Senin, 17 Desember 2018

LENGKUNGAN YANG MENYEMBUHKAN

Dalam sebuah penerbangan menuju Bali, seorang wisatawan yang sudah berkunjung ke Bali berkalikali ditanya sebab kenapa ia suka mengunjungi Pulau Bali. Dengan spontan wisatawan ini menjawab: “yang khas dari pulau ini adalah senyuman orang-orangnya”.

Dengan kata lain, senyuman bukanlah persoalan sederhana. Ia bermakna jauh lebih dalam dari sekadar bibir yang melengkung. Ia yang kerap tersenyum mengerti, awalnya senyuman memang sekadar sapaan pada orang-orang untuk menunjukkan kalau kita bersahabat.

Begitu dilakukan berkali-kali, lebih-lebih dengan cara yang lebih dalam lagi, senyuman berubah wajah menjadi cahaya penerimaan yang dipancarkan ke dalam diri. Terutama karena senyuman adalah sebentuk dekapan lembut seseorang pada jiwa yang bersemayam di dalam.

Setiap sahabat yang meditasinya sudah mendalam, terbiasa tersenyum pada setiap berkah kekinian - entah ia menjengkelkan atau menyenangkan - suatu hari akan mengerti, ternyata senyuman adalah bunga indah yang kita bagikan kepada dunia.

Ringkasnya, senyuman adalah jembatan yang menghubungkan seseorang baik pada kehidupan di luar maupun di dalam. Di Barat ada cerita tentang Norman Cousins yang pernah divonis terkena penyakit sangat serius yang penuh komplikasi. Kemudian ia menyewa motel kecil serta menghabiskan waktu lama hanya menonton film-film yang lucu dan mengundang senyuman.

Untuk membuat ceritanya ringkas, beberapa waktu kemudian Norman Cousins sembuh dari penyakit rumit ini. Pelajaran yang bisa ditarik dari sini, dan ini juga dibenarkan oleh sejumlah hasil penelitian, ternyata tawa dan senyuman meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Untuk kemudian membantu tubuh bisa menyembuhkan dirinya.

Terinspirasi dari sini, layak direnungkan untuk tekun melatih diri agar selalu tersenyum. Didunia spiritual mendalam khususnya, ada banyak pencari yang sangat mengagumi senyuman sebagai jalan spiritual.

Perhatikan salah satu puisi Rumi: “hidup serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Dan siapa pun tamu yang datang. Jangan pernah lelah untuk tersenyum”. Simpelnya, hidup memang sebuah persinggahan sementara. Kadang dikunjungi kesedihan kadang dikunjungi kesenangan. Dan tugas seorang pencari yang sudah dalam hanya tersenyum.

Lebih-lebih di dunia meditasi. Di tingkat kesempurnaan, berlatih meditasi adalah berlatih tersenyum. Jika Anda bisa tersenyum pada kesenangan, itu artinya Anda jiwa yang biasa. Bila Anda bisa tersenyum pada kesedihan, itu artinya Anda jiwa yang bercahaya.

Dalam bahasa yang sederhana namun dalam, tatkala seseorang tersenyum, ia tidak saja sedang berbagi cahaya pada orang lain, tapi juga sedang membawa lilin penerang pada kegelapan yang ada di dalam diri. Inilah yang disebut dengan lengkungan yang menyembuhkan.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

SENYUMAN JUGA MENYEMBUHKAN

Apa praktik spiritual yang mudah, sederhana namun mendalam?, demikian banyak anak muda bertanya. Asal melakukannya secara tulus, ikhlas dan jujur, senyuman adalah sebuah praktik spiritual yang mendalam. Terutama senyuman yang jauh lebih dalam dari sekadar bibir yang melengkung.

Di daerah-daerah tua di mana senyuman masih sangat dimuliakan, seperti di daerah pedalaman Yogyakarta, Bali, Kalimantan, Tengger, Banten, Tibet, Peru, India, dll terlihat sekali kualitas kehidupan yang berbeda. Tidak saja senyumannya berbeda, kualitas persahabatan dengan kehidupan serta orang-orang juga berbeda.

Seorang sahabat asli Tengger Jawa Timur bercerita, kalau seseorang berjalan kaki di belakang orang lain, sebelum ia dipersilahkan untuk duluan, ia akan terus berjalan dibelakang. Bahkan tatkala orang yang berjalan duluan istirahat pun ia akan ikut duduk istirahat menunggu dipersilahkan jalan duluan.

Serangkaian contoh kecil yang bercerita tentang kehidupan yang mulia. Ini bisa terjadi karena manusia rajin tersenyum dalam kehidupan. Tidak saja tersenyum pada orang-orang yang dijumpai, tapi juga tersenyum pada setiap putaran dan berkah kehidupan yang datang.

Sederhananya, ada dua dampak yang ditimbulkan senyuman yakni dampak ke dalam dan dampak ke luar. Senyuman menimbulkan banyak dampak ke dalam. Dari meningkatnya kualitas penerimaan pada kehidupan, semakin dalamnya pengertian seseorang akan kehidupan, sampai dengan semakin indahnya hati seseorang.

Semakin banyak seseorang tersenyum, semakin dalam seseorang belajar menerima hidupnya. Sekaligus semakin banyak cahaya pengertian yang ia pancarkan pada semua luka jiwa yang ada di dalam. Sebagai akibatnya, seseorang tidak saja mudah sembuh jiwanya, tapi juga belajar memasuki gerbang ke-u-Tuhan.

Dari gerbang ke-u-Tuhan inilah kemudian lahir wajah hati yang indah. Sebuah hati yang menyerupai bunga. Ia tidak saja berbagi keindahan, tapi juga merawat kehidupan dengan penuh senyuman. Ini rahasia yang ada di balik banyak jiwa yang bercahaya seperti Nelson Mandela.

Disamping berdampak ke dalam, senyuman juga berdampak ke luar. Suatu hari ada Guru karate tingkat tinggi di pulau Okinawa Jepang yang dicegat dan ditantang berkelahi oleh tantara Amerika yang sedang mabuk oleh alkohol. Dengan tersenyum Guru karate ini membungkuk, serta mohon diri menjauh.

Seorang muridnya yang melihat pemandangan seperti ini kemudian bertanya esok harinya kenapa Gurunya tidak memukul saja pemabuk tadi malam. Dengan tersenyum Guru karate ini menjawab: “belajar karate adalah belajar agar selalu tersenyum di depan kehidupan”.

Itu sebabnya, di dunia pelayanan spiritual khususnya, sudah lama dikenal ungkapan tua sepert ini: “senyuman adalah satu-satunya lengkungan yang bisa meluruskan semua hal yang bengkok dalam kehidupan”. Tidak saja hal-hal bengkok di luar yang bisa diluruskan, hal-hal bengkok di dalam seperti luka jiwa juga bisa diluruskan.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

Minggu, 16 Desember 2018

KEHENINGAN YANG MENAWAN

Seorang wanita peserta meditasi yang jiwanya luka mendalam karena memiliki Ibu tiri bertanya polos seperti ini: “apakah diam seribu bahasa kepada ibu tiri sebuah kesalahan?”. Tergantung pada isi diamnya. Kalau dalam diamnya seseorang terbakar oleh kemarahan dan dendam, tanpa disadari dan tanpa diniatkan sedang mengirim vibrasi-vibrasi buruk.

Dan seperti melempar sampah ke rumah tetangga, tangan yang bersangkutan akan kotor. Dengan tangan yang kotor ini suatu waktu ia akan didatangi lalat yang juga kotor. Seperti itulah kemarahan dan dendam membuat perjalanan jiwa jadi semakin menyedihkan dari hari ke hari.

Cerita akan lain kalau seseorang diam tapi di dalamnya netral tanpa kebencian tanpa makian. Serupa melihat orang-orang di desa yang rebut dan riuh dengan sound sistem, mercon, pesta tuak. Di satu sisi mereka tidak pernah merantau, di lain sisi sekolah dan bacaannya sangat pas-pasan.

Mengharapkan mereka agar sopan dan santun, mirip dengan mengharapkan serigala untuk makan rumput. Berhadapan dengan keadaan-keadaan seperti ini, disarankan seorang pencari kembali ke titik netral yang tanpa pujian dan tanpa makian. Dengan cara ini, seseorang tidak mengirim sampah ke tetangga, sekaligus tangan juga tidak kotor.

Yang paling indah adalah diam yang memancarkan cinta. Ini yang dilakukan oleh jiwa-jiwa tercerahkan. Ia mirip dengan apa yang dilakukan pepohonan. Dalam diamnya pepohonan mengolah racun karbon menjadi udara segar yang sangat dibutuhkan.

Konkritnya, kapan saja Anda dilukai jiwanya, lebih-lebih dilukai oleh orang-orang dekat di mana Anda tidak bisa lari, pandang secara mendalam jejaring rumit penderitaan yang ada di balik orang-orang yang melukai. Ia bisa berupa orang tua yang berantakan, masa kecil yang terlukai, keinginan yang tidak pernah tercapai, lingkungan yang berisi terlalu banyak kekerasan.

Begitu jejaring rumit penderitaan terlihat terang transparan, biasanya kemarahan di dalam lenyap, ia digantikan oleh munculnya energi-energi kasih sayang. Dan energi kasih sayang ini mengirim vibrasi indah baik pada orang lain maupun pada yang bersangkutan.

Di jalan kesembuhan jiwa, ini energi kesembuhan yang indah menawan. Sebuah penelitian menunjukkan, anak-anak mahasiswa yang menonton film Bunda Teresa memiliki kekebalan tubuh yang jauh lebih baik dari anak-anak yang menonton film biasa. Penelitian lain menunjukkan, orang-orang yang punya binatang peliharaan di rumah memiliki resiko terkena serangan jantung jauh lebih kecil.

Di jalan pencerahan lebih dalam lagi. Sebelum terlahir jadi manusia sekarang ini, kita pernah lahir dalam jumlah yang tidak berhingga. Ini berarti ada tidak berhingga jumlah mahluk di alam ini yang pernah menjadi ibu kita, lengkap dengan seluruh pengorbanan dan kasih sayangnya.

Itu sebabnya mahluk tercerahkan memandang semua mahluk sebagai ibu. Begitu mereka ditempatkan sebagai ibu, tidak saja mereka tidak tertarik melukai, pada saat yang sama yang bersangkutan memancarkan cahaya belas kasih. Inilah yang disebut dengan keheningan yang menawan.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

Sabtu, 15 Desember 2018

SENYUMAN CAHAYA

Lapar akan perhatian, haus untuk didengarkan, itulah ciri banyak sahabat yang badan dan jiwanya sedang sakit parah. Tatkala ada yang menyediakan dirinya untuk mendengarkan dan memperhatikan, terlihat sekali kalau wajah mereka lebih segar dan lebih bercahaya.

Idealnya yang melakukan tugas ini adalah keluarga. Sedihnya, banyak keluarga di zaman ini sudah terlalu sibuk dengan kegiatan mengejar uang. Kepada sahabat- sahabat yang sedang sakit parah sering dititipkan pesan seperti ini: “tatkala tidak ada yang memberikan Anda bunga perhatian, coba belajar memberi diri Anda bunga penerimaan”.

Dengan kata lain, kapan saja lingkungan demikian kering oleh perhatian, Anda masih punya seorang sahabat yang bisa merawat diri Anda dengan tulus dan ikhlas, orang itu adalah diri Anda sendiri. Dan ini bisa terjadi kalau seseorang bersahabat dengan dirinya sekaligus hidupnya.

Seorang wanita yang tidak saja sembuh tapi juga utuh jiwanya menulis pesan indah seperti ini: “tatkala saya menerima dan mencintai diri saya apa adanya, kehidupan kemudian berubah wajah menjadi bunga yang indah”. Ini tidak saja dialami oleh wanita ini, juga dialami oleh banyak sekali pejalan kaki ke dalam diri.

Merawat taman, memelihara binatang, bernyanyi atau bermain bersama anak-anak adalah sebagian cara yang disarankan. Sahabat-sahabat yang jiwanya sudah mekar mengerti, saat kita merawat orang atau mahluk lain, kita tidak saja sedang berbagi, kita juga sedang menghidupkan energy kebaikan yang ada di dalam diri. Dalam bahasa yang indah: “berkah cinta adalah cinta itu sendiri”.

Di Tantra pernah ditulis pesan seperti ini: “begitu nafas masuk dan nafas keluar seimbang, di sana seseorang memiliki energi berkelimpahandi dalam”. Ciri utama sahabat yang sedang sakit, nafas keluarnya lebih panjang dari nafasmasuk. Sebagai akibatnya, mereka terus menerus mengalami defisit (kekurangan) energi.

Dan yang bertanggung jawab pada keadaan kekurangan energi ini adalah kecenderungan untuk membuang banyak energi melalui kemarahan, iri, dengki, tersinggung, merasa tidak diperhatikan dan sejenisnya. Di titik inilah meditasi sangat diperlukan.

“Meditasi menyembuhkan Anda dengan cara menerima diri Anda apa adanya”, demikian pesan yang kerap terdengar di sesi-sesi meditasi. Jangankan kebaikan dan kesempurnaan, bahkan kemarahan pun belajar untuk diterima dalam meditasi.

Perhatikan bunga indah yang sedang mekar. Dalam bunga indah yang berbau wangi ada kotoran yang berbau busuk. Tidak bisa kita mengeluarkan kekotoran dari bunga. Jiwa mulai sembuh dan utuh tatkala bisa menerima dan mendekap baik bunga kebaikan sekaligus sampah kemarahan. Ingat jiwa-jiwa yang indah, kemarahan adalah sampah yang sedang berevolusi menjadi bunga”.

Dengan pendekatan seperti ini, jiwa tidak saja sembuh dan utuh, jiwa juga berbagi cahaya kemana-mana. Dalam tatapan mata, senyuman, kata-kata yang terucap di bibir, keteladanan dalam keseharian, semuanya memancarkan cahaya. Dikedalaman yang dalam pernah terdengar pesan indah seperti ini: “Cinta adalah nama lain dari cahaya yang tersenyum”.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

Jumat, 14 Desember 2018

MENYEMBUHKAN KEMARAHAN

Energi di dalam diri yang paling menakutkan di zaman ini adalah kemarahan. Nyaris semua malapetaka kemanusiaan dari peperangan, terorisme hingga bunuh diri memiliki akar kuat pada kemarahan. Tanpa upaya sengaja untuk menyembuhkan kemarahan, masa depan akan penuh dengan awan penghalang.

Subyek kemarahan sudah pernah didekati oleh banyak sekali penulis dengan berbagai pendekatan yang berbeda. Dan sulit mengingkari, akar terdalam kemarahan adalah perasaan yang selalu kurang didalam. Perasaan yg selalu kurang ini yang membuat remaja mencari pacar, orang dewasa mencari harta dan tahta. Bahkan di dunia spiritual pun orang lapar sekali mencari pencerahan.

Suatu hari ada seorang Ibu di Vietnam yang khusyuk sekali melafalkan nama Buddha Amitaba. Di tengah khusyuknya doa, tiba-tiba tetangganya memanggil nama Ibu ini. Marah karena doanya terganggu, Ibu ini kemudian membentak. Kontan saja tetangganya tertawa sambil bergumam: “astaga, saya memanggil nama Ibu hanya tiga kali, Ibu sudah marah. Tidak kebayang, betapa marahnya Buddha Amitaba karena namanya Ibu panggil ribuan kali”.

Pesan cerita ini sederhana, bahkan di dunia spiritual pun manusia penuh kemarahan. Dan kembali ke akar terdalam kemarahan, sejauh ada rasa yang kurang didalam, sejauh itu juga kemarahan akan tetap menggoda. Dan rasa yang kurang di dalam ini membuat seseorang memiliki banyak musuh di dalam diri.

Besarnya nilai industri kosmetik, cepatnya pertumbuhan bisnis bedah plastik adalah sebagian tanda kalau manusia di zaman ini memiliki banyak musuh di dalam dirinya. Yang kulitnya hitam mau lebih putih, yang rambutnya lurus mau keriting, yang hidungnya mancung ke dalam mau mancung ke luar.

Sedihnya, musuh-musuh di dalam ini mengundang datangnya musuh-musuh di luar. Ia mirip dengan sampah yang mengundang datangnya lalat. Interaksi antara musuh di dalam dengan musuh di luar, itulah yang membuat banyak manusia sangat terbakar oleh kemarahan.

Sehingga agar sembuh sepenuhnya dari kemarahan, tidak ada cara lain selain belajar menyembuhkan rasa yang serba kurang di dalam. Di jalan meditasi, ia disembuhkan dengan cara menyentuh kekinian secara mendalam. Makanya salah satu pengertian meditasi adalah bersentuhan dengan saat ini secara mendalam.

Maksud bersentuhan dengan kekinian secara mendalam sederhana, seseorang disarankan hadir utuh dan penuh di saat ini. Bebas dari kemelekatan pada hal-hal positif, bebas dari kebencian akan hal-hal negatif. Apa pun berkah kekiniannya, belajar mendekap kekinian dengan kualitas senyuman yang sama.

Di kelas meditasi sering terdengar pesan seperti ini: “masa lalu sudah berlalu, masa depan belum datang, satu-satunya hadiah yang diberikan kehidupan adalah saat ini”. Keadaan bersentuhan dengan saat ini akan lebih mudah dicapai kalau seseorang meyakini kalau semua adalah senyuman kesempurnaan yang sama. Semuanya hadir membawa bimbingan-bimbingan.

Fokus pada bimbingan-bimbingan, bukan pada hukuman-hukuman, itulah salah satu cara menyentuh saat ini secara mendalam. Lebih dalam lagi kalau seseorang bisa mendekap setiap rasa sakit seperti seorang ibu yang mendekap putra tunggalnya yang sedang menangis. Dengan cara ini, pelan perlahan seseorang sedang menyembuhkan akar terdalam dari kemarahan.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

Selasa, 11 Desember 2018

MEMAAFKAN ITU MENYEMBUHKAN

“Orang itu sangat mengecewakan. Dari kecil selama bertahun-tahun dirawat, tidak saja ia lupa pernah diselamatkan, tapi juga sombongnya minta ampun”, demikian seorang Ibu mengeluh berat beberapa hari sebelum terkena serangan stroke.

Ini cerita tipikal banyak orang tua yang kurang membekali dirinya dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Jangankan kekeliruan yang pernah dilakukan, bahkan kebaikan yang pernah dilakukan pun mengejar ke mana-mana seperti musuh yang membawa senjata.

Tatkala tubuh tidak lagi kuat menggendong beban seperti rasa bersalah akibat kekeliruan di masa lalu, kekecewaan yang datang dari orang-orang yang pernah ditolong, saat itulah tubuh mulai roboh terkena berbagai penyakit berbahaya seperti stroke.

Dan sebelum itu terjadi, layak direnungkan untuk melonggarkan cengkraman pikiran. Makanya seorang wanita Inggris yang pernah menghabiskan waktu belasan tahun melakukan meditasi seorang diri di lereng Himalaya bercerita, salah satu hasil penting meditasi adalah cengkraman pikiran yang melonggar.

Sebelum disentuh meditasi, pikiran sangat mencengkeram. Mirip dengan keluhan ibu di atas, orang terlihat melakukan kesalahan berbahaya, yang bersangkutan merasa paling benar. Sebagai akibatnya, tubuh menggendong beban-beban kejiwaan yang teramat berat.

Apa yang dilakukan meditasi sederhana. Awalnya pikiran mirip dengan air hujan yang deras. Semuanya ditendang. Setelah disaksikan dengan penuh ketenangan, air hujan yang deras ini kemudian menyatu dengan aliran sungai. Di puncak meditasi, seseorang keluar dari alur sungai pikiran dan emosi, kemudian hanya berdiri di pinggir sungai sebagai seorang saksi.

Transformasi dari air hujan ke air sungai lebih berat. Terutama karena pikiran masih sangat dicengkram oleh keyakinan diri merasa benar. Dari sini muncul penghakiman-penghakiman yang menyakitkan. Dan penghakiman itu lebih melukai yang menghakimi dibandingkan dengan yang dihakimi.

Di titik inilah seseorang memerlukan kekuatan memaafkan. Tidak saja memaafkan orang yang mengecewakan, juga memaafkan kekeliruan-kekeliruan yang pernah dilakukan di masa lalu. Memaafkan serupa air suci (tirtha) yang dipercikkan pada jiwa yang sedang kepanasan didalam.

Tatkala seseorang memaafkan, bukan berarti ia salah dan orang yg dimaafkan benar. Sekali lagi bukan. Saat seseorang memaafkan, sesungguhnya ia sedang membawa jiwanya keluar dari rumah jiwa yang sedang terbakar oleh dendam dan marah.

Sebagai akibatnya, tidak saja yang bersangkutan bisa sembuh jiwanya, tapi juga bersama banyak orang serupa ikut menyembuhkan dunia. Dan bukan kebetulan kalau salah satu cahaya terang yang pernah muncul di abad kita adalah Nelson Mandela. Dan di balik cahaya terang yang dibawa Mandela adalah kekuatan memaafkan.

Senin, 10 Desember 2018

TIRTHA KESEMBUHAN

Seorang remaja datang ke kelas meditasi dengan wajah yang menyentuh hati. Setelah didengarkan secara penuh empati, ia bercerita kalau dirinya sudah positif terkena virus HIV. Pelajaran yang bisa ditarik dari sini, kapan saja pikiran yang tidak stabil berjumpa lingkungan yang juga tidak stabil, di sana terjadi kecelakaan spiritual yang sangat berbahaya seperti bunuh diri, terkena virus HIV, dll bisa terjadi.

Lingkungan yang tidak stabil bukanlah lahan untuk mengkritik ini dan itu, melainkan sebuah undangan untuk memercikkan tirtha (air suci) pada cuaca kehidupan yang sedang panas. Jika di pulau Bali yang dikagumi dunia saja ada cerita kehidupan yang pengap, tidak kebayang seberapa gelap dan pengap lingkungan di tempat lain.

Sekali lagi, inilah saatnya bagi jiwa-jiwa bercahaya untuk memercikkan tirtha. Dan diantara demikian banyak pilihan, perbuatan baik adalah cara indah untuk memercikkan tirtha. Kalau tidak bisa memberi makan pada fakir miskin, kenapa tidak menyirami tanaman. Jika tidak bisa menolong banyak orang, kenapa tidak menolong kucing jalanan.

Pilihan lain, hati-hati dengan penggunaan katakata. Kata-kata tidak saja alat komunikasi, kata-kata bisa menjadi bagian dari kegelapan, bisa juga menjadi bagian dari cahaya. Keluhan, protes, kritik yang tidak pada tempatnya adalah bentuk kata-kata yang menyebarkan kegelapan. Ucapan terima kasih, bersyukur, doa yang tulus adalah sebagian contoh kata-kata yang menyebarkan cahaya.

Lebih dalam dari tindakan dan kata-kata adalah pikiran. Sebuah ladang dari mana tindakan dan kata-kata bertumbuh. Ia yang pikirannya indah cenderung menghasilkan kata-kata sekaligus tindakan yang juga indah. Itu sebabnya meditasi berkonsentrasi pada melatih pikiran agar selalu indah.

Pikiran yang tidak stabil - penyebab bagi kecelakaan spiritual berbahaya seperti bunuh diri - adalah buah dari karma yang panjang. Dalam studi-studi tentang karma ditulis, mereka yang di kehidupan sebelumnya sering meminum atau mengkonsumsi minuman/makanan yang melemahkan kesadaran seperti alkohol, narkoba dan sejenis, maka di kehidupan berikutnya cenderung memiliki pikiran yang mudah goyah. Dalam bahasa meditasi, pikiran yang goyah adalah pikiran yang hanyut. Hanyut oleh kemarahan, ketersinggungan, dendam, sakit hati. Oleh meditasi, pikiran yang hanyut ini dibawa berenang ke pinggir. Terutama melalui kegiatan menyaksikan. Saat sedih datang saksikan. Tatkala senang datang saksikan. Pikiran merasa salah saksikan. Pikiran merasa benar saksikan. Begitulah cara meditasi mengajak Anda berenang ke pinggir agar tidak hanyut oleh sungai pikiran dan perasaan.

Bagi para sahabat yang masih sangat labil, terlalu peka, mudah luka disarankan untuk dekat dengan simbol-simbol alam yang berbagi sukacita. Burung-burung yang bernyanyi, lumba-lumba yang berlompatan, anak-anak balita yang bermain, bunga yang bermekaran, matahari terbit, suara ombak di samudra adalah sebagian contoh nyanyian sukacita yang ada di alam.

Belajar terhubung dengan energi sukacita yang ada di alam melalui kegiatan bersyukur serta berterima kasih. Dalam bahasa sederhana tapi dalam: “jika Anda hanya punya satu kata yang diucapkan dalam doa, terima kasih sudah jauh lebih dari cukup”. Ia yang setiap hari mengucapkan kata terima kasih, setiap hari memerciki jiwanya dengan tirtha kesembuhan.

Bagi jiwa jenis ini, kesembuhan bukanlah keadaan tanpa penyakit. Melainkan sebuah perasaan keterhubungan yang sangat mendalam. Di tingkat kesembuhan seperti ini, seseorang melihat dirinya di mana-mana. Sebagai akibatnya, jangankan melukai hati orang, bahkan menginjak rumput pun dipikirkan secara berulang-ulang. Terutama karena sudah menyadari dan mengalami, setiap rasa sakit yang dilakukan ke mahluk lain akan balik ke diri kita dalam bentuk rasa sakit. Setiap cinta yang dipancarkan ke mahluk lain akan balik ke diri kita dalam bentuk cinta yang lebih indah.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

KARMA

Karma bukanlah hukuman. Bukan pula takdir yang dijatuhkan oleh kekuatan di luar diri kita. Karma adalah kesadaran bahwa setiap tindakan yang...