Perang Bubat merupakan peristiwa pertempuran antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran. Raja Majapahit, Hayam Wuruk begitu tertarik melihat gambar Dyah Pitaloka, Putri Pajajaran dan mengirim utusan untuk melamarnya.
Rombongan Kerajaan Pajajaran Raja dan keluarganya pergi ke Majapahit dengan kapal, berlabuh di pelabuhan dan pergi ke Trowulan. Di Lapangan Bubat mereka membuat kemah, tempat ini adalah pasar.
Gajah Mada, Mahapatih Majapahit menghendaki agar kedatangan Dyah Pitaloka sebagai selir raja Hayam Wuruk sebagai bukti ketundukan Pajajaran atas Majapahit, tetapi pihak Pajajaran menolaknya dan menuntut putrinya menjadi ratu Majapahit. Bentrokan antara Pajajaran dan Majapahit terjadi. Semua orang Pajajaran tewas dalam pertempuran. Pitaloka kemudian bunuh diri. Raja Hayam Wuruk sangat sedih dengan tragedi ini dan menyalahkan Gajah Mada dengan tragedi ini.
Gajah Mada ingin semua kerajaan di Indonesia menjadi pengikut Majapahit tetapi hanya Pajajaran yang tersisa. Pilihan perang seperti ke Bali, Nansarunai di Kalimantan Selatan, dan Palembang beberapa kali gagal hingga muncul pilihan menikah politik.
Setelah tragedi ini, Majapahit dan Pajajaran membuat perjanjian damai dan membuat candi di perbatasan kerajaan, Tegal. Tetapi banyak orang Jawa melihat permusuhan ini masih terjadi sampai sekarang di mana orang Jawa tidak mengizinkan menikah dengan orang Sunda, hingga Sultan Yogyakarta sebagai penerus Majapahit menulis nama Sunda di Yogyakarta dengan Gubernur Jawa Barat sebagai lambang perdamaian.
Kidung Sundayana menceritakan kisah ini dengan sangat detail tetapi Negarakartagama tidak menceritakannya karena kemungkinan khawatir akan melukai Raja Hayam Wuruk. Beberapa orang berpikir ini adalah fiksi karena mereka pikir Belanda membuat cerita ini untuk memecah belah Jawa dan Sunda, tetapi kemungkinan cerita ini benar karena banyak aspek mendukungnya.
Senin, 04 Maret 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bab 81. Kebenaran dan Kebajikan
Kata-kata yang benar tidaklah indah, kata-kata yang indah tidak selalu benar. Orang bijak tidak menimbun, semakin ia memberi, semakin ia ...
-
Ketika seseorang memutuskan untuk berjalan kesebuah tempat, dia memiliki pikiran rasional, misalnya, “Apabila aku pergi kesana, kepergianku ...
-
Orang yang baru saja datang itu adalah kekasih yang memiliki kerendahan hati. Sifatnya memang demikian. Dia seperti cabang yang memiliki dem...
-
Mendengar sesuatu terus-menerus sama baiknya dengan melihatnya. Sebagai contoh, ibu atau bapakmu mengatakan padamu bahwa mereka telah mela...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar