Senin, 24 Desember 2018

BERJUMPA KE-U-TUHAN

Tetua Bali sering bercerita tentang menyatunya alam kecil (bhuwana alit) dengan alam besar (bhuwana agung). Alam besar tentu saja terlalu rumit. Di awal abad ke 20, dunia fisika bersama Newton dkk pernah menduga kalau teka-teki tentang alam semesta akan terjawab semuanya tidak lama lagi. Akan tetapi, tidak lama kemudian tatkala lahir pendekatan quantum mechanics (mekanika kuantum), optimisme ini bubar. Alam besar masih menyisakan teka-teki besar yang tidak bisa dijawab.

Oleh karena itu, mari melihat alam kecil yang kerap disebut diri kita sendiri. Bagian dari diri kita yang paling mudah untuk didiskusikan adalah tubuh. Di Tantra sudah banyak yang melihat dan mengalami, tubuh manusia menyimpan banyak sekali rahasia indah tentang perjalanan jiwa. Coba perhatikan bagian atas dan bagian bawah tubuh manusia.

Di bagian atas tubuh, ada lubang bernama mulut dari mana manusia memasukkan hal-hal yang menyenangkan. Sedangkan di bagian bawah, ada lubang yakni (maaf) dubur. Sebuah tempat di mana manusia membuang kekotoran. Ringkasnya, alam besar dan alam kecil serupa. Di satu bagian berisi hal-hal yang menyenangkan. Di bagian lain berisi hal-hal yang tidak menyenangkan. Berdoa tidak berdoa, meditasi tidak meditasi, demikianlah hukumnya.

Makanya di jalan jhnana (pengetahuan), ada yang menyebut konsep Tuhan sebagai hukum (God as a law). Inilah salah satu hukumnya. Jangankan saat tidak lahir Avatara, Buddha dan Nabi, bahkan saat lahir Avatara pun orang-orang menjengkelkan lahir. Di zamannya Sang Rama, penggodanya bernama Rahwana. Di zamannya Shri Krisna, penggodanya bernama Duryodana, di zamannya GA Buddha penggodanya bernama Dewadatta. Hal yang sama terjadi saat Nabi lain lahir.

Ringkasnya, mirip dengan aliran malam dan siang, alam kecil dan alam besar keduanya mengalir. Makanan enak di hari ini, sebagian jadi kotoran besok pagi. Pujian orang di hari tertentu bisa jadi sumber makian di hari lain. Anak yang penurut di sebuah tahun, bisa jadi anak pembangkang di tahun yang lain. Begitulah hukumnya. Ciri dominan jiwa-jiwa menderita adalah serakah memilih yang baik di atas yang buruk, memegang yang benar di atas yang salah, menggenggam kesucian menendang kekotoran. Sebagai akibatnya, energi di dalam jadi gagal mengalir. Ia sesederhana manusia yang makan banyak di hari ini, tapi di hari berikutnya tidak buang air besar.

Inilah awal banyak sekali penyakit dan rasa sakit. Kegantengan suami diterima, kemarahannya ditolak habis-habisan. Kecantikan istri didekap, cerewetnya diancam cerai. Kepintaran anak dibanggakan, kenakalannya disembunyikan. Banyak orang hanya mau kaya, tapi tidak mau konsekuensi negatif yang muncul sebagai akibat berlimpahnya kekayaan. Sekali lagi, inilah awal banyak penyakit dan rasa sakit. Sekaligus inilah bentuk energi yang gagal mengalir.

Sebagaimana sudah diulas secara berulang-ulang di buku sederhana ini dari pintu depan, pada kelompok tulisan yang berjudul tirtha kesembuhan maupun tirtha kedamaian, meditasi tidak pernah lelah mengundang para pencari spiritual untuk selalu kembali ke rumus sederhana tapi mendasar ini yakni: “terima, mengalir, senyum”.

Melalui pendekatan terima, mengalir, senyum, seseorang tidak saja membebaskan penghalang energi di dalam untuk mengalir kembali, tetapi juga membuat jiwa memasuki gerbang ke-u- Tuhan. Di zaman dulu sekali, saat zaman masih sangat kacau, liar dan barbar, Tuhan sering digambarkan dengan wajah yang marah lengkap dengan dosa dan nerakanya.

Di zaman ini, menggambar wajah Tuhan yang pemarah tidak saja menyuburkan tumbuhnya kelompok ateis, tetapi juga membuat anak-anak muda menjauh dari sumber mata air jernih bernama agama dan spiritualitas. Itu sebabnya, sejumlah Guru spiritual dengan pencapaian spiritual mengagumkan di zaman ini senang sekali berbagi cerita tentang ke-u-Tuhan.

Dalam bahasa yang ringkas namun padat, orang jahat lahir untuk membuat orang baik terlihat lebih baik, kesedihan adalah kekuatan di alam yang membuat kebahagiaan terasa jauh lebih dalam, dukacita adalah tangisan yang membuat nyanyian sukacita jauh lebih bercahaya. Itulah yang disebut dengan ke-u-Tuhan.

Sebuah kekuatan yang membuat energi di dalam mengalir kembali. Begitu energi-energi di dalam mengalir kembali secara alami, di sana kesembuhan dan kedamaian akan hadir secara asri. Pada saat yang sama, banyak kecelakaan kehidupan seperti bunuh diri, penyakit menakutkan seperti HIV bisa dihindari dan dikurangi. Sejujurnya, inilah bunga indah meditasi. Tempat sucinya bisa di mana saja, cara berdoanya bisa seperti apa saja, upacaranya bisa menggunakan tradisi apa saja, saran buku sederhana ini cuma satu: “lakukan semuanya dengan spirit ke-u-Tuhan”. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

JIWA YANG MEKAR

Salah satu ajaran tingkat tinggi yang pernah lahir di alam ini bernama Tantra. Sebagian ajaran Tantra memang bersifat rahasia. Tapi bila semuanya dirahasiakan, suatu hari ajaran ini akan punah. Untuk itulah, sejumlah Guru seperti Osho berani membuka rahasia-rahasia Tantra.

Jika Buddha Tantra lebih dekat dengan jalan jhnana (pengetahuan) serta puncaknya bernama keheningan, Shiva Tantra lebih dekat dengan jalan bakti (devotion) serta puncaknya bernama kebersatuan. Dua-duanya bersifat saling melengkapi.

Itu sebabnya Shiva Tantra turun dari Shivaji kepada permaisurinya. Implisit dalam kisah ini berarti, ajaran ini hanya boleh diturunkan kepada murid-murid dengan bakti yang sangat dalam. Hanya dengan bakti yang mendalam maka kebersatuan bisa dicapai.

Perintah komplit Shiva Tantra berjumlah 112 bisa selengkapnya dibaca dalam maha karya Osho yang berjudul The Book of Secret. Dan tidak semua penafsiran Osho layak ditelan mentah-mentah. Terutama karena Osho mengajar dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda dengan kita.

Dalam tulisan ringkas ini akan dicoba menafsirkan tiga perintah Shiva Tantra yang cocok dengan konteks ruang dan waktu kita. Perintah pertama: “sentuh mata secara lembut, selembut bulu ayam”. Penafsirannya, hati-hati dengan cara memandang. Duka-suka, salah-benar, neraka-surga semua berawal dari cara memandang. Yang disarankan, belajar memandang kehidupan dengan mata kelembutan. Ia yang memandang kehidupan dengan mata kelembutan sedang berjalan di jalan kedamaian. Perintah kedua: “lihat langit melampaui awan-awan”. Kesedihan-kesenangan, cacian-pujian, gagal-sukses semuanya awan-awan yang tidak kekal. Dan Anda bukan awan-awan tersebut. Diri sejati mirip dengan langit biru. Apa pun wajah awannya, semuanya disaksikan dengan senyuman yang sama. Itu sebabnya, meditasi mendalam selalu menyarankan untuk menjadi saksi terhadap semua pengalaman kekinian.

Perintah ketiga: “akar selalu bertumbuh di tempat gelap”. Penafsirannya, siapa saja yang mau mengerti akarnya jiwa disarankan memahami kegelapan. Simpan di dalam hati, kegelapan bukan musuhnya cahaya. Kegelapan adalah kekuatan yang membuat cahaya memancar lebih terang. Lebih dari itu, kalau semua orang menjauh dari kegelapan, lantas siapa yang membimbing mereka berevolusi menjadi cahaya?

Digabung menjadi satu, tiga perintah Shiva Tantra ini bisa menjadi bekal mendalam di jalan pencerahan. Pandang kehidupan secara lembut, lampaui awan-awan pikiran dan perasan, kemudian ingat selalu bahwa semuanya adalah cahaya. Bahkan kegelapan pun sedang berevolusi menjadi cahaya.

Ia yang membadankan tiga perintah ini dalam dalam, jiwanya sedang berevolusi menjadi bunga indah. Jika bunga biasa cepat layu, bunga jiwa yang tercerahkan akan tetap mekar di sini untuk berbagi aroma cinta.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

BERCENGKERAMA DENGAN KEDAMAIAN

Di dunia pengambilan keputusan, ada sebuah faktor yang kelihatannya kecil tapi berpengaruh besar terhadap aliran kehidupan kemudian, faktor itu bernama waktu. Bila waktunya salah, setepat apa pun keputusannya, kehidupan bisa bubar. Jika waktunya tepat, sesalah apa pun keputusannya, kemungkinan selamatnya tinggi.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana seseorang tahu kalau waktunya tepat atau tidak?  Belajar dari perjalanan spiritual samurai tersohor Miyamoto Musashi, di dalam diri manusia penuh dengan tanda-tanda yang bisa dibaca. Sedihnya, sangat sedikit ada manusia di zaman ini yang membaca tanda-tanda di dalam. Dan kapan saja di dalam terasa tenang, damai, bebas dari ketakutan, itulah waktu paling tepat untuk mengambil keputusan penting dalam kehidupan.

Sebagaimana dialami banyak penekun spiritual tingkat tinggi, begitu keputusan diambil dalam ketenangan sempurna, berikutnya banyak hal-hal yang di luar dugaan muncul sebagai kondisi yang mendukung.

Suatu hari Mahatma Gandhi sudah siap memimpin demonstrasi besar berjumlah ribuan orang untuk memprotes penjajah Inggris soal garam. Tapi begitu siap berangkat demonstrasi, Gandhiji melihat ada kemarahan di dalam dirinya. Oleh karena itu, beliau memilih meditasi dibandingkan demonstrasi. Sementara ribuan pendukungnya sudah siap mendukung demonstrasi di luar, pria kurus sekaligus sederhana ini duduk hening dalam meditasi, memberi jarak yang sama pada semua emosi yang datang, tersenyum pada semua berkah kekinian yang datang.

Dalam bahasa meditasi, sadari tubuh sebagai tubuh bukan sebagai diri Anda. Sadari perasaan sebagai perasaan bukan sebagai diri Anda. Sadari pikiran sebagai pikiran, bukan sebagai diri Anda. Sadari obyek pikiran sebagai obyek pikiran, bukan sebagai diri Anda. Ini kerap disebut sebagai empat tiang kesadaran.

Tatkala Mahatma Gandhi yakin dirinya tenang, seimbang, bebas dari kemarahan, di sana beliau langsung turun memimpin demonstrasi. Dan sejarah sudah mencatat, bahkan tentara terkuat di dunia saat itu (baca: penjajah Inggris) harus angkat kaki dari India.

Pelajarannya sederhana, ketenangan dan kedamaian serupa alamatnya jiwa di dalam. Begitu jiwa berumah damai di dalam, banyak hal di luar dugaan bisa muncul untuk mendukung perjalanan kehidupan kemudian. Sayangnya, di zaman ini banyak jiwa yang bernasib mirip dengan anak-anak tersesat yang tidak tahu rumahnya di mana. Sebagai akibatnya, di rumah salah, di kantor penuh musibah. Tidak kebayang bagaimana wajah keputusan orang-orang seperti ini. Itu sebabnya, sangat-sangat dianjurkan kepada banyak sahabat untuk bersentuhan dengan kedamaian di dalam.

Dalam bahasa sederhana namun mendalam, apa pun berkah kekiniannya, ingat selalu menerima, mengalir dan tersenyum. Terutama karena semua gerakan kehidupan adalah tarian kesempurnaan yang sama. Inilah yang disebut dengan bercengkrama dengan kedamaian. Di titik seperti ini, pengambilan keputusan jadi mudah dan indah.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

CINTA MEMBAWA KEDAMAIAN

Suatu hari ada orang kaya dengan empat istri yang siap-siap meninggal karena umur tua. Tentu saja yang pertama kali dipanggil adalah istri ke empat. Belum sempat mengungkapkan keinginan agar istrinya mau menemani di jalan kematian, istri ke empat sudah pergi sambil membanting pintu.

Dengan sedih orang kaya ini memanggil istri ketiga. Begitu selesai bertanya apakah istrinya mau ikut mati, wanita ini langsung berucap: “maaf, saya hanya bisa menemani kanda sampai di sini saja”. Kendati hatinya tambah pedih, orang kaya ini memanggil istri kedua. Istri ini jawabannya lebih sopan: “saya bisa menemani, cuman hanya sampai di kuburan”. Sehingga tidak ada pilihan lain terkecuali memanggil istri pertama yang tua, renta, berambut putih, serta tidak pernahmendapat perhatian. Anehnya, saat ditanya kesediaannya menemani ke alam kematian, wanita keriput ini berbisik lembut di telinga suaminya: “saya akan menemani kanda ke manapun dan sampai kapan pun”.

Cerita ilustratif ini adalah cerita banyak manusia di depan kematian. Istri ke empat yang paling menarik dan atraktif bagi orang kebanyakan adalah harta dan tahta. Jangankan setelah tua dan sakit, bahkan tubuh masih segar bugar pun, tahta dan harta digoyang banyak orang. Istri kedua yang hanya bisa mengantar sampai waktu kematian adalah tubuh fisik. Begitu seseorang mati, tubuh fisik langsung mengucapkan selamat tinggal. Istri ketiga yang menghantar hanya sampai di kuburan adalah keluarga dan kerabat dekat.

Tentu timbul pertanyaan, siapa istri pertama yang demikian setia menemani setelah waktu kematian, kendati ia telah lama tidak diperhatikan. Dia tidak lain adalah praktik spiritual mendalam. Itulah satu-satunya yang dibawa jiwa setelah kematian. Sedihnya, terlalu banyak manusia di zaman ini meninggal tanpa bekal praktik spiritual mendalam. Sebagai hasilnya, perjalanan jiwa menjadi sangat menyedihkan.

Di dunia spiritual mendalam dikenal luas pendapat, kualitas spiritual seseorang terlihat terang saat kematian. Dalam pengalaman sejumlah Guru tingkat tinggi, alam bahkan melakukan penghormatan. Langit menghormat dengan pelangi, bumi menghormat dengan gempa kecil.

Ramakrisna adalah seorang Guru yang meninggalnya indah. Saat beliau meninggal diumur muda, istrinya Sharadadevi tidak menangis, bahkan tidak ikut pergi ke tempat kremasi. Tatkala ditanya kenapa, wanita lembut ini menjawab: “tubuh fisik Ramakrisna memang wafat, tapi cinta Ramakrisna akan tetap hidup di hati saya”. Sejak saat itu Sharadadevi tidak pernah berhenti menyiapkan sarapan, makan siang, handuk serta persiapan sehari-hari pada suaminya yang sudah dikremasi. Bahkan tempat tidur suaminya yang sudah kosong pun, tetap ditutup kain kelambu agar tidak dimasuki nyamuk. Anehnya, tatkala Sharadadevi mau meninggal karena usia tua , ia malah menangis: “nanti siapa yang menyiapkan makanannya Ramakrisna?”.

