"Jalan menuju kebenaran mungkin beragam, tetapi tujuannya tetap satu. Bukankah ada banyak jalan menuju Ka'bah? Ada yang berangkat dari Roma, dari Suriah, dari Persia, dari Cina, bahkan ada yang menempuh perjalanan laut dari India dan Yaman.
Jika yang diperhatikan adalah jalannya, maka perbedaannya tampak begitu besar dan seolah tak berujung. Namun jika yang diperhatikan adalah tujuannya, semuanya menjadi satu. Mereka sepakat menuju tempat yang sama. Hati mereka pun bersatu di hadapan Ka'bah."
— Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi
Tentang sempitnya cara pandang dalam beragama, Rumi menulis sebuah kisah dalam Matsnawi:
"Seekor gajah ditempatkan di sebuah ruangan yang gelap. Beberapa orang datang untuk melihatnya. Karena tidak dapat melihat dengan mata, mereka mencoba mengenalinya dengan meraba.
Seseorang yang menyentuh belalainya berkata, 'Makhluk ini seperti pipa air.'
Yang menyentuh telinganya berkata, 'Tidak, makhluk ini seperti kipas.'
Yang memegang kakinya berkata, 'Menurutku ia seperti tiang.'
Sementara yang meraba punggungnya berpendapat, 'Gajah ini menyerupai singgasana.'
Masing-masing merasa benar berdasarkan bagian yang disentuhnya. Namun ketika lilin dinyalakan dan cahaya menerangi ruangan, perbedaan itu pun lenyap. Mereka akhirnya melihat bahwa yang mereka pahami selama ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan."
— Matsnawi, Jalaluddin Rumi
Dua kutipan ini menyampaikan pesan yang sama: perbedaan sering muncul karena manusia melihat kebenaran dari sudut yang terbatas. Ketika perhatian tertuju pada jalan, bentuk, atau bagian-bagian yang berbeda, pertentangan mudah muncul. Namun ketika tujuan dan hakikatnya terlihat dengan lebih utuh, perbedaan itu sering kali berubah menjadi pemahaman.