Selasa, 09 Mei 2023

Yoga Tattva Upanishad

Semoga Dia melindungi kita; semoga Dia memelihara kita; Semoga kita bekerja bersama dengan energi yang besar, Semoga studi kita kuat dan efektif; Semoga kita tidak saling berselisih. Om! Biarlah ada Damai dalam diri saya! Biarlah ada Kedamaian di lingkungan saya! Biarlah ada Kedamaian dalam kekuatan yang bekerja pada saya!

1. Sekarang saya akan menjelaskan Yoga-Tattva (Kebenaran Yoga) untuk kepentingan para Yogi yang terbebas dari segala dosa melalui pendengaran dan pembelajarannya.

2.   Purusha tertinggi yang disebut Wisnu, yang merupakan Yogin agung, makhluk agung dan Tapasvin agung, dipandang sebagai pelita di jalan kebenaran.

3.   Kakek (Brahma) setelah memberi hormat kepada Penguasa alam semesta dan telah memberikan hormat kepada-Nya, bertanya kepada-Nya: "Berdoalah, jelaskan kepada kami kebenaran Yoga yang termasuk di dalamnya delapan orang yang tunduk."

4.   Yang mana Hrisikesha (Penguasa indra atau Wisnu) menjawab sebagai berikut: “Dengarkan. Saya akan menjelaskan kebenarannya. Semua jiwa tenggelam dalam kebahagiaan dan kesedihan melalui jerat Maya.

5-6. Kaivalya, singgasana tertinggi, adalah jalan yang memberi mereka kebebasan, yang menghancurkan jerat Maya, yang merupakan penghancur kelahiran, usia tua dan penyakit dan yang memungkinkan seseorang mengatasi kematian. Tidak ada jalan lain menuju keselamatan. Mereka yang mengitari jaring Shastra ditipu oleh pengetahuan itu.

7.   Bahkan tidak mungkin bagi para Deva untuk menggambarkan keadaan yang tak terlukiskan itu. Bagaimana bisa yang bersinar sendiri diterangi oleh Shastra?

Sabtu, 29 April 2023

Sutra 4, Kaivalya-Pāda (Kemerdekaan Mutlak)

Sutra 4.1
Siddhi adalah hasil dari kelahiran, tumbuh-tumbuhan, mantra, pertapaan atau samadhi.

Sutra 4.2
Transformasi kedalam kategori keberadaan lain disebabkan oleh pengisian oleh prakriti.

Sutra 4.3
Penyebab insidental tidak menggerakkan prakriti tetapi hanya menciptakan kemungkinan seperti seorang petani meruntuhkan penghalang untuk mengairi ladangnya.

Sutra 4.4
Kesadaran-kesadaran yang diindividualisasikan berasal dari ke-aku-an yang utama.

Sutra 4.5
Meskipun banyak kesadaran individual terlibat dalam aktivitas yang berbeda, satu kesadaran adalah pencetus semuanya.

Sutra 4.6
Dari jumlah tersebut, hanya satu yang terlahir dari meditasi yang tidak memiliki simpanan karma.

Sutra 4.7
Karma seorang yogi bukanlah putih ataupun hitam, karma orang lain beruas tiga.

Sutra 3, Vibhūti-pāda (Kekuatan Gaib)

Sutra 3.1
Dharana adalah pengikatan pikiran pada satu objek.

Sutra 3.2
Dhyana adalah arah pikiran yang terpusat menuju objek konsentrasi.

Sutra 3.3
Samadhi adalah ketika pikiran kosong dari semua perasaan diri dan hanya objek konsentrasi yang bersinar.

Sutra 3.4
Ketiganya dipraktikkan bersama pada objek yang sama adalah samyama.

Sutra 3.5
Melalui penguasaan samyama, muncullah pancaran pandangan terang mistis.

Sutra 3.6
Samyama harus diterapkan secara bertahap.

Sutra 3.7
Ketiganya adalah anggota tubuh bagian dalam terkait dengan anggota tubuh sebelumnya.

Sutra 2, Sādhana-Pāda (Latihan)

Sutra 2.1
Yoga Kriya terdiri dari penghematan, belajar mandiri dan pengabdian kepada Ishvara.

Sutra 2.2
Yoga ini memiliki tujuan untuk mewujudkan samadhi dan melemahkan kleshas.

Sutra 2.3
Ketidaktahuan, ke-aku-an, ketertarikan, kebencian dan kemelekatan pada kehidupan adalah lima klesha.

Sutra 2.4
Ketidaktahuan adalah bidang kleshas lainnya, apakah tidak aktif, dilemahkan, dicegah atau diaktifkan.

Sutra 2.5
Ketidaktahuan adalah melihat apa yang abadi, murni, gembira dan jiwa dalam apa yang fana, tidak murni, sedih dan bukan jiwa.

Sutra 2.6
Ke-aku-an adalah identifikasi sebagaimana adanya dari kekuatan penglihatan dan penglihatan.

Sutra 2.7
Ketertarikan adalah apa yang bertumpu pada pengalaman yang menyenangkan.

Sutra 1, Samādhi Pāda (Meditative)

Sutra 1.1
Penjelasan Yoga.

Sutra 1.2
Yoga adalah pengendalian aktifitas mental.

Sutra 1.3
Kemudian kesadaran berdiam dalam bentuknya yang esensial.

Sutra 1.4
Dilain waktu, kesadaran mengambil bentuk aktivitas mental.

Sutra 1.5
Ada lima jenis aktivitas mental dan aktivitas tersebut bisa merugikan atau mendukung latihan yoga.

Sutra 1.6
Mereka adalah pengetahuan yang benar, kesalahpahaman, imajinasi, tidur dan ingatan.

Sutra 1.7
Pengetahuan yang benar didasarkan pada persepsi, kesimpulan dan kesaksian.

Minggu, 09 Januari 2022

MUSIM DALAM PERHITUNGAN JAWA

Sebelum diubah oleh Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakasuma, penanggalan jawa menggunakan penanggalan Saka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan.

Dalam setahun, pranoto mongso dibagi dalam 12 bagian, yakni :

1. Kasa, berlangsung antara tanggal 22 Juni sampai dengan 1 Agustus atau selama 41 hari.

2. Karo, berlangsung antara tanggal 2 Agustus sampai dengan 24 Agustus atau selama 23 hari.

3. Katiga, berlangsung antara tanggal 25 Agustus sampai dengan 17 September atau selama 24 hari.

4. Kapat, berlangsung antara tanggal 18 September sampai dengan 12 Oktober atau selama 25 hari.

5. Kalima, berlangsung antara tanggal 13 Oktober sampai dengan 8 November atau selama 27 hari.

6. Kanem, berlangsung antara tanggal 9 November sampai dengan 21 Desember atau selama 43 hari.

7. Kapitu, berlangsung antara tanggal 22 Desember sampai dengan 2 Februari atau selama 43 hari.

8. Kawolu, berlangsung antara tanggal 3 Februari sampai dengan 28/29 Februari atau selama 26/27 hari.

Selasa, 28 Desember 2021

HARI DAN PASARAN DALAM PENANGGALAN JAWA

Pada penanggalan Jawa ada dua siklus waktu yakni siklus mingguan dan siklus pasaran.

Dalam siklus mingguan ada 7 hari, yakni:

1. Dite Kenaba, sebutan untuk hari Ahad, disebut juga hari Kelabang, berwatak samudana, artinya baik hanya pada lahir saja.

2. Soma Wretjita, sebutan untuk hari Senin, disebut juga hari Cacing, berwatak samuwa, artinya harus baik dalam segala pekerjaan.

3. Anggara Rekata, sebutan untuk hari Selasa, disebut juga hari Kepiting, berwatak sujana, artinya tidak mudah percaya.

4. Buda Maesa, sebutan untuk hari Rabu, disebut hari Kerbau, berwatak sembada, artinya harus pantas dalam segala hal.

5. Respati Mintuna, sebutan untuk hari Kamis, disebut hari Mimi lan Mintuna, berwatak surasa, artinya harus merasakan segala rasa.

6. Sukra Mangkara, sebutan untuk hari Jumat, disebut hari Udang, berwatak suci, artinya harus bersih segala sesuatunya.

7. Tumpak Menda, sebutan untuk hari Sabtu, disebut hari Kambing, berwatak Kasumbung, artinya suka komentar dan manja.

Sedangkan dalam siklus pasaran ada 5, yakni:

KARMA

Karma bukanlah hukuman. Bukan pula takdir yang dijatuhkan oleh kekuatan di luar diri kita. Karma adalah kesadaran bahwa setiap tindakan yang...