika orang-orang lebih sering berdebat di kolom komentar daripada di balai
desa. Masa ketika berita palsu berlari lebih cepat daripada klarifikasi, dan
ketika secangkir kopi kadang lebih mahal daripada sebsayal beras. Tapi
begitulah, negeri ini selalu punya cara unik untuk bertahan hidup, kadang
dengan kerja keras, kadang dengan doa, dan tidak jarang dengan humor.
Saya membayangkan Indonesia tahun
2045 sebagai negeri yang semakin maju, namun tidak kehilangan kemampuan untuk
tertawa. Sebab bangsa yang terlalu serius bisa cepat marah, sedangkan bangsa
yang masih bisa tertawa biasanya masih punya harapan.
Jalaluddin Rumi pernah berkata, "Di
balik benar dan salah, ada sebuah taman. Saya akan menemuimu di sana."
Saya berharap taman itu bernama Indonesia, tempat orang boleh berbeda pendapat,
tetapi tidak saling memutus persaudaraan. Tempat orang boleh berbeda pilihan,
tetapi tetap duduk semeja ketika hajatan tetangga.
Saya berharap anak-anak Indonesia
tahun 2045 tidak lagi bertanya, "Kalau besar saya harus merantau ke
mana?" melainkan, "Di kota mana saya bisa membangun negeri?"
Karena negeri yang baik bukanlah negeri yang membuat rakyatnya pergi jauh,
melainkan yang membuat mereka ingin pulang.
Saya juga berharap para pemimpin di
tahun 2045 tetap ingat bahwa kursi jabatan bukanlah singgasana. Kata Rumi, "Kemarin
saya pandai, maka saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, maka saya
mengubah diriku sendiri." Maka semoga para pemimpin lebih sibuk
memperbaiki diri daripada memperbesar foto diri.
Dan untuk rakyat Indonesia, semoga
kita tidak kehilangan kebiasaan paling ajaib yang dimiliki negeri ini, gotong
royong. Sebab kadang yang membuat hidup terasa ringan bukan karena masalahnya
kecil, melainkan karena banyak tangan yang ikut memikul.
Kalau pada tahun 2045 harga cabai
masih naik turun, ya tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai moral ikut
fluktuatif. Kalau pertandingan sepak bola masih membuat satu kampung tidak
tidur, ya tidak apa-apa. Yang penting persatuan jangan ikut cedera.
Rumi juga berbisik dari abad yang
jauh, "Mengapa engkau tinggal di penjara, padahal pintunya
terbuka?" Maka, Indonesia, jangan takut bermimpi besar. Jangan merasa
kecil hanya karena pernah jatuh. Bukankah padi semakin berisi semakin merunduk?
Kecuali sinyal internet, semakin penuh justru semakin lemot.
Saya percaya, kemajuan bukan hanya
soal gedung yang tinggi atau teknologi yang canggih. Kemajuan adalah ketika
orang kecil tidak merasa kecil. Ketika keadilan tidak hanya tertulis di dinding
pengadilan. Ketika guru tersenyum karena dihormati, petani tersenyum karena hasil
panennya dihargai, dan pejabat tersenyum karena laporan kekayaannya tidak
membuat KPK ikut tersenyum.
Pada akhirnya, seperti kata Rumi, "Biarkan
keindahan yang kau cintai menjadi apa yang kau lakukan." Maka biarlah
kecintaan kepada Indonesia tidak berhenti pada upacara dan lagu kebangsaan,
melainkan menjelma menjadi kejujuran, kerja keras, dan kepedulian.
Jika kelak Indonesia tahun 2045
membaca surat ini, jangan tertawakan kami yang hidup di tahun-tahun penuh
kebingungan ini. Kami memang sering salah arah, kadang ribut sendiri, sesekali
tersandung, tetapi kami tetap berjalan. Sebab cinta kepada negeri ini seperti
cinta ibu kepada anaknya, kadang mengeluh, kadang marah, tetapi tidak pernah
benar-benar ingin meninggalkan.
Salam hangat dari masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar