Selasa, 16 Desember 2025

Bab 81. Kebenaran dan Kebajikan

Kata-kata yang benar tidaklah indah, 

kata-kata yang indah tidak selalu benar. 

Orang bijak tidak menimbun, 

semakin ia memberi, semakin ia berkelimpahan. 

Jalan Tao memberi manfaat bagi segala sesuatu tanpa menimbulkan pertentangan.

Bab 80. Negara Kecil, Rakyat Sedikit

Negara kecil dengan rakyat sedikit membuat kehidupan tenteram. 

Walau memiliki berbagai alat, mereka tidak bergantung padanya. 

Orang merasa cukup dengan makanannya, 

puas dengan tempat tinggalnya, 

dan tenteram dengan adat kebiasaannya.

Bab 79. Penyelesaian Tanpa Dendam

Setelah perselisihan diselesaikan, sisa kebencian tetap tinggal. 

Orang bijak memegang bagian yang menjadi tanggung jawabnya dan tidak menuntut dari orang lain. 

Tao Surgawi tidak memihak, namun selalu berpihak pada yang berbudi.

Bab 78. Kelembutan Mengalahkan Kekerasan

Di dunia ini tidak ada yang lebih lembut dan lemah daripada air, 

namun dalam menghadapi yang keras dan kuat, tidak ada yang mampu mengalahkannya. 

Yang lemah menaklukkan yang kuat, yang lembut menundukkan yang keras. 

Semua orang mengetahuinya, tetapi tidak ada yang mampu mempraktikkannya.

Bab 77. Jalan Tao dan Jalan Manusia

Jalan Tao mengurangi yang berlebih dan menambah yang kurang. 

Jalan manusia justru mengurangi yang kurang dan menambah yang berlebih. 

Orang bijak memberi tanpa menyimpan, bekerja tanpa memiliki, dan menyelesaikan tanpa menguasai.

Bab 76. Kelembutan dan Kehidupan

Ketika hidup, manusia lembut dan lentur. 

Ketika mati, ia kaku dan keras. 

Yang keras dan kaku adalah pengikut kematian, 

yang lembut dan lentur adalah pengikut kehidupan.

Bab 75. Akar Kesengsaraan Rakyat

Rakyat kelaparan karena pajak yang terlalu berat. 

Sulit diatur karena penguasa terlalu banyak campur tangan. 

Mereka menganggap hidup ringan karena tekanan yang berat.

Bab 74. Hukuman dan Ketakutan

Jika rakyat tidak takut pada kematian, 

bagaimana hukuman mati dapat menakutkan mereka?

Menggantikan algojo besar adalah seperti menggantikan tukang kayu agung, 

jarang ada yang tidak melukai tangannya sendiri.

Bab 73. Keberanian dan Tao

Keberanian dalam menyerang membawa kematian. 

Keberanian dalam bertahan membawa kehidupan. 

Tao Surgawi tidak berjuang namun selalu menang, 

tidak berbicara namun selalu menjawab.

Bab 72. Tidak Menindas Rakyat

Ketika rakyat tidak takut kepada kekuasaan, 

kekuasaan besar akan datang. 

Jangan menindas ruang hidup mereka, 

jangan meremehkan penghidupan mereka. 

Maka mereka tidak akan memberontak.

Bab 71. Mengetahui Ketidaktahuan

Mengetahui bahwa tidak tahu adalah yang tertinggi. 

Tidak mengetahui namun mengira tahu adalah penyakit. 

Orang bijak bebas dari penyakit ini karena ia menyadarinya.

Bab 70. Tao yang Sulit Dipahami

Kata-kataku mudah dipahami dan mudah dilakukan, 

tetapi tidak ada yang mampu memahaminya atau melakukannya. 

Karena itulah orang bijak berpakaian sederhana namun menyimpan giok didalam dadanya.

Bab 69. Mengalah untuk Menang

Dalam peperangan, tidak ada bencana yang lebih besar daripada meremehkan lawan. 

Mengalah berarti menjaga diri. 

Mereka yang berduka akan menang.

Bab 68. Keutamaan Tanpa Pertentangan

Seorang jenderal yang baik tidak bersifat kejam. 

Seorang pejuang yang baik tidak pemarah. 

Yang unggul tidak bersaing. 

Inilah kebajikan tanpa pertentangan, keselarasan dengan Tao.

Bab 67. Tiga Harta

Aku memiliki tiga harta dan menjaganya: 

yang pertama adalah welas asih, 

yang kedua adalah kesederhanaan, 

yang ketiga adalah tidak berani mendahului. 

Dengan welas asih seseorang menjadi berani, 

dengan kesederhanaan menjadi luas, 

dan dengan tidak mendahului menjadi pemimpin.

Bab 66. Kerendahan Memimpin

Sungai dan laut mampu menjadi raja dari segala lembah karena mereka berada di tempat rendah. 

Maka orang bijak menempatkan diri dibawah untuk memimpin. 

Ia tidak bersaing, sehingga tidak ada yang dapat bersaing dengannya.

Bab 65. Kebijaksanaan Lama

Mereka yang dahulu mahir menggunakan Tao tidak membuat rakyat menjadi cerdas, melainkan sederhana. 

Rakyat yang terlalu cerdas sulit diatur. 

Dengan kesederhanaan, negara menjadi teratur. 

Inilah kebajikan yang mendalam.

Bab 64. Mencegah Sebelum Terjadi

Apa yang masih tenang mudah ditangani. 

Apa yang belum muncul mudah dicegah. 

Pohon besar tumbuh dari tunas kecil, bangunan tinggi dimulai dari tanah rendah. 

Orang bijak tidak bertindak berlebihan, maka ia tidak merusak.

Bab 63. Bertindak Tanpa Bertindak

Lakukan non-tindakan, kerjakan tanpa kesibukan, kecaplah tanpa rasa. 

Lihat yang kecil sebagai besar, yang sedikit sebagai banyak. 

Hadapi kesulitan selagi masih mudah, kerjakan yang besar selagi masih kecil. 

Orang bijak tidak menganggap besar apa yang ia lakukan, maka ia mampu menyelesaikan hal besar.

Bab 62. Tao sebagai Perlindungan

Tao adalah perlindungan bagi segala sesuatu. 

Ia adalah harta bagi orang baik dan tempat berlindung bagi orang yang belum baik. 

Kata-kata yang indah dapat memenangkan kehormatan, perbuatan yang baik dapat menyentuh manusia. 

Mengapa orang yang belum baik harus ditolak?

Bab 61. Kerendahan sebagai Kekuatan

Negara besar seperti sungai yang rendah, 

tempat segala aliran berkumpul. 

Dengan menempatkan diri di posisi rendah, 

negara besar dan kecil memperoleh apa yang mereka inginkan.

Bab 60. Memerintah Negara Besar

Memerintah negara besar seperti memasak ikan kecil. 

Dengan menggunakan Tao, 

para dewa tidak menyakiti manusia dan manusia tidak saling merugikan.

Bab 59. Konservasi dan Akar Kehidupan

Tidak ada yang melebihi konservasi. 

Dengan mengumpulkan kebajikan, 

tidak ada yang tidak dapat diatasi. 

Inilah akar yang dalam dan fondasi yang kokoh.

Bab 58. Keberuntungan dan Kemalangan

Kemalangan adalah tempat keberuntungan bersandar. 

Keberuntungan adalah tempat kemalangan bersembunyi. 

Siapa yang mengetahui akhirnya? 

Orang bijak terang tanpa menyilaukan.

Bab 57. Memerintah dengan Non-Campur Tangan

Semakin banyak hukum, 

semakin miskin rakyat. 

Orang bijak berkata: Aku tidak ikut campur 

dan rakyat membenahi diri mereka sendiri.

Bab 56. Keesaan Mistik

Mereka yang tahu tidak berbicara, 

mereka yang berbicara tidak tahu. 

