Satu hal yang tidak bisa kita lewatkan adalah kisah Bambang Ekalaya yang begitu bersemangat untuk belajar seni memanah. Ia berasal dari kasta rendah sehingga Guru Dorna menolak untuk menjadikannya murid. Penolakan Guru Dorna tidak menyurutkan tekadnya untuk belajar memanah dan menjadi pemanah nomor wahid. Dia membuat patung Guru Dorna dan dengan sembunyi-sembunyi dari balik pohon dia memperhatikan Guru Dorna yang mengajari Pandawa dan Kurawa. Dia mempraktekkan teknik memanah dan dengan tekun berlatih sendiri hingga memiliki kemampuan yang setara atau bahkan mungkin lebih tinggi dari Arjuna.
Suatu ketika pada saat sedang berlatih, Ekalaya mendengar anjing mengggonggong, tanpa melihat Ekalaya melepaskan anak panah dan tepat mengenai mulut anjing tersebut. Saat Pandawa menemukan anjing tersebut mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang mampu melakukannya selain Arjuna.
Hal penting bagi kita adalah untuk hidup dengan semangat dan menaruh hati dan jiwa kita untuk apa yang kita inginkan. Jika kita melakukan itu, apa pun yang kita inginkan akan datang kepada kita.
Senin, 05 Desember 2016
EKSPRESIKAN DIRI DENGAN KASIH SAYANG
Salah satu pelajaran penting dalam kisah Mahabharata adalah untuk mengekspresikan diri, mengungkapkan apa yang kita rasakan dengan lembut dan penuh kasih. Pada saat sayembara, Dropadi menolak Karna karena memiliki kasta yang rendah. Dia menggunakan kata-kata yang sangat kasar dan menghina diri Karna yang akan turut serta dalam kegiatan tersebut. Peristiwa ini menjadikan Karna menaruh kebencian yang dalam terhadap Drupadi dan pasti menimbulkan keinginan untuk membalas perlakuan Drupadi yang mempermalukannya di depan umum. Didorong oleh kebencian dan balas dendam, ketika Karna mendapat kesempatan di pengadilan Duryodana, ia turut serta mempermalukan Drupadi yang ditelanjangi oleh Dursasana.
Seharusnyalah apapun yang terjadi hendaknya diekspresikan dengan penuh cinta. Untuk alasan apapun jika Droupadi tidak ingin Karna untuk berpartisipasi dalam sayembara, dia bisa melakukan hal yang sama dalam kata-kata lembut tanpa mempermalukan Karna. Jika dia tidak dihina maka dia tidak akan pernah terdorong untuk balas dendam mempermalukan rupadi di pengadilan Duryodana.
JANGANLAH MENGAMBIL KEPUTUSAN SAAT EMOSIONAL
Suatu ketika kita pasti akan mengalami keadaan emosional yang lazimnya bersifat negative. Jika pada saat itu juga harus mengambil suatu keputusan sebaiknya ditunda hingga emosi kita mereda. Keputusan yang diambil pada saat emosional seringkali tidak tepat dan akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pada saat Pandu yang merupakan ayah Pandawa berlibur dengan berburu di hutan, dia membunuh seorang bijak yang menyamar sebagai rusa. Ia dipenuhi dengan rasa bersalah dan penyesalan. Dalam napas bersalah dan penyesalan, ia memutuskan untuk mngundurkan diri sebagai raja dan menjadi pertapa di hutan. Keputusan ini menjadi awal mula permasalahan bagi Kerajaan Hastina karena Drestarasta yang merupakan saudara tuanya tidak punya kemampuan untuk menjalankan pemerintahan dengan efisien.
Jika saja Pandu tidak emosional dalam mengambil keputusan, tentu dia akan mempertimbangkan dan akan dapat menilai bahwa kakaknya mungkin tidak akan dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Untuk kebaikan rakyat dan kerajaannya, ia akan memilih untuk tinggal sebagai raja dan memilih beberapa cara lain sebagai hukuman bagi dirinya sendiri. Jika ini yang terjadi maka kisah Mahabharata mungkin akan berbeda ceritanya.
Jadi, pelajaran yang dapat kita ambil dalam kisah ini adalah pada saat kita emosional kita tidak boleh percaya pada diri sendiri karna kita tidak dapat melihat dengan jelas. Kita harus menghindari mengambil keputusan pada saat kondisi seperti ini, biarkan itu berlalu dan jika kita sudah normal kembali barulah kita menganalisa secara obyektif untuk mengambil keputusan.
PENJAHAT PERANG DALAM MAHABHARATA
Berikut ini adalah daftar Penjahat Perang dari Mahabharata :
1. Aswathama. Hukuman terbesar baginya adalah berkeliaran di bumi sampai akhir dengan penyakit dan tidak ada yang membantu. Kejahatannya adalah membunuh orang dalam tidur dan mencoba untuk membunuh bayi yang masih di kandungan ibunya.
2. Raja Drestarastra dan Ratu Gandhari. Keduanya sangat bijaksana, cerdas dan dalam posisi terbaik untuk menghentikan perang. Tapi kecintaan mereka terhadap anak menjadikannya gagal menjalankan peran sebagai raja dan ratu. Mereka gagal untuk mengambil langkah-langkah korektif untuk memastikan keadilan. Mereka gagal menghentikan Sangkuni yang terus mencuci otak anak-anak mereka. Sebagai hukuman mereka mendengarkan peristiwa menyakitkan dan tak berdaya berbuat sesuatu. Anak-anak mereka, kerabat dan lainnya yang dicintai satu persatu sekarat di medan pertempuran setiap hari.
3. Bhisma. Banyak orang yang merasa takkjub atas kepribadiannya, ia memiliki karakter luar biasa dalam Mahabharata. Tapi dia adalah orang kedua yang seharusnya bisa melakukan keadilan. Bahkan tidak ada orang yang bisa benar-benar menantang otoritasnya. Tapi dia menempatkan sumpahnya sebagai prioritas lebih tinggi dibanding keadilan. Sebagai hukuman dia beberapa hari terakhir di kurushetra tidur di tempat tidur anak panah menyakitkan dan mendengar kehancuran keluarga sendiri, orang yang dicintai meninggal satu persatu.
4. Duryodhana. Dialah yang paling terkenal sebagai penjahat. Dia tidak seburuk sebagaimana digambarkan. Ia percaya jalan spiritual. Dia prajurit yang berani. Dia orang paling baik untuk mereka yang menurutnya sebagai teman yang murni (seperti Karna, Sangkuni, saudara-saudaranya dll). Dia hanya mendengarkan mereka. Kejahatannya adalah dia tidak bisa mentolerir setiap hal yang baik tentang saudara mereka (Pandawa) bahkan ketika mereka tinggal jauh. Kebencian ini membawanya ke konspirasi rumah lak yang mudah terbakar dan rekayasa permainan dadu. Dia dihukum menyaksikan kehancuran anak-anak, saudara dan teman tercinta. Pada hari ke-18 dia ditinggalkan dengan kedua paha patah sendirian di malam hari di medan kurushetra tanpa ada yang membantu.
5. Sangkuni. Kasih sayangnya terhadap adiknya (Gandhari) sampai melegenda. Dia meninggalkan segalanya dan pergi ke Hastinapura untuk memastikan Gandhari tetap berkuasa dan anaknya mewarisi kekuasaan. Tujuan yang mulai namun dengan cara yang salah. Dia tidak hanya meracuni pemikiran Kurawa tetapi juga memandunya untuk melaksanakan segala kelicikan.