Inilah praktik spiritual mendalam. Di depan kematian seseorang hanya melihat cahaya cinta yang menawan. Sebagai akibatnya, perjalanan jiwa kemudian akan penuh dengan kedamaian.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

SENYUMAN PALING INDAH

“Bila tidak melaksanakan vegetarian, apakah meditasinya akan terganggu?”, demikian seorang anak muda bertanya. Tidak makan daging tentu saja baik. Terutama karena mengurangi rasa bersalah yang timbul di dalam hati. Tapi yang lebih baik lagi adalah vegetarian di dalam pikiran (baca: pikiran yang tidak menghakimi). Terlalu banyak sahabat yang mulutnya vegetarian, tapi pikirannya tidak vegetarian. Sebagai akibatnya, perjalanan meditasinya penuh dengan halangan.

Ini yang dialami oleh dua orang murid zen yang meditasinya sulit bertumbuh. Suatu hari dua murid ini melihat bendera sedang bergerak. Yang pertama menyebutkan kalau yang bergerak adalah benderanya. Yang kedua menyimpulkan kalau yang bergerak adalah anginnya. Maka ramelah perdebatan diantara mereka berdua. Bendera-angin, angin-bendera, dst. Di tengah perdebatan yang memanas, tiba-tiba Guru mereka datang. Tatkala ditanya yang benar yang mana, Gurunya kemudian menjawab: “yang bergerak adalah pikiran kalian”. Inilah ciri pikiran yang tidak vegetarian, selalu bergerak lengkap dengan dialog dan perdebatan di dalam. Ujungnya mudah ditebak, kedamaian menjauh.

Berbeda dengan perguruan tinggi di mana logika yang kuat diberi nilai tinggi, di jalan meditasi logika yang terlalu kuat adalah serangkaian penghalang yang mengkhawatirkan. Dalam bahasa yang indah: “logika adalah tongkat bagi jiwa-jiwa yang pincang, serta beban berat bagi jiwa-jiwa yang sudah terbang”.

Itu sebabnya meditasi tekun sekali memberitahu untuk melewati logika, terutama dengan cara menyaksikan. “Perhatikan pikiran sebagai pikiran, bukan sebagai kebenaran, begitulah cara meditasi membebaskan banyak sekali jiwa”, demikian sering terdengar di sesi-sesi meditasi.

Tidak saja logika dilampaui, rasa juga dilampaui. Rasa sedih dilewati, rasa senang juga dilewati. Sampai suatu hari mengalami, semuanya hanya gelombang-gelombang di permukaan. Dan meditasi tidak menyarankan Anda menjadi gelombang, melainkan kembali ke rumah abadi bernama samudra.

Di rumah abadi bernama samudra inilah kemudian seseorang bisa melihat secara jernih dan bersih perjalanan dari tubuh personal ke tubuh interpersonal, kemudian istirahat indah di tubuh kosmik. Di tubuh personal, seseorang mengira tubuh fisiklah diri mereka. Di tubuh interpersonal, seseorang rindu pengakuan, kebersamaan. Dan hanya di tubuh kosmik (baca: alam dan kehidupan) kemudian jiwa bisa melampaui logika dan rasa. Kalau logika adalah tongkat bagi jiwa-jiwa yang pincang, rasa adalah perahu bagi jiwa-jiwa yang belum pulang. Keduanya hanya kendaraan-kendaraan sementara. Dan sesampai di rumah (home), kehidupan berubah wajah menjadi serangkaian senyuman. Masa lalu membawa senyuman, masa depan menjanjikan senyuman, masa kini penuh senyuman. Diantara semua senyuman, yang terindah adalah keheningan yang melahirkan cinta.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

TARIAN KEDAMAIAN

Apa rahasia di balik pernikahan yang berumur panjang? Itu pertanyaan banyak sekali generasi muda yang ingin pernikahannya awet. Ia yang sudah menikah dengan pasangan yang sama lebih dari seperempat abad mengerti, pernikahan adalah leburnya dua tubuh ke dalam sebuah jiwa yang indah. Akan tetapi, proses leburnya dua tubuh menjadi satu jiwa yang indah ini berjalan lama, panjang, banyak cobaan, sekaligus rumit dan sulit.