Menumpulkan ketajaman, mengurai simpul, meredupkan silau. 

Inilah yang disebut keesaan mistik.

Bab 55. Seperti Bayi Baru Lahir

Ia yang memiliki kebajikan besar seperti bayi baru lahir. 

Binatang buas tidak mencakarnya, burung pemangsa tidak menyerangnya. 

Harmoni yang utuh disebut keteguhan.

Bab 54. Menanam Kebajikan

Tanamkan dalam diri, kebajikan akan sejati. 

Tanamkan dalam keluarga, kebajikan akan berlimpah. 

Tanamkan dalam negara, kebajikan akan makmur. 

Dengan inilah dunia dapat dikenal.

Bab 53. Menyimpang dari Tao

Tao yang agung itu rata dan mudah, 

tetapi manusia menyukai jalan samping. 

Istana megah, ladang tandus, gudang kosong. 

Ini bukan Tao, melainkan perampokan.

Bab 52. Kembali kepada Ibu

Dunia memiliki awal, yang disebut ibu dunia. 

Mengetahui ibu, seseorang mengenal anak-anaknya. 

Berpegang pada yang lembut disebut kekuatan. 

Inilah yang disebut melatih keteguhan.

Bab 51. Tao dan Kebajikan Mistik

Tao melahirkan, kebajikan membesarkan, 

segala sesuatu membentuk dan memelihara. 

Menghasilkan tanpa memiliki, 

membesarkan tanpa mendominasi. 

Inilah yang disebut kebajikan mistik.

Bab 50. Hidup dan Kematian

Mereka yang pandai mengolah kehidupan tidak menemui bahaya. 

Binatang buas tidak mencakar mereka, senjata tidak melukai mereka. 

Mengapa? 

Karena mereka tidak memiliki tempat bagi kematian.

Bab 49. Hati Orang Bijak

Orang bijak tidak memiliki pikiran yang tetap. 

Ia menjadikan pikiran rakyat sebagai pikirannya. 

Kepada yang baik ia berbuat baik, kepada yang tidak baik pun ia berbuat baik. 

Demikianlah keutamaan kebajikan dan kepercayaan.

Bab 48. Mengurangi untuk Mencapai Tao

Dalam mengejar ilmu, seseorang menambah setiap hari. 

Dalam mengejar Tao, seseorang mengurangi setiap hari. 

Mengurangi dan terus mengurangi hingga mencapai non-tindakan. 

Dengan non-tindakan, tidak ada yang tidak dapat dicapai.

Bab 47. Mengetahui Tanpa Pergi

Tanpa keluar rumah, seseorang dapat mengenal dunia. 

Tanpa mengintip ke luar jendela, seseorang dapat melihat Tao Surgawi. 

Semakin jauh seseorang pergi, semakin sedikit yang ia ketahui. 

Oleh karena itu orang bijak mengetahui tanpa pergi dan mencapai tanpa berusaha.

Bab 46. Kepuasan dan Ketamakan

Ketika dunia memiliki Tao, kuda perang digunakan untuk membajak ladang. 

Ketika dunia kehilangan Tao, kuda perang melahirkan di medan tempur. 

Tidak ada bencana yang lebih besar daripada ketidakpuasan 

dan tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada ketamakan.

Bab 45. Kesempurnaan yang Tampak Tidak Sempurna

Kesempurnaan besar tampak cacat, namun fungsinya tak pernah habis. 

Kepenuhan besar tampak kosong, namun tak pernah kekurangan. 

Keheningan mengalahkan panas dan ketenangan menjadi standar dunia.

Bab 44. Mengetahui Batas Diri

Mana yang lebih menyakitkan, untung atau rugi? 

Mana yang lebih berharga, diri atau harta? 

Mengetahui kapan harus berhenti akan terhindar dari bahaya. 

Mengetahui kepuasan akan terhindar dari aib. 

Maka seseorang dapat bertahan lama.

Bab 43. Kelembutan Mengatasi Kekerasan

Yang paling lembut di dunia menembus yang paling keras. 

Yang tak berwujud memasuki yang tanpa celah. 

Dari sini diketahui manfaat ajaran tanpa kata dan tindakan tanpa paksaan.

Bab 42. Dari Satu Menuju Segala

Tao melahirkan satu. 

Satu melahirkan dua. 

Dua melahirkan tiga. 

Tiga melahirkan segala sesuatu. 

Segala sesuatu memikul Yin dan merangkul Yang 

dan mencapai harmoni melalui perpaduan keduanya. 

Apa yang dibenci manusia

-kesepian dan kehinaan-

justru digunakan para penguasa untuk menyebut diri mereka.

Bab 41. Tao yang Tampak Bertentangan

Ketika orang bijak mendengar tentang Tao, mereka tekun mempraktikkannya. 

Ketika orang biasa mendengarnya, mereka ragu-ragu. 

Ketika orang rendah mendengarnya, mereka menertawakannya. 

Namun jika Tao tidak ditertawakan, itu bukanlah Tao. 

Tao yang terang tampak gelap, kebajikan besar tampak kosong 

dan bentuk besar tidak memiliki wujud.

Bab 40. Kembali dan Kelemahan Tao

Kembali adalah gerakan Tao. 

Kelemahan adalah cara kerja Tao. 

Segala sesuatu di dunia lahir dari keberadaan, 

dan keberadaan lahir dari ketiadaan.

Bab 39. Kesatuan sebagai Dasar Segala Sesuatu

Sejak zaman kuno, mereka yang mencapai kesatuan: 

Langit menjadi jernih, bumi menjadi tenang, para dewa menjadi ilahi, lembah menjadi subur dan segala makhluk memperoleh kehidupan. 

Para penguasa yang memiliki kesatuan menjadi panutan dunia. 

Yang tinggi berlandaskan pada yang rendah, yang mulia berakar pada yang hina. 

Jangan berkilau seperti batu giok, lebih baik sederhana seperti batu biasa.

Bab 38. Kebajikan Tinggi dan Kebajikan Rendah

Oleh karena itu muncullah kebajikan. 

Kebajikan yang tinggi tidak bertindak dengan dibuat-buat dan bertindak tanpa agenda. 

Kebajikan yang rendah selalu bertindak dengan dibuat-buat dan penuh agenda. 

Ketika Tao hilang, muncullah kebajikan. 

Ketika kebajikan hilang, muncullah kebenaran. 

Ketika kebenaran hilang, muncullah etiket. 

Etiket hanyalah cangkang tipis dari kesetiaan dan ketulusan dan menjadi awal kekacauan. 

Maka orang besar berdiam pada substansi, bukan pada hiasan luarnya.

Senin, 15 Desember 2025

Bab 37. Non-Aksi yang Menyempurnakan Segalanya

Tao senantiasa bertindak tanpa bertindak. Namun tidak ada sesuatupun yang tidak diselesaikannya.

Bila para penguasa mampu berpegang padanya, segala sesuatu akan berubah dengan sendirinya. Setelah perubahan terjadi, bila muncul keinginan untuk bertindak, ia diredam dengan kesederhanaan.

Kesederhanaan yang tanpa nama meniadakan hasrat. Tanpa hasrat, orang menjadi tenang.

Dengan ketenangan itulah dunia menata dirinya sendiri.

Bab 36. Yang Lembut Menang atas yang Keras

Bila ingin mengecilkan sesuatu, biarkan ia mengembang terlebih dahulu. Bila ingin melemahkan sesuatu, biarkan ia menguat lebih dulu.

Bila ingin menyingkirkan sesuatu, biarkan ia berkembang. Bila ingin merebut sesuatu, biarkan ia diberikan lebih dahulu.

Inilah yang disebut pemahaman yang halus dan terang. Yang lembut dan lemah mengalahkan yang keras dan kuat.

Ikan tidak seharusnya meninggalkan airnya. Senjata tajam negara tidak sepatutnya diperlihatkan kepada rakyat.

Bab 35. Daya Tarik Tao yang Sunyi

Siapa yang memegang Tao akan menarik dunia kepadanya. Orang-orang datang tanpa terluka, hidup dalam damai dan tenteram.

Musik dan hidangan memang memikat, membuat orang berhenti sejenak. Namun Tao yang diucapkan terasa hambar dan tak berasa.

Ia tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar dan tak pernah habis digunakan. Justru karena itu, Tao memberi tanpa batas.

Bab 34. Keagungan yang Tidak Mengklaim

Tao mengalir ke mana-mana, ke kiri dan ke kanan. Segala sesuatu bergantung padanya untuk hidup, namun Tao tidak pernah menguasai.

Ia menyelesaikan segalanya, tetapi tidak menganggapnya sebagai miliknya. Ia memberi kehidupan tanpa mengklaim, memelihara tanpa menguasai.

Segala sesuatu kembali kepadanya, namun Tao tidak pernah menempatkan diri sebagai tuan. Karena itu, meski agung, ia tidak pernah merasa besar.

Justru karena tidak pernah menganggap dirinya besar, Tao sungguh menjadi agung.

Bab 33. Menguasai Diri, Kekuatan Sejati

Mengenal orang lain adalah kecerdasan. Mengenal diri sendiri adalah pencerahan.

Menaklukkan orang lain membutuhkan kekuatan. Menaklukkan diri sendiri membutuhkan keteguhan sejati.

Siapa yang tahu merasa cukup adalah orang yang kaya. Siapa yang bertindak dengan ketekunan memiliki kehendak yang kuat.

Siapa yang tidak kehilangan jati dirinya akan bertahan lama. Siapa yang wafat namun tidak lenyap, dialah yang sungguh hidup.

Bab 32. Tao yang Tanpa Nama dan Batas

Tao yang sejati selalu tanpa nama. Meski sederhana dan kecil, tak seorangpun di dunia mampu menaklukkannya.

Bila para penguasa mampu berpegang padanya, segala sesuatu akan tertata dengan sendirinya. Langit dan Bumi akan bersatu menurunkan embun manis dan manusia hidup selaras tanpa paksaan.

Ketika tatanan mulai muncul, nama-namapun lahir. Namun dengan mengetahui adanya nama, orang juga harus tahu kapan berhenti.

Mengetahui kapan harus berhenti akan menghindarkan dari bahaya.

Tao di dunia bagaikan sungai dan lembah yang menuju ke laut. Segala sesuatu mengalir kepadanya dengan sendirinya.

Bab 31. Senjata Bukan Alat Mulia

Senjata adalah alat yang membawa kemalangan. Semua makhluk membencinya. Karena itu, orang yang hidup selaras dengan Tao tidak mengandalkannya.

Dalam keadaan damai, yang kiri dihormati. Dalam peperangan, yang kanan mendapat tempat utama. Senjata hanyalah alat kemalangan, bukan alat seorang bijak.

Ia menggunakannya hanya bila terpaksa, dengan ketenangan dan tanpa kegembiraan. Menikmati kemenangan berarti menikmati pembunuhan manusia.

Siapa yang menikmati pembunuhan tidak akan mampu meraih keinginannya di dunia.

Karena itu, kemenangan dirayakan dengan sikap berkabung. Pembunuhan banyak orang diperlakukan seperti upacara duka.

Bab 30. Kekuatan yang Tidak Mengandalkan Kekerasan

Siapa yang membantu penguasa dengan Tao tidak akan menundukkan dunia dengan kekuatan senjata. Cara semacam itu hanya akan berbalik pada dirinya sendiri.

Dimana pasukan berdiam, disana tumbuh semak dan duri. Setelah peperangan besar, tahun-tahun sulit pasti menyusul.

Karena itu, orang bijak meraih hasil seperlunya dan berhenti. Ia tidak memamerkan keberhasilan, tidak membanggakan diri dan tidak merasa unggul.

Ia meraih hasil karena memang perlu, bukan karena ambisi. Ia berhenti sebelum menggunakan kekerasan.

Segala sesuatu yang melawan Tao akan cepat binasa. Inilah hukum yang telah lama berlaku.

Bab 29. Dunia Tidak Dapat Dikuasai dengan Paksaan

Siapa yang ingin menguasai dunia dan memaksakannya, akan gagal. Dunia adalah sesuatu yang suci dan tidak dapat diperlakukan dengan paksaan.

Siapa yang memaksanya akan merusaknya. Siapa yang menggenggamnya akan kehilangannya.

Karena itu, ada yang melangkah di depan, ada yang tertinggal di belakang. Ada yang menarik napas panjang, ada yang terengah. Ada yang kuat, ada yang lemah. Ada yang menjulang, ada yang runtuh.

Orang bijak menghindari sikap berlebihan, kemewahan dan kesombongan.

Bab 28. Menjaga Kelembutan di Tengah Kekuatan

Kenalilah yang jantan, namun peganglah yang betina. Dengan demikian engkau menjadi lembah bagi dunia.

Dengan menjadi lembah bagi dunia, kebajikan sejati tidak akan meninggalkanmu dan engkau akan kembali seperti seorang bayi.

Kenalilah yang terang, namun peganglah yang gelap. Dengan demikian engkau menjadi teladan bagi dunia.

Dengan menjadi teladan bagi dunia, kebajikan sejati tidak akan menyimpang dan engkau akan kembali pada yang tanpa batas.

Kenalilah kehormatan, namun peganglah kehinaan. Dengan demikian engkau menjadi lembah bagi dunia.

Dengan menjadi lembah bagi dunia, kebajikan sejati akan tercukupi dan engkau akan kembali pada kesederhanaan.

Saat kesederhanaan terurai, terbentuklah alat-alat. Ketika orang bijak menggunakannya, ia menjadi pemimpin. Karena itu, pemotongan besar tidak pernah melukai.

Bab 27. Kebijaksanaan yang Tidak Meninggalkan

Orang yang pandai berjalan tidak meninggalkan jejak. Orang yang pandai berbicara tidak meninggalkan cela. Orang yang pandai berhitung tidak membutuhkan alat hitung.

Orang yang pandai menutup tidak memerlukan palang atau kunci, namun tak seorangpun dapat membukanya. Orang yang pandai mengikat tidak memakai tali, namun tak seorangpun dapat melepaskannya.

Karena itu, orang bijak selalu pandai menjaga manusia dan tidak pernah menolak siapapun. Ia juga pandai menjaga segala sesuatu dan tidak menyia-nyiakannya.

Yang baik menjadi guru bagi yang belum baik. Yang belum baik menjadi bahan pelajaran bagi yang baik. Tidak menghargai guru dan tidak menyayangi pelajaran, meski tampak cerdas, sesungguhnya adalah kesesatan besar.

Inilah inti ajaran yang halus dan mendalam.

Bab 26. Ketenangan sebagai Akar Kekuatan

Yang berat adalah akar dari yang ringan. Ketenangan adalah penguasa dari kegelisahan.

Karena itu, orang bijak menempuh perjalanan sepanjang hari tanpa meninggalkan beban yang berat. Meski ada pemandangan indah dan tempat peristirahatan yang mewah, ia tetap tenang dan tidak terbuai.

Bagaimana mungkin penguasa sepuluh ribu kereta bersikap enteng terhadap dunia? Bersikap ringan berarti kehilangan akar. Bersikap gelisah berarti kehilangan kendali.

Karena itu, orang bijak tetap teguh dan melampaui godaan.

Bab 25. Tao Yang Mendahului Langit dan Bumi

Ada sesuatu yang terbentuk sebelum Langit dan Bumi. Ia hening dan tanpa bentuk, berdiri sendiri dan tidak berubah. Ia berputar tanpa henti dan tidak pernah lelah.