6. Karna. Putra tertua Pandawa yang sesungguhnya. Dia dikatakan paling baik atau orang yang paling mulia dan dipuji bahkan oleh Krishna sendiri. Tapi dia tetap setia kepada temannya dan meninggal dalam medan pertempuran. Nasib sangat kejam padanya dan ia dieksploitasi sepanjang hidupnya. Kesalahannya adalah dia lupa apa yang benar atau salah ketika itu berhubungan dengan temannya (Duryodhana). Dia bahkan gagal untuk menilai apa yang baik atau tepat untuk kebaikan temannya. Dalam persahabatan sejati tidak boleh ada rasa utang. Di depan Krishna ia pernah menyatakan bahwa Korawa tidak akan bertahan hidup, mereka akan mati dan Pandawa akan menjadi pemenang karena Krishna melindunginya. Tetapi saat kembali ke Duryodhana, dia memberikan harapan kepadanya bahwa ia dapat menjadi pemenang untuk melindungi citranya di depan teman tercinta. Dengan harapan dari Karna, maka Duryodana benar-benar mengabaikan nasihat dari Bhisma, Drona, Widura dan juga orang tuanya.
7. Dursashana. Hidupnya didedikasikan untuk untuk saudaranya (Duryudana). Dia tidak akan melihat apa yang benar dan apa yang salah. Dia hanya mematuhi perintah saudaranya tidak peduli apapun.
8. Dorna. Seorang guru yang seharusnya membimbing tetapi dia bersikap layaknya seorang budak.
Minggu, 04 Desember 2016
BENARKAH ARJUNA MEMBUNUH KARNA DENGAN CURANG?
Sebelum pertempuran di Kurusetra dimulai, para komandan telah menyepakati peraturan perang yang harus dijalankan kedua belah pihak.
Komandan Pandawa, Drestadyumna, telah menyatakan bahwa pihak mereka tidak akan memulai melanggar peraturan perang, tetapi jika Korawa memulai melanggar peraturan maka Pandawa tidak akan membiarkan diri mereka terpenjara oleh peraturan.
Pengeroyokan Abimanyu bukanlah satu-satunya pelanggaran oleh pihak Korawa. Pada hari keempat belas ketika Arjuna sedang berjuang untuk memenuhi sumpahnya membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam, kuda-kudanya mendapat kelelahan, dan butuh istirahat dan air. Sementara Krishna memutuskan untuk membawa kuda pergi, Arjuna harus turun kereta. Melihat Arjuna yang tidak berkereta (kereta tidak sempurna), pasukan Kurawa tidak berhenti menyerang dia. Sebaliknya, mereka menyerangnya dengan keganasan yang lebih besar, berharap untuk membunuhnya. Arjuna mempertahankan diri habis-habisan, dia tidak meminta lawan untuk berbelas kasih sesuai aturan perang.
Karna juga pernah melanggar aturan pada hari ketujuh. Ketika Karna mengirim senjata mistis tak terbendung di kepala Arjuna, Krishna dengan cepat mendorong kereta ke dalam tanah sehingga panah memukul mahkota Arjuna bukan kepalanya, hidup Arjuna diselamatkan, tapi keretanya terjebak di dalam tanah. Sementara Krishna melompat dari kereta untuk mengeluarkan kereta dari tanah, Arjuna dirugikan dengan kereta yang tidak bisa bergerak. Karna masih menyerangnya dan Arjuna tidak meminta untuk dikasihani, tapi berjuang kembali dan membela diri.
Jadi dalam konfrontasi terakhir, Karna mengingatkan Arjuna mengenai peraturan perang, hanyalah omong kosong. Ketika Karna mencoba mengambil moral yang tinggi, Krishna mengungkapkan daftar kecurangan Karna. Khrisna menegaskan bahwa Karna tidak memperhatikan moralitas berperang dan kini menuai balasannya.
Sabtu, 03 Desember 2016
PENGETAHUAN BERMANFAAT HANYA JIKA DIGUNAKAN DENGAN BIJAK
Sadewa adalah saudara termuda Pandawa, dia adalah putra Madrim. Tidak banyak dikisahkan perannya dalam serial-serial Mahabarata sehingga dia yang paling misterius. Beberapa kisah menggambarkan bahwa Sadewa-lah putra Pandu yang paling tercerahkan. Dia memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu, masa kini dan masa depan.
Krishna yang mengetahui Sadewa mendapat kemampuannya, berkata, "Anda tidak harus mengungkapkan apa yang Anda tahu,"
"Jika seseorang meminta Anda maka Anda mungkin memberitahu mereka. Tapi jangan pernah memberitahu mereka lebih dari yang mereka minta. Dan jangan pernah memberitahu siapa pun yang Anda tahu segalanya sehingga mereka dapat meminta Anda."
Jadi sepanjang hidupnya Sadewa tahu segalanya. Dia tahu tentang rekayasa api Duryodana yang menjebak Pandawa masuk didalamnya, ia tahu tentang intrik politik Duryodana dan Kurawa, ia tahu dadu yang dimuat dalam pertandingan judi, dia tahu apa yang akan terjadi terhadap Dropadi dalam arena perjudian, ia tahu tentang siapa yang akan mati dan bagaimana prosesnya dalam perang. Dia tahu bahwa Aswatama akan membunuh anak-anak Pandawa. Dia tahu semuanya, dia tahu hal-hal yang mengerikan yang akan terjadi, tetapi dia tidak memberitahu kepada saudara-saudaranya yang bahkan lebih dekat dari bayangannya sendiri. Tiada yang tahu kecuali Khrisna.
Karena hal inilah mungkin Sadewa dianggap orang yang paling tenang, paling sabar didunia, bahwa ia memiliki ketabahan untuk mengatasi dan tidak kehilangan kontrol dirinya.
Sadewa bisa menjawab setiap pertanyaan, ia memiliki kemampuan itu tapi ia terikat untuk tidak berbicara. Kadang-kadang yang terbaik adalah tidak berbicara, bahkan ketika kita tahu yang sebenarnya. Kadang-kadang bencana bertujuan untuk membersihkan bumi dan menghilangkan bebannya sekali lagi. Sadewa dan Khrisna memahami hal ini.
Kisah lainnya adalah sebelum pertandingan judi besar, suatu hari dia diperintahkan kakaknya, Raja Indraprasta, Yudhishtira untuk mengantarkan surat kepada Khrisna di Dwaraka. Sepanjang perjalanan Indrapasta menuju Dwaraka terjadi hujan badai. Sadewa yang seorang pendekar sakti, menggunakan pedangnya untuk melindungi dirinya dari hujan dan tidak setetespun hujan mengenai tubuhnya.
Khrisna bertanya bagaimana Sadewa mampu menghindari hujan, dia menjawab, “Saya menggunakan pedang saya untuk menjaga diri dari hujan". Krishna berpikir jika Sadewa menggunakan pedangnya melawan Kurawa, maka Bhima atau Arjuna tidak dapat memenuhi sumpah mereka untuk membunuh musuh. Jadi Krishna meminta kepada Sadewa, "Anda tidak harus berjuang dalam perang dengan pedang". Setelah berpikir akhirnya Sadewa menyetujui permintaan Khrisna.
Kamis, 01 Desember 2016
DIALOG YUDHISTIRA DAN DEWA YAMA
Yama: Apa yang menyelamatkan matahari bersinar setiap hari?
Yudhishthira: Kuasa Tuhan.
Yama: Apa yang menyelamatkan manusia dalam bahaya?
Yudhishthira: Keberanian adalah keselamatan manusia dalam bahaya.
Yama: Dengan belajar ilmu apa manusia bisa menjadi bijaksana?
Yudhishthira: Manusia menjadi bijaksana tidak karena mempelajari sebuah bidang ilmu, tetapi manusia menjadi bijaksana karena ia mendapat hikmah..
Yama: Apa yang lebih mulia menjaga kehidupan dibanding bumi?
Yudhishthira: Ibu yang membawa anak-anaknya lebih mulia menjaga kehidupan daripada bumi.
Yama: Apa yang lebih tinggi dari langit?
Yudhishthira: Ayah.
Yama: Apa yang lebih cepat berlalu dari angin?
Yudhishthira: Pikiran.
Yama: Apa yang lebih rapuh dari jerami kering?
Yudhishthira: Hati yang dilanda kesedihan.
Yama: Apa yang yang menjadi teman petualang?
Yudhishthira: Belajar.
Yama: Siapakah teman yang tinggal di rumah?
Yudhishthira: Istri.
Yama: Siapa yang menyertai seseorang dalam kematian?
Yudhishthira: Dharma menyertai jiwa dalam perjalanan setelah kematian..
Yama: Apakah kapal yang terbesar?
Yudhishthira: Bumi, yang berisi semua dalam dirinya sendiri adalah kapal terbesar.
Yama: Apa kebahagiaan?
Yudhishthira: Kebahagiaan adalah hasil dari perilaku yang baik.
Yama: Apa yang menjadikan manusia menunda untuk menjadi dicintai oleh semua orang?
Yudhishthira: Kesombongan membuat seseorang tidak dapat dicintai oleh semua orang.
Yama: Sifat apa yang harus dibuang agar kita bisa bersukacita dan tidak mengeluh?
Yudhishthira: Marah, menyerah, kita tidak akan lagi tunduk pada kesedihan.
Yama: Apa itu, dengan menyedekahkannya, manusia menjadi kaya?
Yudhishthira: Hasrat, menyingkirkan itu, manusia menjadi kaya.
Yama: Apa yang membuat seseorang benar-benar menjadi brahmana, apakah kelahiran, perilaku baik atau dengan belajar? Jawablah dengan tegas..
Yudhishthira: Kelahiran dan belajar tidak membuat seseorang menjadi Brahmana, perilaku yang baik saja juga tidak bisa. Namun dengan belajar seseorang mungkin juga tidak akan menjadi Brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan-kebiasaan buruk. Meskipun ia dapat dipelajari, namun seseorang yang memiliki kebiasaan buruk akan jatuh ke kelas yang lebih rendah.
Pada akhirnya Yama bertanya: Wahai raja, salah satu saudara Anda yang mati sekarang dapat dihidupkan kembali, siapa yang Anda pilih untuk dihidupkan kembali?.
Yudhistira berpikir sejenak dan kemudian menjawab: Semoga dia yang berkulit langsat, bermata teratai, dada bidang, berlengan panjang, terbaring seperti pohon eboni jatuh, Nakula dapat dihidupkan kembali.
Yama: "Mengapa Anda memilih Nakula, sedangkan Bhima yang memiliki kekuatan enam belas ribu gajah dan paling sayang kepada Anda… atau mengapa tidak Arjuna, yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk melindungi Anda? Katakan padaku mengapa Anda memilih Nakula bukan salah satu dari keduanya.
Yudhishthira: Dharma adalah satu-satunya perisai manusia, bukan Bhima atau Arjuna. Jika dharma hanya rekayasa maka manusia akan rusak. Kunti dan Madrim adalah kedua istri ayahku. Aku masih hidup, seorang putra Kunti sehingga dia tidak benar-benar berduka. Agar timbangan menjadi adil maka saya meminta agar Nakula anak Madrim ini yang dihidupkan kembali.
Yama senang dengan ketidakberpihakan Yudhistira lalu menyatakan bahwa semua saudara-saudaranya akan hidup kembali.
-Mahabharata
Yudhishthira: Kuasa Tuhan.
Yama: Apa yang menyelamatkan manusia dalam bahaya?
Yudhishthira: Keberanian adalah keselamatan manusia dalam bahaya.
Yama: Dengan belajar ilmu apa manusia bisa menjadi bijaksana?
Yudhishthira: Manusia menjadi bijaksana tidak karena mempelajari sebuah bidang ilmu, tetapi manusia menjadi bijaksana karena ia mendapat hikmah..
Yama: Apa yang lebih mulia menjaga kehidupan dibanding bumi?
Yudhishthira: Ibu yang membawa anak-anaknya lebih mulia menjaga kehidupan daripada bumi.
Yama: Apa yang lebih tinggi dari langit?
Yudhishthira: Ayah.
Yama: Apa yang lebih cepat berlalu dari angin?
Yudhishthira: Pikiran.
Yama: Apa yang lebih rapuh dari jerami kering?
Yudhishthira: Hati yang dilanda kesedihan.
Yama: Apa yang yang menjadi teman petualang?
Yudhishthira: Belajar.
Yama: Siapakah teman yang tinggal di rumah?
Yudhishthira: Istri.
Yama: Siapa yang menyertai seseorang dalam kematian?
Yudhishthira: Dharma menyertai jiwa dalam perjalanan setelah kematian..
Yama: Apakah kapal yang terbesar?
Yudhishthira: Bumi, yang berisi semua dalam dirinya sendiri adalah kapal terbesar.
Yama: Apa kebahagiaan?
Yudhishthira: Kebahagiaan adalah hasil dari perilaku yang baik.
Yama: Apa yang menjadikan manusia menunda untuk menjadi dicintai oleh semua orang?
Yudhishthira: Kesombongan membuat seseorang tidak dapat dicintai oleh semua orang.
Yama: Sifat apa yang harus dibuang agar kita bisa bersukacita dan tidak mengeluh?
Yudhishthira: Marah, menyerah, kita tidak akan lagi tunduk pada kesedihan.
Yama: Apa itu, dengan menyedekahkannya, manusia menjadi kaya?
Yudhishthira: Hasrat, menyingkirkan itu, manusia menjadi kaya.
Yama: Apa yang membuat seseorang benar-benar menjadi brahmana, apakah kelahiran, perilaku baik atau dengan belajar? Jawablah dengan tegas..
Yudhishthira: Kelahiran dan belajar tidak membuat seseorang menjadi Brahmana, perilaku yang baik saja juga tidak bisa. Namun dengan belajar seseorang mungkin juga tidak akan menjadi Brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan-kebiasaan buruk. Meskipun ia dapat dipelajari, namun seseorang yang memiliki kebiasaan buruk akan jatuh ke kelas yang lebih rendah.
Pada akhirnya Yama bertanya: Wahai raja, salah satu saudara Anda yang mati sekarang dapat dihidupkan kembali, siapa yang Anda pilih untuk dihidupkan kembali?.
Yudhistira berpikir sejenak dan kemudian menjawab: Semoga dia yang berkulit langsat, bermata teratai, dada bidang, berlengan panjang, terbaring seperti pohon eboni jatuh, Nakula dapat dihidupkan kembali.
Yama: "Mengapa Anda memilih Nakula, sedangkan Bhima yang memiliki kekuatan enam belas ribu gajah dan paling sayang kepada Anda… atau mengapa tidak Arjuna, yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk melindungi Anda? Katakan padaku mengapa Anda memilih Nakula bukan salah satu dari keduanya.
Yudhishthira: Dharma adalah satu-satunya perisai manusia, bukan Bhima atau Arjuna. Jika dharma hanya rekayasa maka manusia akan rusak. Kunti dan Madrim adalah kedua istri ayahku. Aku masih hidup, seorang putra Kunti sehingga dia tidak benar-benar berduka. Agar timbangan menjadi adil maka saya meminta agar Nakula anak Madrim ini yang dihidupkan kembali.
Yama senang dengan ketidakberpihakan Yudhistira lalu menyatakan bahwa semua saudara-saudaranya akan hidup kembali.
-Mahabharata
Langganan:
Postingan (Atom)
KARMA
Karma bukanlah hukuman. Bukan pula takdir yang dijatuhkan oleh kekuatan di luar diri kita. Karma adalah kesadaran bahwa setiap tindakan yang...
-
Ketika seseorang memutuskan untuk berjalan kesebuah tempat, dia memiliki pikiran rasional, misalnya, “Apabila aku pergi kesana, kepergianku ...
-
Suatu hari Atabeg berkata, “Orang kafir Yunani telah menyarankan kami menikahkan putri kami kepada kaum Tartar, sehingga agamanya menjadi sa...
-
Mendengar sesuatu terus-menerus sama baiknya dengan melihatnya. Sebagai contoh, ibu atau bapakmu mengatakan padamu bahwa mereka telah mela...