Pernikahan bukanlah perjumpaan mur dan baut yang sekali ketemu langsung pas selama-lamanya. Pernikahan adalah perjuangan tanpa henti untuk terus menerus saling mencintai. Bila disederhanakan, pertumbuhan pernikahan berjalan seperti ini. Awalnya, semua pasangan tertarik pada lawan jenisnya karena hal-hal luar seperti bentuk muka, postur tubuh, cara bicara, kesamaan hobi, kemiripan pendidikan. Ketertarikan karena hal-hal luar ini biasanya tidak bertahan lama, bahkan rawan mengundang konflik. Ia mirip dg kulit buah yang tidak selalu mencerminkan isi di dalamnya. Ia yang bisa melewati konflik ini di awal, kemudian tertarik dengan pasangan bukan karena hal-hal luar, melainkan karena hal-hal yang ada di dalam. Kesabaran, toleransi, kemampuan memaafkan, pelayanan, penyayang pada keluarga dan anak-anak adalah sebagian kualitas di dalam yang bisa membuat pernikahan bertahan lama.

Godaan terberat di tingkat ini adalah ego dan keakuan. Ia biasanya hadir pada orang-orang yang punya kelebihan seperti kepintaran, kekayaan, keterkenalan. Kegagalan untuk secara bergantian merendah dan mengalah, itu yang membuat banyak keluarga bubar. Lagi-lagi sebab utamanya adalah ego.

Setiap keluarga yang bertahan lama selalu ditandai oleh mengalahnya salah satu pihak disebuah waktu, kemudian mengalahnya pihak lain di waktu lain. Ringkasnya, mengalah secara bergantian. Tanpa keikhlasan untuk mengalah dan merendah, keluarga mana pun pasti bubar. Setelah diamplas dan dihaluskan habis-habisan oleh ketekunan untuk merendah dan mengalah, baru sebuah pasangan pernikahan bertumbuh ke tingkatan ke tiga. Jika tingkatan pertama seseorang tertarik dengan hal-hal luar, tingkatan kedua tertarik dengan hal-hal di dalam, di tingkatan ketiga seseorang mulai melihat pasangannya sebagai belahan jiwa yang sesungguhnya. Di tingkatan ketiga ini, apa yang pernah diwariskan Rumi menjadi sebuah kebenaran yang dialami serta hadir di depan mata. Rumi pernah berpesan: “apa yang Anda cintai dalam waktu lama menyimpan rahasia tentang siapa diri Anda”. Dengan kata lain, begitu seseorang bertumbuh jauh di lembaga pernikahan, ia tidak saja bisa menemukan belahan jiwa, lebih dari itu ia juga bisa menemukan rahasia tentang siapa dirinya yang sesungguhnya. Seorang sahabat yang sudah 37 tahun bersama istrinya bercerita kalau bagian terindah dari pasangannya adalah kelembutan.

Dengan kata lain, kelembutan adalah bagian dari jiwa dia yang mesti disempurnakan di hidup ini. Seorang sahabat lain yang sudah hampir empat puluh tahun hidup bersama pasangannya membuka rahasia, ia menemukan rahasia tentang dirinya di balik nama pasangannya. Di puncak semua ini, setiap jiwa yang bertumbuh jauh di lembaga pernikahan, menemukan belahan jiwa, menemukan rahasia tentang siapa dirinya, kemudian menemukan ternyata kehidupan adalah tarian kedamaian.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

CIUMAN KEDAMAIAN

“Kenapa wanita kalau dicium matanya terpejam?”, ini pertanyaan banyak remaja pria. Bagi setiap sahabat yang meditasinya sudah mendalam mengerti, keindahan yang sesungguhnya ada di dalam. Keindahan di luar hanya pantulan dari keindahan harmoni yang ada di dalam. Sedihnya, sangat sedikit manusia di zaman ini yang bisa berjumpa keindahan seperti ini.

Kebanyakan manusia harus bertempur dengan dirinya dan hidupnya. Di jalan belas kasih (compassion) kerap terdengar pesan seperti ini: “berbaik hatilah kepada orang-orang yang menyakiti. Mereka sedang bertempur. Dan pertempuran sesungguhnya bukan dengan Anda, melainkan dengan dirinya”. Ini yang menjelaskan kenapa hadir hawa panas di mana-mana. Rumah sakit jiwa penuh, rumah sakit kebanyakan pasien, korban narkoba meningkat, cerita perceraian dan bunuh diri sangat menyentuh hati. Ringkasnya, sangat jarang ada manusia yang bisa diajak menemukan harmoni di dalam diri. Kebanyakan tenggelam di dunia materi.

Di kelas-kelas meditasi kerap diceritakan, ada banyak sekali benih-benih kekerasan yang ditanam dalam bathin manusia. Keluarga, sekolah, pemimpin, masyarakat menanam banyak sekali benih-benih kekerasan di dalam bathin. Sehingga mudah dipahami kalau ada banyak manusia terbakar hanya karena hal yang sangat kecil. Di tingkat kesembuhan, meditasi mengajarkan pendekatan selective watering (hanya menyirami bibit-bibit kedamaian). Caranya, hanya menjumpai orang-orang yang mendukung perjalanan kedamaian Anda. Di dalam, setiap kali ada memori kekerasan muncul, seseorang disarankan tersenyum pada memori buruk, kemudian tidak bereaksi baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan.

Meminjam ajaran suku Indian di Amerika, di dalam diri kita ada dua serigala baik dan buruk yang bertempur setiap hari. Dan yang menang adalah yang diberi makan setiap hari. Dengan pendekatan tersenyum pada benih-benih kekerasan di dalam diri, tidak bereaksi dalam ucapan dan tindakan, seseorang sedang tidak memberi makan pada serigala buruk yang ada di dalam.

Dalam bahasa meditasi: “sadari pikiran sebagai pikiran, bukan sebagai kebenaran. Sadari perasaan sebagai perasaan, bukan sebagai diri Anda. Demikianlah cara meditasi menyembuhkan banyak jiwa”. Ia yang tekun berlatih meditasi seperti ini, suatu hari akan mengalami kesembuhan. Dan tidak perlu diseret oleh hawa panas kehidupan yang hadir di mana-mana.

Di tingkat kesempurnaan lain lagi, pendekatan selective watering tidak diperlukan. Yang diperlukan adalah ketekunan untuk menyaksikan tanpa memilih (choiceless awareness). Setiap kejadian di luar atau perasaan di dalam, keduanya mirip dengan pecahan salju yang jatuh di danau. Menimbulkan riak sebentar, kemudian hilang. Seperti itulah sifat alami kehidupan. Semua ada hukumnya. Pohon rindang mengundang datangnya burung-burung. Bunga-bunga mekar mengundang datangnya kupu-kupu. Dan seburuk atau seindah apa pun keseharian, semuanya muncul kemudian menghilang. Ia sesederhana pecahan salju yang jatuh ke danau.

Setelah menyatu dengan keseharian meditatif seperti ini, kehidupan kemudian bertransformasi menjadi nyanyian harmoni. Ini yang memungkinkan seseorang menemukan keindahan sesungguhnya yang ada di dalam. Ini juga yang disebut sebagai kehidupan sebagai ciuman kedamaian.

-Gede Prama, Menemukan Tirtha di Dalam Diri

KARMA

Karma bukanlah hukuman. Bukan pula takdir yang dijatuhkan oleh kekuatan di luar diri kita. Karma adalah kesadaran bahwa setiap tindakan yang...