Ia dapat disebut sebagai ibu dari segala yang ada di dunia. Aku tidak mengetahui namanya, terpaksa aku menyebutnya Tao. Bila harus menggambarkannya, aku menyebutnya agung.

Agung berarti bergerak terus, bergerak berarti menjauh dan menjauh berarti kembali.

Karena itu, Tao itu agung. Langit itu agung. Bumi itu agung. Manusia juga agung. Di alam semesta ada empat yang agung dan manusia adalah salah satunya.

Manusia mengikuti hukum Bumi. Bumi mengikuti hukum Langit. Langit mengikuti hukum Tao. Tao mengikuti kodratnya sendiri.

Bab 24. Kesombongan Menjauhkan dari Tao

Mereka yang berjinjit tidak dapat berdiri lama. Mereka yang melangkah terlalu lebar tidak dapat berjalan jauh.

Mereka yang memamerkan diri tidak akan terlihat jelas. Mereka yang membenarkan diri tidak akan diakui. Mereka yang menyombongkan diri tidak akan bertahan lama.

Bagi mereka yang hidup dalam Tao, sikap semacam itu bagaikan sisa makanan atau penyakit—sesuatu yang dihindari oleh semua makhluk.

Karena itu, orang yang mengikuti Tao tidak melekat pada hal-hal tersebut.

Bab 23. Sedikit Bicara, Selaras dengan Alam

 Jarang berbicara adalah sifat alami Tao. Angin kencang tidak bertiup sepanjang pagi, dan hujan deras tidak turun sepanjang hari.

Apa yang membuatnya demikian? Langit dan Bumi. Bahkan Langit dan Bumi pun tidak berlangsung selamanya, apalagi manusia.

Karena itu, mereka yang mengikuti Tao menyatu dengan Tao. Mereka yang mengikuti kebajikan menyatu dengan kebajikan. Mereka yang mengikuti kehilangan, akan menyatu dengan kehilangan.

Siapa yang menyatu dengan Tao, Tao pun menerimanya. Siapa yang menyatu dengan kebajikan, kebajikan pun menerimanya. Namun siapa yang kurang percaya, tidak akan memperoleh kepercayaan.

Kurangnya keyakinan melahirkan ketidakpercayaan.

Bab 22. Utuh melalui Kerendahan Hati

Yang menekuk akan tetap lurus. Yang merendah akan menjadi penuh. Yang usang akan diperbarui. Yang sedikit justru akan menerima lebih banyak.

Karena tidak menonjolkan diri, ia tampak jelas. Karena tidak membenarkan diri, ia diakui. Karena tidak menyombongkan diri, ia bertahan lama.

Orang bijak berpegang pada Yang Satu dan menjadikannya teladan bagi dunia. Karena ia tidak bersaing, tak seorangpun mampu menandinginya.

Apa yang disebut orang-orang dahulu sebagai “menjadi utuh” bukanlah kata kosong. Dengan keutuhan itulah seseorang kembali pada dirinya sendiri.

Bab 21. Hakikat Tao yang Samar namun Nyata

Tao tampak kabur dan sulit dipahami. Ia seakan tidak jelas dan tak berbentuk. Namun siapa yang mengikutinya akan menemukan bahwa didalamnya tersimpan esensi sejati.

Dari Tao lahir kebajikan yang agung. Meski tampak samar, didalamnya ada substansi yang nyata dan keyakinan yang dapat dipercaya.

Sejak zaman kuno hingga sekarang, nama Tao tidak pernah lenyap. Dengannya kita dapat mengamati asal-usul segala sesuatu.

Bagaimana aku mengetahui hakikat asal itu? Dengan Tao itu sendiri.

Bab 81. Kebenaran dan Kebajikan

Kata-kata yang benar tidaklah indah,  kata-kata yang indah tidak selalu benar.  Orang bijak tidak menimbun,  semakin ia memberi, semakin ia ...