Selesailah dengan masa lalu, kecuali jika engkau selesai dengan masa lalu, engkau menjalani kehidupan seperti hantu. Hidupmu tidak nyata, ia tidak mendasar. Masa lalu hidup melaluimu, yang mati terus menghantuimu. Mundurlah kebelakang, kapan un engkau memiliki kesempatan, kapanpun sesuatu terjadi didalam dirimu.
Kebahagiaan, ketidakbahagiaan, kesedihan, kemarahan, kecemburuan, tutuplah mata dan mundurlah ke belakang. Segera engkau akan menjadi efisien dalam melakukan perjalanan kebelakang. Segera engkau akan mampu kembali kemasa lalu,dan kemudian banyak luka akan terbuka.
Ketika luka itu terbuka didalam dirimu, jangan mulai melakukan apapun. Tidak perlu melakukan apapun. Engkau hanya menonton, melihat, mengamati. Luka itu ada disana, engkau hanya mengamati, berikanlah energi pengamatanmu kepada luka itu, lihatlah luka itu. Lihatlah padanya tanpa penghakiman karena jika engkau menghakimi, jika engkau berkata, "Ini buruk, ini seharusnya tidak demikian", luka itu akan tertutup lagi. Maka luka itu akan harus bersembunyi.
Setiap kali engkau mengutuk, maka pikiran mencoba menyembunyikan sesuatu. Begitulah kesadaran dan ketidaksadaran tercipta. Jika tidak, pikiran itu satu, tidak perlu pembagian apapun. Tetapi engkau mengutuk maka pikiran harus membagi dan meletakkan segala sesuatu dalam kegelapan, di ruang bawah tanah sehingga engkau tidak bisa melihatnya dan kemudian tidak perlu lagi untuk mengutuk.
-Osho
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bab 81. Kebenaran dan Kebajikan
Kata-kata yang benar tidaklah indah, kata-kata yang indah tidak selalu benar. Orang bijak tidak menimbun, semakin ia memberi, semakin ia ...
-
Ketika seseorang memutuskan untuk berjalan kesebuah tempat, dia memiliki pikiran rasional, misalnya, “Apabila aku pergi kesana, kepergianku ...
-
Mendengar sesuatu terus-menerus sama baiknya dengan melihatnya. Sebagai contoh, ibu atau bapakmu mengatakan padamu bahwa mereka telah mela...
-
Sebuah pertanyaan telah diajukan berkenaan dengan makna bait puisi ini: Ah, saudara, sebenarnya engkau hanyalah gagasan, Selainnya, hanyalah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar