Konon, di sebuah negeri yang indah, hiduplah para pelaut yang gemar berlayar mencari mutiara. Ketika laut tenang dan jaring mereka penuh, mereka berdiri di geladak dengan dada membusung. Mereka berkata, “Lihatlah betapa hebatnya aku membaca arah angin dan memahami samudra.”
Namun ketika badai datang dan jaring mereka kosong, mereka berubah menjadi ahli hikmah yang pandai berbicara tentang kesalahan orang lain. Mereka menyalahkan mercusuar yang dianggap redup, pelabuhan yang dianggap lalai, peta yang dianggap usang, bahkan bulan dan bintang yang dituduh tak lagi setia menunjukkan arah.
Tak ada yang salah dengan mengoreksi mercusuar, memperbaiki pelabuhan, atau mengganti peta yang sudah tak layak. Tetapi ada sesuatu yang lebih ganjil dari itu semua: para pelaut tersebut tak pernah memeriksa perahunya sendiri. Mereka lupa bahwa layar yang robek, kemudi yang rapuh, dan keputusan yang tergesa-gesa, sering kali menjadi sebab yang lebih dekat daripada badai yang mereka kutuk.
Begitulah tabiat manusia. Ketika keberuntungan datang, ia menjadikan dirinya dewa. Tetapi ketika kerugian singgah, ia mendadak menjadi filsuf yang sibuk mencari kambing hitam. Ia memelihara banyak kambing, tetapi membiarkan cermin di rumahnya berdebu.
Padahal cermin tidak pernah menghakimi. Ia hanya menunjukkan apa adanya. Cermin tidak mengambil untung ketika kita berhasil, dan tidak pula menghina ketika kita gagal. Ia hanya mengajak manusia berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua kemenangan adalah buah kejeniusannya, dan tidak semua kekalahan adalah kesalahan dunia.
Maka mungkin, kemiskinan yang paling menyedihkan bukanlah kekurangan harta, melainkan kemiskinan keberanian untuk menatap diri sendiri. Sebab manusia yang kehilangan uang masih dapat bekerja kembali, tetapi manusia yang kehilangan kejujuran kepada dirinya sendiri akan terus hidup dengan memelihara kambing hitam, sembari bertanya mengapa ia tak pernah menemukan jalan pulang.
Dan negeri ini akan selalu indah, apabila lebih banyak orang yang bersedia membersihkan cermin daripada sibuk mencari kambing untuk dipersalahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar