Ada orang yang menghabiskan hidupnya mengejar satu pertanyaan: "Apa yang membuatku bahagia?" Namun alam semesta seolah bertanya dengan cara yang berbeda: "Apakah caramu hidup membuat kehidupan menyukaimu?"
Kita terlalu sibuk memilih apa yang kita sukai dan apa yang kita benci. Padahal, kesukaan dan kebencian kita tidak mengubah cara kehidupan bekerja. Matahari tetap terbit untuk semua. Hujan tetap turun tanpa memilih halaman siapa yang layak dibasahi.
Masalahnya bukan apa yang kamu sukai. Masalahnya adalah, apakah keberadaanmu membuat sekitarmu menyukaimu? Apakah langkahmu membawa manfaat, atau justru menyisakan luka? Sudahkah kamu hidup sedemikian rupa hingga orang, keadaan, bahkan kehidupan sendiri, sulit untuk tidak menerimamu?
Kesukaan adalah lensa. Kebencian juga lensa. Keduanya membuat kita berhenti melihat kenyataan apa adanya. Ketika menyukai sesuatu, kita cenderung membesarkannya. Ketika membencinya, kita mengecilkan nilainya. Maka kita tidak lagi melihat dunia, melainkan melihat pantulan keinginan kita sendiri.
Dan ketika kenyataan tidak lagi terlihat apa adanya, kita kehilangan kemampuan untuk menanganinya sebagaimana adanya.
Akibatnya, berkah terasa seperti kutukan. Kesempatan terlihat sebagai ancaman. Nasihat dianggap hinaan. Bukan karena hidup sedang memusuhimu, tetapi karena pikiranmu sedang memutar cermin ke arah yang salah.
Kehidupan bekerja dengan hukum yang sederhana. Pilihan yang benar membuka kemungkinan yang benar. Pilihan yang keliru membawa akibat yang keliru. Alam semesta tidak memiliki favorit.
Tidak peduli siapa dirimu. Kaya atau miskin. Terkenal atau tidak dikenal. Jika kamu melompat dari atap gedung, bumi tidak akan berunding denganmu. Ia hanya menjalankan hukumnya. Kakimu yang akan patah.
Begitu pula dalam hidup. Saat tubuhmu sakit, siapa yang harus diobati? Saat perutmu lapar, kepada siapa makanan harus diberikan? Semua jawaban selalu kembali ke sumbernya: dirimu sendiri.
Ada kisah tentang seorang mabuk yang jatuh ke semak berduri. Tubuhnya penuh luka. Sesampainya di rumah, ia bercermin, lalu menempelkan plester pada cermin. Ia marah karena bayangan di depannya tampak terluka.
Begitulah kita sering menjalani hidup. Kita sibuk memperbaiki pantulan, tetapi lupa menyembuhkan diri. Menyalahkan keadaan, orang lain, nasib, bahkan Tuhan, sementara akar persoalan tetap kita bawa ke mana-mana.
Alam semesta tidak meminta kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kita selaras dengan kenyataan. Karena ketika kita berhenti memaksa dunia mengikuti kesukaan kita, dan mulai membenahi diri agar selaras dengan kehidupan, perlahan dunia pun berubah wajah.
Barangkali rahasia agar lebih disukai oleh alam semesta bukanlah membuat hidup selalu berpihak kepada kita.
Melainkan menjadi pribadi yang tidak lagi memusuhi cara kehidupan bekerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar